Bekerja dengan Hati

Ketika selesai berbelanja di Pasar Baru Bandung, saya dengan ibu yang datang dari Padang makan siang di arena food court di lantai paling atas pasar itu. Banyak sekali gerai makanan di arena itu, mulai dari makanan tradisional hingga makanan asing. Baru saja masuk ke arena itu kami sudah dirayu oleh para pegawai gerai untuk mampir dan makan di tempat mereka. Bingung juga ya memilihnya, dan yang bikin pusing rayuan para pegawai itu. Akhirnya kami memilih sebuah gerai tradisionil setelah melihat spanduknya yang menarik dengan foto makanan yang menggoda selera. Ibu saya memesan nasi goreng, sementara saya memesan nasi dan ikan mas goreng cobek. Setelah mencoba beberapa suap makanan itu, uff… saya kecewa sekali. Rasanya biasa-biasa saja, kurang enak gitu. Apalagi nasi goreng yang dipesan ibu saya, seperti nasi yang ditambah kecap saja. Tidak ada aroma bumbu di dalam nasi goreng itu. Sebagai orang yang bisa memasak, saya menduga tukang masak nasi gorengnya hanya menggunakan seiris dua iris bawang putih, lalu garam, dan kecap. Benar-benar sangat minimalis. Niat nggak sih berjualan makanan kalau minimalis begitu? Asal-asalan saja memasaknya. Sudah harganya mahal, nggak enak lagi. Cukup sekali makan di tempat itu, saya tidak mau lagi

Saya teringat dengan pedagang pepes nasi yang biasa saya kunjungi. Nasi pepesnya enak banget, mantap. Bumbu-bumbunya meresap, terasa gurihnya. Saya memuji jualan si bapak itu, sebab di tempat lain pepes nasi yang saya beli rasanya biasa-biasa saja. Si bapak pedagang itu menjawab kalau dia memang dengan niat sepenuh hati menghadirkan masakan yang enak bagi pembeli. Pembeli terpikat dengan rasa makanannya, lalu datang lagi, dan datang lagi. Banyak orang berjualan makanan di kota ini, tetapi tidak menimbulkan kesan setelah makan. Kalau untuk sekedar memenuhi rasa lapar sih iya, memang mengenyangkan, tetapi bagi penikmat makanan mungkin itu yang pertama dan terakhir makan di tempat itu. Orang tidak akan datang lagi, kapok.

Kata-kata si bapak pedagang pepes nasi tadi terngiang terus di telinga saya. Bekerja dengan hati, itu kuncinya. Memasak makanan itu tidak hanya sekadar menggunakan bumbu dan resep yang enak, tetapi harus melibatkan hati agar masakan terasa enak. Memasak harus sepenuh hati, memang betul-betul diniatkan dengan sungguh-sungguh agar pembeli puas. Di sebuah kedai mandarin (halal) yang saya kunjungi, saya melihat sebenarnya bumbu-bumbunya sudah mencukupi untuk menjadi hidangan mandarin yang enak. Tetapi si tukang masaknya saya terlihat asal-asalan saja memasak nasi goreng seafood pesanan saya. Dari gelagatnya memasak saya sudah menduga jika nasi goreng pesanan saya tidak akan enak. Tidak sampai 2 menit nasi goreng selesai. Nasi goreng apaan itu, dimasaknya terburu-buru dengan api besar. Nasi goreng yang gosong, baru dua sendok saya tidak melanjutkan makan. Minggu lalu saya lihat kedai hidangan mandarin ini sudah tutup karena merugi tidak ada pembeli. Pantesan saja, kata saya dalam hati, orang tidak akan datang lagi ke kedainya setelah tahu masakannya tidak enak.

~~~~~~~~~

Begitu pula kita dalam bekerja. Bekerja itu harus melibatkan hati, tidak bisa asal selesai tugas begitu saja. Bekerja dengan sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Apalagi bagi sebagian besar orang di kota yang bekerja dalam sektor pelayanan dan jasa, sangat penting mengikat pelanggan agar datang lagi dan datang lagi. Kuncinya adalah memberikan pelayanan yang terbaik pada setiap orang yang datang. Kita mungkin pernah punya pengalaman tidak mengenakkan karena pernah dilayani oleh pegawai suatu kantor atau toko dengan jutek dan tidak ramah. Apa akibatnya? Kita merasa kecewa dan kapok datang dan berurusan ke sana lagi.

Bekerja dengan hati artinya totalitas dalam bekerja. Bahasa lainnya adalah dedikasi. Doing the best, berikan yang terbaik bagi orang lain. Seorang guru atau dosen misalnya harus memiliki dedikasi agar menjadi pengajar dan pendidik yang baik sehingga nanti selalu dikenang oleh anak didiknya karena memberikan kesan mendalam. Mahasiswa bisa menilai mana dosennya yang mengajar dengan dedikasi, mana yang hanya menjadikan mengajar sebagai profesi sambilan. Waktu saya menjadi mahasiswa saya pernah diajar dosen yang sepertinya mengajar tidak diniatkan dan tanpa persiapan. Apa yang ada dalam pikirannya itulah yang dia terangkan pada hari itu. Materinya melompat-lompat dan membingungkan. Mungkin dosen ini banyak proyek kali sehingga dia mengajar asal-asalan tanpa persiapan, pikir saya. Saya sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dalam kuliahnya, saya lebih paham membaca buku teks daripada mendengarkan kuliahnya. Malah, ketika UTS dosen tersebut tidak membuat lembar soal seperti dosen lainnya, tetapi baru pas dia masuk kelas dia menuliskan dua buah soal ujian di papan tulis. Benar-benar tanpa persiapan. Ketika saya menjadi dosen, saya belajar dari kasus itu dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ketika saya mengikuti pendidikan prajabatan pegawai negeri sipil, seorang instruktur menceritakan pengalaman dosennya ketika dia mengambil kuliah di Eropa. Dosennya seorang profesor yang berdedikasi tinggi dalam memberikan kuliah. Satu jam sebelum profesor itu mengajar, dia tidak mau diganggu siapapun. Kamar kerjanya tertutup dari menerima kunjungan. Selama satu jam itu dia melakukan persiapan kuliah, termasuk memikirkan apa saja kata-kata yang hendak dia lontarkan dalam kuliah nanti, apa saja contoh dan studi kasus yang akan diberikan dalam kuliah, dan sebagainya. Bahkan, dia juga memikirkan joke-joke apa yang akan dia lemparkan kepada mahasiswanya supaya kuliahnya, pada menit keberapa dia lontarkan joke-joke itu. Wah… luar biasa profesor ini, kata saya.

Kalau semua orang seperti profesor itu, yaitu bekerja dengan penuh dedikasi, maka kita tidak akan merasakan pengalaman mengecewakan lagi ketika berhubungan dengan orang lain. Setiap orang bekerja memberikan yang terbaik bagi orang lain. Oleh karena itu, sangat penting melibatkan hati sepenuhnya dalam bekerja. Percaya atau tidak, bekerja sepenuh hati akan melahirkan rasa ikhlas. Ikhlas artinya belkerja sepenuh jiwa dan raga tanpa ada maksud pribadi seperti mengharapkan pujian dan sebagainya. Kalau sudah ikhlas dalam bekerja, apalagi pencapaian tertinggi yang dicari dalam hidup ini ya?

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Bekerja dengan Hati

  1. Zakka berkata:

    Mengerjakan tugas kuliah juga harus dengan hati Pak?😀

  2. cape berkata:

    jadi inget dosen saya pak.dosen masih muda,salah satu yg termuda di jurusan saya.dengar2 dia lagi sibuk,banyak proyek.imbasnya ke kita mahasiswa.mana ngajarnya emang (menurut saya) kurang enak,terlalu bertele2,ditambah pula jarang masuk (ngajar).sekali masuk langsung kuis,ntah apa bahan yg dia ajarkan saya ngga ngerti.ujian juga bikin soal susah setengah mati,yg ngga pernah dia ajarin pun dikeluarin.alhasil saya dapet D,harus ngulang taun depan.ada 13 orang di kelas yg harus ngulang.ingin mengadu tapi tak tau mau mengadu kemana.

    apa dosen seperti itu termasuk yg tak bekerja sepenuh hati juga ya?
    bukan saya nyalahin dosen sih,tapi saya ngerasa effort saya dan temen2 udah cukup besar di mata kuliah itu (dibandingkan mata kuliah laen).

    dibalik itu,masih bersyukur,taun depan ngulang,semoga dapet ilmu dan nilai yg bagus.

  3. Ridwan berkata:

    Benar jg sgala apapun harus di kerjakan dengan sebaik mungkin dan penuh kehati2an agar di perlukan hasil yg maksimal….

  4. rosa berkata:

    Hidup adalah pilihan termasuk pilihan jadi dosen sepenuh hati atau tidak😀. Semua pilihan manusia harus dihormati karena setiap manusia mempunyai prioritas dalam hidupnya.

  5. wildan muhlis berkata:

    emang bener, “semua amalan tergantung pada niatnya” ketika kita bekerja dengan hati, maka niat kita akan tulus dan pekerjaan yang dihasilkan akan optimal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s