Mengabdi Menjadi Dosen di Perguruan Tinggi Daerah

Minggu lalu seorang mantan mahasiswa saya yang sudah lulus S1 dan S2 di Informatika ITB meminta surat rekomendasi untuk melamar menjadi dosen di jurusan Teknik Informatika/Ilmu Komputer di beberapa perguruan tinggi di daerah. Saya sangat senang memberikan surat rekomendasi tersebut, sebab semakin banyak mitra dengan mantan mahasiswa kami nanti yang menjadi pendidik seperti kami di perguruan tinggi luar ITB.

Menjadi dosen memang bukan pilihan populer alumni Informatika ITB. Godaan karir yang menantang di dunia TI, ditunjang oleh penghasilan/gaji yang wah membuat mereka lebih tertarik bekerja di perusahaan besar atau perusahaan asing, atau membuat perusahaan software house sendiri. Sebagian besar alumni kami larinya ke Jakarta juga, karena di sanalah bersarang perusahaan-perusahaan besar. Tetapi akhir-akhir ini kecendrungan menjadi TKI di luar negeri pun sangat tinggi, terbukti banyak alumni Informatika ITB yang bekerja di Singapura, Eropa, Dubai, dan sebagainya.

Sebenarnya yang berminat menjadi dosen cukup banyak juga, namun tentu tidak semua bisa ditampung di ITB karena kapasitasnya sangat terbatas. Apalagi untuk menjadi dosen di ITB harus mempunyai kualifikasi S3. Bagi lulusan baru jelas butuh waktu yang cukup lama, harus kuliah S2 dan S3 dulu, baru bisa melamar di ITB.

Nah, menjadi dosen di perguruan tinggi di daerah kenapa tidak? Yang saya maksud perguruan tinggi daerah adalah perguruan tinggi yang berada di luar kota-kota besar di Jawa seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Untuk menjadi dosen di perguruan tinggi (selain ITB) saat ini kualifikasinya harus sudah S2. Nah, banyak juga alumni kami yang sudah mengambil S2, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagian mereka ada yang tertarik menjadi dosen di perguruan tinggi di daerah. Alasannya macam-macam, mulai dari keinginan mengabdi di kampung halaman, dekat dengan keluarga, dan sebagainya.

Faktanya saat ini perguruan tinggi di daerah banyak sekali yang membuka jurusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, atau Sistem Informasi, baik di PTN maupun di PTS. Jika berada di Fakultas Teknik, maka ia bernama jurusan Teknik Informatika atau Sistem Informasi, tetapi jika berada di bawah bendera MIPA ia bernama Ilmu Komputer. Menariknya, setiap ada pembukaan jurusan baru yang bernama Informatika atau Ilmu Komputer itu, maka jurusan baru tersebut langsung melejit menjadi jurusan favorit dengan memiliki peminat calon mahasiswa yang terbanyak, saingannya mungkin hanya Fakultas Kedokteran atau Ekonomi. Tampaknya program studi yang berhubungan dengan komputer masih menjadi andalan perguruan tinggi di manapun, termasuk di PTS sekalipun.

Rata-rata program studi Informatika/Ilmu Komputer di daerah-daerah tersebut relatif baru. Mereka kekurangan dosen, dosennya masih banyak yang dicomot dari sana sini, seperti dari Elektro, Matematika, Fisika, dan sebagainya. Ketika ada formasi penerimaan dosen melalui jalur PNS, perguruan tinggi tersebut (melalui orang-orangnya) mulai mencari-cari calon dosen yang latar belakang pendidikannya murni Informatika atau Ilmu Komputer. Saya sering menerima permintaan dari teman-tema di daerah sekiranya ada alumni S2 Informatika ITB yang berminat menjadi dosen PTN, karena sampai detik-detik batas waktu penutupan jumlah pelamarnya masih minim. Cuma sayangnya sulit mencari calon yang berminat, mungkin karena PTN itu di daerah yang jauh dari Jakarta sehingga kurang menarik bagi sebagian mereka, atau mungkin pula karena memang tidak berminat menjadi dosen.

Disinilah peluang bagi lulusan Informatika ITB untuk menjadi dosen di daerah. Karena masih relatif baru, maka menjadi dosen Informatika di daerah itu tantangannya sangat menarik. Menarik karena anda akan menjadi the founding father yang menentukan cetak biru jurusan itu ke depan. Karena serba baru, maka anda bersama-sama teman-teman di sana dapat memikirkan seperti apa format program studi yang anda kelola, apa tujuannya, apa visi dan misinya. Anda bisa merancang lab-lab apa yang akan dibangun, juga merancang kurikulum, silabus, bidang peminatan, dan sebagainya. Wah, kreativitas anda sebagai pelopor terasah di sana, anda seperti menghadapi sebuah ladang baru yang siap untuk digarap.

Memang tidak banyak alumni kami yang menjadi dosen Informatika/Ilmu Komputer di daerah. Bolehlah saya sebutkan beberapa orang yang saya tahu. Ada Surya Afnarius (IF’83) yang menjadi pionir pembangunan Program Studi Sistem Informasi di Universitas Andalas Padang. Kemudian di Bali ada Made Windu Kesiman (IF’2000), Luh Joni (IF’1994), dan Rasben Dantes (IF’93) yang mengabdi di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja pada Program Studi Pendidikan Teknik Informatika. Masih di Bali, ada I Wayan Pulantara di Informatika Universitas Udayana Denpasar.

Di Jawa Tengah ada Edy Suharto (IF’1999) di Ilmu Komputer Universitas Diponegoro, Semarang. Di Kalimantan ada Fatma Indriani (IF’2001) yang menjadi dosen di Ilmu Komputer Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Untuk Politeknik negeri, ada Indri Rahmayuni (IF’2001) yang menjadi dosen di Politeknik Negeri Padang, Yan Watequlis (IF’1999) di Politeknik Negeri Malang.

Di Batam ada Ari Wibowo, Metta Santiputri, Hilda Widyastuti (IF’1995), dan Andy Triwinarko (IF’1998) yang menjadi dosen di Teknik Informatika Politeknik Batam. Di pinggir Danau Toba ada Arnaldo Sinaga yang menjadi dosen di Politeknik Informatika Del.

Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi, tetapi saya lupa mencatat jejaknya. Kalau dihitung jumlahnya memang tidak seberapa, sangat sedikit dibandingkan dengan yang berkarir di jalur non akademik. Biar sedikit, mereka telah ikut mewarnai dan memajukan dunia pendidikan Informatika di daerahnya.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Informatika. Tandai permalink.

14 Balasan ke Mengabdi Menjadi Dosen di Perguruan Tinggi Daerah

  1. ady wicaksono berkata:

    Tambahan pak, Taufik Nzz IF98 dosen di yogya, tapi saya lupa nama universitasnya

    http://mtaufiqnzz.wordpress.com/

    Fiq, aku promosikan🙂

    • rinaldimunir berkata:

      Taufik di Universitas Islam Negeri (dulu IAIN) Yogyakarta. Hanya saja, saya tidak mengkategorikan yang di Yogya itu sebagai perguruan tinggi daerah. Baca definisi saya pada tulisan di atas tentang perguruan tinggi daerah.

  2. addie berkata:

    Ralat sedikit Pak,..
    Andy Triwinarko IF 1998, bukan 9119

  3. otidh berkata:

    Mau menambahkan juga Pak, Arga Dinata IF 2005, saat ini juga sedang menjadi dosen di LP3I di Malang, pendidikan diploma gitu.

    Blognya: http://www.dinatascript.com (wah, promosi juga nih.. :D)

  4. lukman heryawan berkata:

    Terimakasih pak untuk rekomendasi dan pencerahannya:)
    Moga dipilihkan yang terbaik..amiin3x

  5. dewa berkata:

    Harus S3 kalo mau ngelamar dosen di ITB ya,pak?? saya juga bercita-cita jadi dosen,pak.

  6. riwinoto berkata:

    he..he..ada yang ketinggalan pak..saya riwinoto, if98 dan basuki winoto, if 97. Kami mengabdi di politeknik batam…

  7. Yan WS berkata:

    Terima kasih pak atas tulisannya yang sedikit banyak bisa menjadi motivasi kami. Mungkin suatu saat, kami juga akan minta bantuan pemikiran bapak untuk memajukan sistem pendidikan kami.
    Di Malang ada saya sama Gita Indah (IF’1999) di UMM.

    Salam dari mantan mahasiswa anak wali Pak Rin.

  8. rosa berkata:

    Ada lagi Pak dari IF 2001, Muhammad Jauharul Fuady di Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s