Anggota DPR pun Titip Absen

Jangan sekali-kali anda titip absensi kuliah lewat teman. Kalau di ITB kejadiannya, urusannya bisa panjang. Mahasiswa perwalian saya di TPB (tingkat I) terpaksa membuat surat pernyataan dan permintaan maaf kepada dosennya karena titip tanda tangan lewat temannya. Pada waktu kuliah Kalkulus dia tidak hadir alias bolos tetapi tanda tangannya ada di dalam daftar hadir. Ketika dosen Kalkulus secara tidak sengaja memanggil namanya di dalam daftar hadir, ternyata si mahasiswa tersebut tidak ada, tetapi tanda tangannya kok ada. Jadi dia sudah berbohong dengan mengaku hadir (lewat tanda tangan yang diisi temannya) padahal bolos. Beberapa mata kuliah memang mensyaratkan jumlah kehadiran minimal sekian persen sebagai syarat ikut ujian. Maka, mahasiswa yang takut tidak bisa ikut ujian, terpaksa berlaku curang dengan titip absen (sebenarnya istilah yang tepat adalah titip presensi, sebab absen artinya tidak hadir, cuma kita sudah terbiasa dengan kata absen ini, misalnya “mana absennya?”, “sudah ngabsen pa belum?”, dsb).

Untung saja dosennya masih baik, dia hanya dipanggil dan diminta membuat surat pernyataan dan permohonan maaf serta berjanji tidak mengulanginya lagi. Surat itu harus diketahui dan ditandatangani oleh Dosen Wali, maka saya pun “terpaksa” ikut memberi tanda tangan.

Coba kalau dia dosennya sangat strik dan tegas, mungkin dia dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut karena sudah berbohong. Wajar saja jika hukumannya tidak lulus, sebab berbohong adalah cikal bakal perilaku buruk lainnya, seperti korupsi dan manipulasi. Di beberapa perguruan tinggi di luar negeri mungkin hukumannya dikeluarkan (DO). Mau apa jadinya mahasiswa itu setelah lulus nanti jika semasa kuliah saja sudah curang. Apa mau seperti Gayus?🙂.

Kalau mahasiswa yang suka titip absen itu menjadi anggota DPR, mungkin mereka akan seperti berita di bawah ini:

Anggota DPR Titip Absen Lewat Ajudan Memalukan!
Reza Yunanto – detikNews

Jakarta – Sejumlah anggota DPR nyata-nyata sering bolos saat rapat paripurna. Tak hanya itu, yang lebih memalukan lagi, mereka juga terbiasa titip absen lewat ajudan.

“Yang memalukan bukan sekedar membolos tetapi titip absen lewat ajudan,” kata Kordinator Advokasi & Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Ucok Sky Khadafy kepada detikcom, Kamis (29/7/2010).

Ucok mengatakan, kebiasaan titip absen ini perbuatan yang sangat memalukan. Anggota DPR yang merupakan wakil rakyat pada kenyataannya justru melakukan perbuatan curang dengan mengaku hadir, padahal yang hadir adalah ajudannya.

“Memalukan sekali kelakuan seperti ini. Parah!,” katanya.

Menurut laporan yang dimiliki FITRA, kebiasaan titip ajudan ini bukan cuma untuk menghadiri rapat-rapat di DPR seperti rapat paripurna atau rapat komisi. Para anggota DPR tersebut bahkan melimpahkan pekerjaannya ke ajudan. Tindakan seperti ini sebetulnya tidak salah, namun kalau semuanya diserahkan ke ajudan, lalu apa kerja para anggota DPR itu.

“Kalau sedikit-sedikit ajudan, buat apa mereka jadi wakil rakyat dong,” kritiknya.

Nah, mahasiswa bisa berkilah, ternyata yang titip absensi itu tidak hanya mereka, anggota DPR yang terhormat pun begitu. Parahnya lagi, biasanya setiap sidang di DPR ada uang rapat atau uang sidang. Anggota DPR yang titip absen ini tetap dapat honor meskipun tidak hadir. Hiii… nggak malu tuh ya makan uang buta (apalagi gaji buta).

Pos ini dipublikasikan di Budi Pekerti. Tandai permalink.

4 Balasan ke Anggota DPR pun Titip Absen

  1. Habib berkata:

    Pak Rin, di lingkungan sekolah saya (SD, SMP, SMA, Kuliah) perbuatan-perbuatan curang seperti mencontek dalam ujian, titip absen (presensi), atau menjiplak tugas adalah hal yang biasa. Murid yang berusaha jujur akan mendapatkan tekanan seperti pengucilan oleh teman-teman sekelasnya. Tidak heran kalau sebagian anggota DPR yang tidak saya hormati itu juga melakukan hal-hal yang serupa.

  2. Kang Jodhi berkata:

    barangkali anggota DPR itu tidak punya kemampuan jadi anggota parlemen namun sayangnya terpilih dalam pemilu sehingga harus menyewa ajudan yang cakap, lama-lama semua pekerjaan diserahkan pada ajudan, hasil akhir si anggota DPR sekedar menjadi makelar : digaji oleh negara untuk bekerja, lalu menggaji ajudan untuk melakukan tugas-tugas parlemen

  3. Hendrawan S berkata:

    Assalamualaikum pa… pa saya mau nanya, sekarang saya sedang melakukan Tugas Akhir dengan judul Traveling Salesman Problem… saya sudah menggunakan buku bpk yg edisi revisi ke 3 (MATDIS) untuk teori.. dan saya sekarang sedang kesulitan dalam melakukan programmingnya.. saya mau nanya kira2 ada gak buku untuk TSP yg fokus programmming … algoritma yg saya gunakan brute force, Genetic atau Nearest Neighboour… atau dengan ALgoritma Bebas jg gpp… :D… kira2 buku apa ya pa yg cocok.. Mohon pencerahannya.. TERIMA KASIH

  4. koka berkata:

    numpang kopi gan…maklum pendatang baru…..sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s