Hukuman Buat si Zul Sudah Dijatuhkan

Tadi siang saya terima email dari rektorat — yang dikirim via milis dosen – yang menyatakan bahwa SK Rektor ITB tentang hukuman buat Dzulfikry Imadul Bilad alis si Zul sudah keluar. Seperti diketahui si Zul tersandung kasus rasisme yang dianggap menghina orang Papua (baca beberapa tulisan sebelum ini).

Isi SK Rektor tersebut menyatakan bahwa Si Zul diberi sanksi berupa pencabutan sementara status kemahasiswaanya selama 3 (tiga) semester berturut-turut terhitung mulai Semester I tahun 2010/2011. Selain itu si Zul juga mendapat hukuman tambahan berupa:
1. Tugas keprofesian yang akan diberikan dan diatur oleh Ketua Program Studi Kimia, FMIPA ITB;
2. Tugas sosial yang akan diberikan dan diatur oleh Kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB;
3. Melakukan konsultasi psikologi di unit Bimbingan & Konseling ITB selama masa penerapan sanksi.

Masa penerapan hukuman itu dapat dikurangi jika dari hasil evaluasi ternyata Zul berkelakuan baik, namun jika melanggar lagi maka si Zul terancam dicabut secara permanen status kemahasiswaannya.

Si Zul memang salah sehingga dia mendapat dihukum. Meskipun aneh saja menurut saya — dan juga menurut sebagian kolega dosen — kenapa dia harus dihukum oleh ITB, padahal dia melakukan rasisme itu di luar kampus dan tindakannya itu sama sekali tidak terkait dengan status kemahasiswaannya itu. Entahlah, apakah lingkungan RT/RW tempat si Zul tinggal juga memberi hukuman karena dia warga RT/RW tersebut? Dimanakah logika?

Kasihan si Zul, harus menjalani hukuman yang berat itu. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin inilah takdir yang harus diterimanya. Semoga tabah, Zul.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

10 Balasan ke Hukuman Buat si Zul Sudah Dijatuhkan

  1. dhimasln berkata:

    iya aneh. kalo dihukum 3 semester ga nonton pertandingan Persib itu baru wajar

  2. Habib berkata:

    Saya setuju dengan Pak Rin. Saya pikir memang seharusnya ITB tidak perlu ikut memberi hukuman bagi Zul. Mungkin hukuman yang lebih pantas adalah pencabutan status sebagai pengguna facebook selama tiga semester🙂

  3. harikuhariini berkata:

    Kalau saya setuju, jika pihak ITB memberikan sanksi. Cuman sanksi yg dijatuhkan ke Zul itu terlalu berat..
    Bagaimanapun, fungsi perguruan tinggi bukan hanya mendidik intelektual tapi juga mendidik moral. Tindakan si Zul itu kemungkinan akan menjadi bibit perpecahan di Indonesia.

    Seandainya kampus ITB bertindak seolah olah tidak tahu tentang kasus Zul, maka ITB gagal menciptakan warga negara Indonesia yg Pancasilais.

  4. cape berkata:

    kayaknya terlalu berat ya pak,kasian.

  5. Ping balik: makan menyehatkan « Fafadieva's Blog

  6. rosa berkata:

    Hidup adalah pilihan, dan semua pilihan memiliki nilai plus dan minus. Zul telah memilih untuk rasisme, maka resiko ini harusnya dipikirkan dalam menjatuhkan sebuah pilihan hidup.

  7. ismailsunni berkata:

    saya juga bingung sama ITB… kesannya mas Zul sekadar dijadikan bemper ITB, biar terlihat ada kebijakan yang diambil. Atau mau cari muka ITBnya ?

  8. phy berkata:

    aneh juga ya. pendidikan itu hak fundamental, semestinya tidak semudah itu dilarang karena satu dua kesalahan yang tidak ada kaitannya dengan dunia akademik. prihatin.

  9. okky berkata:

    Bagaimanapun juga dia telah melanggar beberapa poin peraturan yang berlaku di ITB, sehingga diproses oleh komisi disiplin, dan pada akhirnya diputuskan untuk dijatuhkan beberapa sanksi kepada dia. Saya pikir tidak ada yang salah dengan hal ini.

  10. rahadian berkata:

    ini bukti pelajaran berharga bagi siapapun..bahwa apapun latar belakang seseorang, bukan berarti kita bisa menginjak2 harga diri seseorang..Kaya, miskin, ganteng, jelek, hitam, putih, papua, batak, jawa, sunda, aceh, betawi, itu tidak ada bedanya di mata sang Khalik..Mari kita belajar untuk selalu menghargai orang lain..

    Anda pintar, dan sok2-an..mending kelaut aja, bung..
    Anda kaya, dan sok2-an, mending mati sekarang aja..karna ga ada gunanya untuk hidup!
    Anda ganteng, anda Sunda, anda Jawa, anda Aceh, Anda Batak..tapi sok2-an mending bunuh diri aja cepat2..karena memang tidak ada gunanya untuk hidup lagi!

    Semoga ITB dengan plularisme nya tetap berjaya, seperti dulu hingga kapan pun..

    In Harmonio Progressio..

    Salam !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s