Dari Bubur Manado Hingga Woku Belanga

Minggu lalu saya ke Manado untuk melakukan sidang Tugas Akhir mahasiswa yang saya bimbing di sana. Setiap tahun saya diminta teman di sana untuk membimbing Tugas Akhir beberapa orang mahasiswa Informatika sebuah PTS di Manado. Saya senang model kerjaan yang begini, asik sih, saya bisa jalan-jalan keliling Indonesia. Tidak hanya jalan-jalan, tetapi juga wisata kuliner. Maklum saya ini pemerhati masakan khas nusantara, kalau pergi kemana-mana maka yang saya amati adalah masakan khas di tempat itu.

Di Manado makanan apa yang paling khas? Tentu saja bubur manado, yang dalam bahasa setempat disebut tinutuan, sehingga Manado disebut juga “kota tinutuan”. Awas lho, bukan “bibir manado”, kalau ini lain lagi artinya. Kata orang tidak lengkap datang ke Manado jika belum “3B”, yaitu Bunaken, bubur manado, dan … bibir manado, he…he.

Bubur manado terbuat dari beras yang dimasak dengan campuran sayuran seperti jagung, kangkung, daun kemangi, dan kentang. Rasanya gurih dan sedap. Rasa gurih ditimbulkan dari air rebusan jagung. Jadi, jagung manis direbus dulu sampai matang, selanjutnya bubur dimasak dengan air rebusan jagung tadi. Jagung yang sudah direbus tadi bersama dengan sayuran lainnya dimasukkan ke dalam bubur. Bubur terlihat berwarna kuning. Lihat gambar di bawah ini:

Agar lebih nikmat, maka di atas bubur manado ditambahkan abon ikan roa, sambal ikan roa, goreng ikan asin roa, dan bawang goreng. Ikan roa adalah ikan khas di sini. Di bawah ini sambal dan abon ikan roa.

Saya makan bubur manado ini di Swiss Bell Hotel. Bubur manado yang enak bukan yang di hotel, tetapi bubur yang dijual di pinggir jalan, Yang terkenal adalah tinutuan di daerah Wakeke (kayak lagu Piala Dunia saja, waka-waka keke…:-)). Cuma saya tidak sempat datang ke sana karena waktu yang mepet.

Karena Manado terletak di pinggir laut, maka masakan serba ikan adalah yang masakan khas di kota ini. Saya puas sekali menikmati ikan laut segar di Manado. Kami makan ikan di restoran City Extra yang terletak di pinggir pantai Malalayang. Di Bandung mana bisa kita memperoleh ikan laut segar, sebagian besar ikan laut di Bandung sudah tidak segar karena didatangkan dari Cirebon atau Pelabuhan Ratu. Masakan ikan yang top markotop di Manado adalah woku belanga. Woku belanga adalah ikan yang dimasak di dalam belanga (panci dari tanah liat). Dimasaknya dengan aneka daun seperti daun bawang, daun jeruk, daun kemangi, tomat, batang sereh, cabe rawit, dan masih banyak lagi jenis daun yang digunakan. Rasanya gurih asem pedas, saya bisa nambah berkali-kali makan woku belanga ini saking lahapnya🙂. Ikan yang digunakan harus ikan yang segar supaya terasa gurih. Ini dia gambar woku belanga.

Selain woku belanga, jenis masakan ikan lainnya adalah sup ikan, ikan bakar, dan goroppa salad. Goroppa adalah sebutan orang Manado untuk ikan kerapu. Ini ikan yang paling mahal tetapi paling enak.

Sup ikan adalah sup yang dibuat dari ikan segar, biasanya ikan kakap merah. Sup ini dimasak dengan daun bawang, selederi, batang sereh, daun jeruk, tomat hijau, tomat merah, daun kemangi, jahe, dan cabe rawit.

Goroppa salad adalah ikan kerapu yang digoreng garing dengan tepung, lalu di atasnya ditutupi salad buah dan sayuran. Tulang-tulang ikan kerapu ini sudah dibuang sehingga kita aman memakannya tanpa khawatir duri.

Ikan bakar mudah kita temukan di mana-mana di kota pinggir laut. Di Manado ikan bakar yang saya nikmati adalah ikan goroppa yang dimakan dengan sambal dabu-dabu dan sambal rica-rica.

Makan iakn bakar ini tidak lengkap tanpa tumis sayur pakis. Tumis pakis adalah daun pakis yang ditumis dengan bawang putih. Rasanya sepat-sepat begitu, tapi makin mantap jika dimakan dengan sambal rica-rica tadi.

Ah, terasa sebentar sekali di kota ini, mau berlama-lama tetapi tugas lain sudah menanti di ITB. Hari Minggu saya sudah harus kembali ke Bandung. Di Bandara Sam Ratulangi Manado kami berpisah untuk bertemu lagi — insya Allah — tahun depan. Di depan gedung bandara ini ada tulisan yang berbunyi sitou timou tumou tou. Kalimat ini adalah filsafat orang Minahasa yang dipopulerkan oleh Dr. Sam Ratulangi, pahlawan dari Sulawesi Utara. FYI, Dr. Sam Ratulangi ternyata adalah alumnus ITB lho, dari FMIPA (jurusan matematika atau fisika gitu). Namanya diabadikan sebagai nama bandara dan universitas negeri di Manado.

Kata teman saya di sana, arti kalimat “sitou timou tumou tou” tersebut adalah “manusia hidup untuk menghidupi manusia lain”. Hmmm… sebuah filsafat yang sangat dalam sekali artinya, semacam peribahasa latin yang berbunyi “homo homoni socious” (manusia adalah manusia bagi orang lainnya), bukan sebaliknya “homo homoni lupus” (manusia adalah serigala bagi orang lainnya). Kita manusia yang ada di bumi hidup untuk saling tolong menolong tanpa membedakan suku, agama, ras, warna kulit, dan aneka perbedaan lainnya. Kita hidup untuk saling menghidupi, bukan untuk saling menyakiti atau memusuhi, apalagi untuk saling memakan bahkan saling membunuh.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan, Makanan enak. Tandai permalink.

15 Balasan ke Dari Bubur Manado Hingga Woku Belanga

  1. reiSHA berkata:

    Enaknyaaa wisata kuliner di Indonesia, hampir semuanya halal. Beda dengan di sini, sebagian besar haram. Huhuhu😦

  2. Zakka berkata:

    Waaaaaaaah… Jadi pengen ke Manadoooooo… Tapi saya males kalo tak ada temen😀

  3. Putra berkata:

    pengalaman sy 3 tahun ini bolak balik manado, menunjukan yg paling menonjol di makanan manado adalah rasa “pedis” ato pedas di dalam makanannya, bahkan sy yg asli minang pun, kadang2 tidak tahan makan sambal dabu2 asli manado.dan untuk variasi makanan sy rasa kurang begitu banyak pak.
    @dik reisha : di manado kita mesti harus berhati2 juga, sebab makanan yg haram sangat banyak disana, klo dik reisha liat makanan yg namannya “paniki garu rica” yg totally haram pasti langsung kaget. ada pameo bilang bahwa orang manado pemakan segala baik hewan berkaki dua maupun berkaki emapat, nah untuk yg berkaki empat ini kecuali kursi & meja saja yg tidak dimakan…jd nanti klo sempat ke manado harus hati2 pula memilih tempat makan, klo sy pribadi hanya mau makan di rumah makan padang di manado selain itu tidak…

  4. Haryadi Hasni berkata:

    Manado……..hm
    Sungguh mengasyikan wisata kuliner di kota ini. Orangnya ramah dan smart. Sayangnya susah nyari makanan yg halal. Untungnya saya punya temen yg menjadi guide utk “hunting” makanan halal. Geli rasanya liat paniki (kelelawar), babi guling etc ada dimana2.
    Tapi coba deh resto Bandar di Kalasey

    • rinaldimunir berkata:

      Di Manado cukup mudah menemukan masakan halal. Ada beberapa rumah makan padang di sana, warung tegal, soto lamongan, rumah makan sunda, dll. Kalau semua makanan ikan (seafood) jelas halal.
      Selain paniki (kelelawar), juga ada daging tikus yang dijual sana (saya meihatnya di swalayan Gelael). Ini bukan sembarang tikus, tetapi tkus hutan yang makanannya adalah buah-buahan, sehingga kata orang Manado dagingnya terasa manis. Tapi ya tetap saja itu tikus.

  5. ray rizaldy berkata:

    Enaknyaaa, daku kangen masakan manado. Liat foto-fotonya Pak Rin jadi laper siang bolong *padahal lagi puasa. hehehe

    Tentang makanan halal, Alhamdulillah dengar dari teman-teman disana katanya sudah banyak warung padang jadi gampang. Daku terakhir ke Manado waktu kelas 2 SMA. Waktu itu sulit sekali cari makanan, apalagi waktu itu puasa2. Sahur akhirnya lebih banyak cuma minum air putih dan Indomie. hihi *lho jadi curhat begini daku😀

  6. iis berkata:

    emang enak sekali masakan manado, ikan pedas2 trus makan kuah bening,sehat kan……

  7. Jar Wo berkata:

    besok pagi saya berangkat ke manado

  8. Ping balik: Malesung Resto Sajikan Makanan Manado yang Halal | Kabar Kaltim

  9. Peter Smith (7E9611B2) berkata:

    Manado..suatu kota kuliner yang spektakuler…fantastic dan menantang…mulai dari aromanya yang lembut sampai yang aroma tajam sampai ke pedasnya…

  10. Ping balik: Tidak Ada Daging, Ikan pun Jadi | Catatanku

  11. gus berkata:

    bubur manado, bunaken, kalo…. bibir manado.. dimana banyak ?? hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s