Jangan Sia-siakan Masa Kecil Anak

Setiap kali saya mau pergi untuk urusan sebentar (ke warung, ke pasar swalayan, ke toko, dan sebagainya), anak saya selalu minta ikut. Mau ikuutt…, katanya. Jadilah saya memboncengi anak dengan sepeda motor bertiga, kadang berempat kalau semuanya minta ikut, kayak akrobat saja. Padahal tempat yang saya tuju tidak jauh jaraknya, paling jauh cuma 500 meter, tetapi ya itulah, mereka selalu minta ikut.

Kadang-kadang terasa repot harus membawa mereka kemana-mana. Kadang-kadang saya ingin pergi sendiri saja, tetapi dasar anak-anak, jika tidak dikabulkan keinginannya (tidak diajak ikut), maka keluarlah jurus saktinya: menangis keras, hingga akhirnya saya luluh saja membawanya.

Dulu, ketika anak pertama saya masih balita, saya selalu pergi diam-diam dari rumah supaya tidak ketahuan. Seperti main petak umpet saja rasanya, kucing-kucingan dengan anak. Kalau dia tahu, waahh… dia pasti menangis minta ikut. Masa harus dibawa ke tempat kerja segala, tentu tidak mungkin.

Lama-lama saya sadar untuk tidak menyia-nyiakan masa kecil anak itu. Sekarang dia masih mau dibawa ikut dan selalu minta turut. Tetapi, kalau sudah besar nanti, kalau mereka sudah remaja, maka pasti sudah sangat susah memintanya ikut pergi bersama orangtuanya. Mereka sudah punya acara sendiri, sudah punya jadwal sendiri. Mungkin mereka sudah merasa malu kalau kemana-mana masih bersama orangtuanya. Mungkin mereka tidak akan pernah minta ikut seperti waktu kecil dulu. Jadi, kalau sekarang anak saya selalu minta ikut kemana saya pergi, maka dengan senang hati saya membawanya, sebelum tiba pada suatu masa dimana mereka tidak mau lagi ikut dengan kita.

Ada lagi cerita betapa masa kecil seorang anak itu sangat penting. Suatu hari anak saya minta dijemput pulang sekolah, padahal saya lagi sibuk-sibuknya menyelesaikan laporan disertasi di rumah. Nanti dijemput ya yah…, katanya. Waduh, kan bisa pulang sendiri naik beca, kata saya. Saya selalu memberinya ongkos beca untuk pulang sekolah, jadi dia tinggal mencari si mang langganan beca yang menunggu di depan sekolah untuk mengantarkannya pulang ke rumah (jarak dari rumah ke sekolah hanya 500 meter saja). Bosan naik beca terus, jawab anak saya. Ups… saya segera tersadar. Yang diinginkan si anak sebenarnya adalah perhatian orangtua. Mungkin dia lihat anak-anak lain dijemput pulang oleh orangtuanya, sementara dia cuma naik beca. Padahal naik beca atau naik motor sama saja, tujuannya adalah pulang ke rumah. Tetapi, pasti ada bedanya kalau yang menjemputnya adalah ayahnya, bukan mang beca. Saya pun meninggalkan urusan saya dan meluangkan waktu untuk menjemputnya pulang sekolah. Kalau dia sudah remaja atau sudah mahasiswa nanti tentu dia tidak mau lagi dijemput pulang sekolah/kuliah, mungkin dia lebih suka pulang atau pergi kemana dulu dengan teman-temannya.

Tetangga saya anak-anaknya sudah remaja. Kalau sudah datang hari Sabtu dan Minggu, tinggallah mereka berdua saja di rumah. Anak-anaknya yang remaja sudah keluar rumah karena sudah mempunyai acara masing-masing dengan teman-temannya. Ketika sore atau malam barulah mereka pulang. Saya pun merasa nanti akan seperti itu juga, akan kesepian ditinggal anak-anak. Mumpung anak masih kecil, maka tidak saya sia-siakan kesempatan untuk selalu bersama mereka di rumah dan menemaninya kemana mereka minta pergi.

Orangtua harus menyadari masa kecil anak itu hanya datang sekali. Banyak orangtua tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan waktu berharga dengan anak-anaknya. Sibuk bekerja dijadikan alasan untuk melewatkan waktu dengan anak, tidak sempatlah, banyak urusanlah. Padahal, waktu berjalan begitu cepat dan tanpa kita sadari anak-anak sudah besar dan kita merasa semakin tua. Mereka mungkin tidak terlalu membutuhkan kita lagi karena mereka sudah mandiri. Tinggallah orangtua malang yang di masa muda menghabiskan waktu untuk kepentingan sendiri, tetapi ketika sudah datang hari tua dirundung sepi ditinggal anak-anaknya tanpa merasa dekat dengannya.

Masa anak masih kecil adalah masa golden age. Kedekatan orangtua dengan anak pada masa kecilnya sangat menentukan kelak hubungan diantara mereka ketika dewasa. Jika semasa kecil orangtua tidak berusaha mengikat tali batin anak, jangan harap ketika dewasa si anak dekat dengan orangtuanya. Biarpun serumah dengan anak sendiri, tetapi secara emosi terasa begitu jauh.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

15 Balasan ke Jangan Sia-siakan Masa Kecil Anak

  1. munir ardi WP berkata:

    mari menjaga keluarga kita dengan sebaik-baiknya agar mereka mendapat cukup perhatian dan bisa tumbuh dengan baik

  2. ady wicaksono berkata:

    setuju pak, saya kalau inget hal ini jadi suka sedih juga😦, tapi bagaimana lagi itu akan terjadi, memang jangan sia2kan, masa2 bisa bobok sama anak, meluk2 anak, cium2 anak, anak saya sudah bisa nolak skrg… bapak jangan cium😀

    • rinaldimunir berkata:

      Betul Ady, itu suatu cara mendekatkan hubungan batin dengan anak dan memberikan cinta kasih sayang kepada anak. Rasulullah berkata dalam sebuah hadis agar kita selalu mencium anak:

      Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu, karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga”. (H.R. Bukhari)

      Dikisahkan, bahwa Abu Hurairah berjalan keluar bersama Rasulullah SAW. Selama di perjalanan, Rasululullah SAW tidak berbicara dengan Abu Hurairah, begitu pun sebaliknya, Abu Hurairah pun tidak berbicara dengan Rasulullah SAW. Ketika sampai di pasar Bani Qainuqa, Rasulullah duduk di perkarangan rumah Fatimah, lalu berkata: Apakah terdapat anak-anak di sana? Tidak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil menghampiri Rasulullah, lalu Rasulpun memeluk dan menciumnya sambil berdoa: “Ya Allah …! sayangilah dia dan sayangi pula orang yang menyayanginya”. (H.R. Bukhari)

  3. winar berkata:

    Anak2 kita adalah investasi mas depan yang tak ternilai garganya….maka dari itu mari mas didik anak2 kita dengan nilai2 akherat…jangan banyak retorika saja…tapi bagaimana ortu sebagai contoh yang baik jangan sampai bapak kencing berdiri anak kencing berlari……salam kenal….trims

  4. Zulfikar berkata:

    Iya Pak, sekarang aja ketika mahasiswa ketika Ibu minta ditemani untuk rekreasi saya sering tidak bisa :((

    Kadang merasa bersalah, mungkin beliau kesepian. Tapi di sisi lain saya sedang kerja praktek (walaupun remote). :((

  5. dhimasln berkata:

    nice artikel Pak. Moga saya bisa punya lebih banyak waktu dengan anak-anak…. nanti😀

  6. rosa berkata:

    Ini memang dilema Pak, kadang orang tua bingung mereka banting tulang buat anak atau buat mereka sendiri??? karena alasan buat anak sering digunakan. Anak sholeh dan sholehah tumbuh dari orang tua yang amanah. Untung anak saya masih mau dicium😀. Bagi saya anak saya masih saja bayi padahal sudah mau sekolah TK😀.

  7. Rizky Mukhlisin berkata:

    Terimakasih pak atas artikelnya pak. Insyaalloh waktu saya dengan anak2 saya yang sekarang masih berusia 2 tahun akan saya maksimalkan… Sebelum mereka tiba2 jadi remaja…

    Salam kenal pak….🙂

  8. Ping balik: Bakti Anak Pada Orang Tua « Aswin’s Blog

  9. rifki berkata:

    Waah.. Pak Rin, hihihi banyak yg mirip…
    anak saya juga gitu, minta ikuut melulu..😛
    saya juga suka sering kaya main petak umpet terutama pas mau ke musholla.. yg ini bingung karena di musholla kan kita sholat, anak2 tetap disuruh sholat, tapi prakteknya lari kesana kemari dg teman-temannya, ada yg nangis segala, jadi khawatir kalo terjadi apa2 saat kita sedang sholat.. tapi akhirnya diserahkan aja deh semuanya kepada Allah saat sedang sholat itu.

    alhamdulillah saya juga tersadarkan seperti Bapak. mumpung masih mau ikut. juga kalau minta gendong.. biar sudah tambah berat sekarang, biar dua-duanya minta digendong.. gendong aja deh..

  10. fy berkata:

    nice artikel pak. boleh disharing gak pak?

  11. captivity of negativity berkata:

    saya terinspirasi dengan cerita Anda, kebetulan saya juga ayah dari dua orang balita yang sedang lucu2nya. Ijin share ya pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s