Suatu Siang di Bandara Soekarno-Hatta

Siang itu saya ke bandara Soeta (Soekarno-Hatta) karena hendak pergi ke luar kota. Bandara Soeta sekarang ini seperti terminal bus saja, sangat ramai dengan penumpang dan pengantar. Sejak banyak pesawat dengan tiket relatif murah, banyak orang memilih bepergian dengan pesawat. Sebenarnya nggak murah juga sih, tiket murah (disebut tiket promo) jumlahnya tidak seberapa, selebihnya tiket yang harganya semakin progresif menjelang jadwal keberangkatan. Tetapi animo orang Indonesia naik pesawat tetap tinggi (baca berita ini).

Banyak orang di bandara, itu berarti peluang rezeki bagi pedagang. Tapi jangan harap ketemu pedagang asongan di bandara Soeta, keberadaan mereka sudah diharamkan oleh pengelola bandara karena dianggap mengganggu ketertiban. Beberapa tahun lalu saya masih menjumpai pedagang koran, pedagang air minum mineral, dan pedagang makanan menawarkan dagangannya kepada orang-orang di bandara, tetapi sekarang tidak ada lagi.

Sama sekali tidak ada? O, salah besar. Pedagang asongan — khsususnya yang berjualan makanan — ternyata pintar menyamar untuk menghindari razia dari petugas bandara. Mereka memasukkan dagangan makanannya di dalam tas-tas besar mirip dengan tas penumpang pesawat. Lalu, tas-tas itu dibawa-bawa dengan kereta dorong yang biasa digunakan untuk membawa barang penumpang. Sekilas penampilannya seperti calon penumpang pesawat yang mendorong sendiri barang bawaannya. Dengan penyamaran seperti ini dia luput dari mata-mata petugas bandara yang merazia pedagang asongan sebab penampilannya sama seperti calon penumpang pesawat. Seperti seorang ibu pedagang makanan yang saya temui di bandara Soeta. Dia menawarkan dagangan makanannya berupa nasi bungkus, kue, dan air minum mineral kepada orang-orang yang sedang duduk-duduk.

“Nasinya, pak”, tawar ibu itu kepada saya. Kebetulan saya sudah makan, jadi tidak berniat membeli nasi bungkus yang ia jual. Namun, saya lihat di dalam tasnya yang satu lagi penuh dengan kue-kue di dalam wadah plastik.

Saya beli satu saja karena rasa kasihan, isinya kue talam. Lumayan sebagai bekal makan di pesawat, sebab pesawat yang saya tumpangi, Lion Air, tidak memberikan makanan seperti roti atau kue kepada penumpangnya. Jangankan makanan, segelas air mineral saja mereka tidak kasih. Pelit amat maskapai ini. Masih lumayan Sriwijaya Air atau Batavia Air, mereka masih memberikan permen dan satu kotak konsumsi yang berisi roti dan air mineral kepada penumpangnya.

Saya perhatikan si ibu ini ketika mendorong-dorong kereta makanannya selalu celingak-celinguk, khawatir jika ketahuan oleh petugas bandara. Supaya tidak kentara, tas besar yang berisi jualannya itu selalu ditutup resletingnya. Hanya ketika ditawarkan kepada pengunjung bandara barulah dia buka resleting tas itu untuk memperlihatkan dagangannya.

Meskipun ilegal, kehadiran ibu-ibu penjual makanan asongan itu sebenarnya sangat membantu pengunjung bandara dan pegawai bandara golongan rendah. Pasalnya harga makanan di restoran bandara sangat mencekik leher. Saya pernah makan hanya dengan sekepal nasi, satu ekor goreng ikan kembung dan sedikit sayur sosin, ketika dibayar harganya minta ampun, tiga kali lipat dari harga di warung pinggir jalan. Sementara nasi bungkus yang ditawarkan si ibu tadi harganya relatif murah. Kehadiran dia cukup menolong para pengantar di bandara yang kebanyakan berpenampilan seadanya.

Dari segi daya juang, perjuangan si ibu tadi patut diacungi jempol. Demi mencari sesuap nasi, dia rela kucing-kucingan dengan petugas bandara. Orang Indonesia memang lihai dalam mencari rezeki. Apapun dilakoni asalkan halal.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Suatu Siang di Bandara Soekarno-Hatta

  1. Ibu Sri berkata:

    Orang Indonesia sesungguhnya kreatif. Semoga pihak yang berwenang di bandara memberikan solusi yang bijak, baik bagi yang menjual (mereka ‘kan cari rezeki) maupun yang membeli yang juga tertolong (tidak semua pengguna bandara berkantong tebal)

  2. reiSHA berkata:

    Wah ntar kalo kebaca petugas bandara, bisa ketahuan si Ibu ini, hihihi😀

  3. Alirat berkata:

    Apapun alasannya,asongan harus dilarang menjajakan makanannya di area Lobi Bandara[Mengganggu kenyamanan,ketertiban dan kenyamanan serta keindahan]. Buat saya,pdgg asongan cukup menjajakan dggnnya di area parkir kdrn saja yg sdh di tentukan oleh petugas Bandara. BINA yg sdh ada,PUPUK yg sdh ada,dan RAWAT yg sdh ada,agar tdk ada lagi muka2 baru yg menjajakan dagangannya di area Bandara soe-tta International. Pedagang asongan di Bandara soe-tta rata2 sdh berjualan 5 s/d 10 tahun,bahkan ada yg sdh 15 tahun atau lebih. Saran saya: BENAHI mrk,dan jangan di jdkan OBYEK terus menerus utk kepentingan PRIBADI,INDIVIDU,ataupun GOLONGAN. Trim,s Pemerhati lingkungan…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s