Kasih Orangtua Sepanjang Jalan

Akhirnya lulus sidang juga, selamat ya, kata saya kepada seorang mahasiswa angkatan tua yang terancam DO karena mentok di Tugas Akhirnya. Tenggat waktu studi akan berakhir beberapa bulan lagi, namun dia dilanda kegelisahan yang amat sangat. Tugas Akhirnya tidak maju-maju dan dia sudah hampir putus asa, tidak mampu lagi untuk melanjutkannya. Stres, sudah pasti. Tidak hanya dia yang gelisah, orangtuanya pun tidak terkira menyimpan rasa khawatir.

Orangtua dimanapun pasti sayang anak. Tidak ada orangtua yang tidak ingin putra putrinya bahagia. Apapun mereka perjuangkan untuk kebahagiaan dan kesuksesan anaknya itu. Biarpun anaknya sudah besar, sudah gede, sudah mahasiswa pula, mereka tetap berusaha untuk menyelamatkan nasib si anak dari ancaman DO. Akhirnya, orangtua mahasiswa tadi terpaksa “turun gunung” menemui dosen pembimbing, curhat kepada dosen itu, memohon bantuan dan kemurahan hati dosen pembimbing bagaimana agar anaknya bisa sidang TA. Tidak hanya sekali mereka datang menemui dosen pembimbing itu, mungkin ada dua hingga tiga kali.

Dosen pembimbing TA itu, seorang ibu, adalah orang yang baik. Dengan kebaikannya maka sang mahasiswa tadi bisa menyelesaikan TA nya dengan pengurangan beberapa target. Dan akhirnya dia pun diperbolehkan untuk sidang setelah laporan TA-nya bisa juga diselesaikan. Siapa orang paling berjasa meloloskan dia dari lubang jarum ini? Tentulah kedua orangtuanya tadi. Tanpa lobi mereka berdua, belum tentu anaknya mendapat kemudahan menyelesaikan TA. “Lihatlah betapa tulus perjuangan orangtuamu datang kemari untuk memperjuangkan TA mu itu. Maka jangan sampai durhaka nanti kepada orangtua ya”, kata saya kepadanya.

Orangtua datang kepada kami pada saat-saat anaknya kritis terancam gagal dalam studi sudah tidak terhitung lagi. Selama tidak ada aturan yang kami langgar, kedatangan mereka untuk memperjuangkan nasib anaknya tetap kami sambut dengan baik. Jika ada kesempatan dan peluang untuk lolos dari lubang jarum, akan kami perjuangangkan mendapat kesempatan. ITB tidaklah strik-strik amat kepada mahasiswanya. Selama masalah yang menimpa mahasiswa bukan masalah moral, mahasiswa tetap kami bantu.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kasih Orangtua Sepanjang Jalan

  1. luthfi berkata:

    Pada masa Pak Rinaldi kuliah dulu kejadian semacam ini apakah pernah terjadi juga Pak?

  2. rosa berkata:

    Mmmm, saya tidak terlalu suka dengan cara lobi orang tua ini. Misal ada mahasiswa saya, sering tidak masuk lalu akhirnya nilainya E, lalu orang tuanya menelpon, mau ke rumah segala (saya mikirnya ujungnya ke penyuapan atau hadiah) minta kalau bisa anaknya diluluskan (dengan berbagai alasan). Saya pikir hidup adalah pilihan, kita tidak bisa bagus di semua hal (sehari hanya 24 jam, dikurangi 8 jam untuk tidur, dan sekitar 6 jam untuk mandi, makan, transpor), jika lebih memprioritaskan pekerjaan maka kita akan dapat hasil terbaik di pekerjaan, tapi jika memprioritaskan kuliah, kita akan dapat hasil terbaik di kuliah, Tuhan akan memberi apa yang kita prioritaskan karena Tuhan itu baik. Dan bagi saya seorang ustad (guru) memiliki tanggung jawab yang sangat besar, jika meluluskan mahasiswa yang sebenarnya tidak mampu, lalu mahasiswa itu punya murid, dan mengajar sesuatu yang salah, maka dosennya inilah yang bertanggung jawab kepada Allah. Kenapa derajat seorang ustad ditinggikan, karena tanggung jawabnya besar.

    • rinaldimunir berkata:

      Nah, kalau untuk kasus yang Rosa sebutkan itu, pasti akan ditolak. Semua dosen pasti tidak mau. Namun untuk kasus-kasus batas waktu studi karena tersangkut 1 mata kuliah, hal ini masih bisa diupayakan bisa ditolong (dengan tetap tidak melanggar aturan).

      Saya pun juga mempunyai prinsip seperti Rosa itu ketika awal-awal menjadi dosen, namun dengan bertambahnya usia dan seiring perjalanan waktu, kearifan pun muncul. Hubungan antara manusia tidak bisa dipandang sebagai hitam dan putih, 0 dan 1. Suatu saat nanti Rosa pun akan mengalaminya dan memahaminya🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s