Sepanjang Jalan Ramadhan

Alhamdulillah, hari pertama puasa Ramadhan sudah kita lalui dengan baik. Kemarin saya mengajar tiga mata kuliah dari pukul 11 siang hingga pukul 16 sore, tetapi tidak terasa haus atau cape tuh. Rupanya cuaca Bandung sangat bersahabat: hujan! Perkiraan saya bahwa bulan puasa tahun ini akan berlangsung pada musim kemarau yang panas sepertinya tidak akan terjadi. Anomali cuaca pada tahun 2010 membuat banyak orang bingung, musim kemarau tetapi kok masih hujan. BMG bahkan menyatakan bahwa musim kemarau basah ini akan berlangsung hingga bulan Januari 2011. Jadi, hingga bulan Januari nanti masih hujan, lalu berlanjut dengan musim hujan sesungguhnya. Wow, tahun tidak bisa menikmati musim panas nih.

Rahasia bisa kuat berpuasa adalah kebiasaan minum madu. Saya selalu minum madu pada setiap makan sahur. Tenaga yang dihasilkan dari madu ini luar biasa, sehingga berpuasa tidak terasa melelahkan. Tubuh akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan puasa pada hari-hari pertama, dimana kita tidak makan dan minum pada siang hari. Pada hari-hari selanjutnya kita menjadi terbiasa dan tidak merasakan perbedaan antara berpuasa dan tidak puasa.

Kemarin saya pulang ke rumah dengan naik angkot. Di dalam angkot seorang bapak duduk memeluk anaknya yang masih balita. Sambil memeluk anaknya, si bapak menceritakan hikmah berpuasa kepada anaknya. Saya ikut menguping pembicaraan bapak itu. Lihat pengemis di jalanan itu, kata bapak itu kepada anaknya, dia mungkin kelaparan karena belum makan seharian atau malah berhari-hari. Perutnya menahan lapar namun dia tidak punya uang untuk membeli makanan. Begitu pula kita berpuasa agar dapat merasakan bagaimana orang miskin menahan rasa laparnya karena tidak makan. Anaknya manggut-manggut saja mendengar “ceramah” bapaknya, entah mengerti entah tidak. Saya tersenyum geli, masih ada orang sederhana seperti bapak itu mampu memahami hikmah berpuasa dan menjelaskan kepada anaknya yang masih kecil.

Dari atas angkot yang melaju melewati jalan Cicadas, tampaklah berderet ibu-ibu atau bapak-bapak yang menjual penganan berbuka di pinggir jalan. Setiap sepuluh meter pasti ada yang menjual makanan berbuka puasa, mulai dari kolak pisang, kolak candil, es cendol, sop buah, es shanghai, hingga rujak cuka. Rezeki dadakan. Mereka — orang-orang kecil yang berdagang musiman itu — berharap mendapat sedikit uang untuk persiapan lebaran. Bagi mereka, lebaran berarti menyiapkan baju baru buat anak-anak, atau bekal buat mudik. Untuk itu, selama bulan puasa ini mereka berdagang dadakan yang pada hari-hari biasa justru tidak mereka lakukan. Lumayan juga penghasilan yang mereka peroleh, namun akhir-akhir ini persaingan menjual penganan berbuka semakin ketat, karena banyak orang yang ikut-ikutan berdagang. Tapi Tuhan Maha Adil, pasti ada saja bagian rezeki buat mereka.

Berbagai penganan itu pasti menerbitkan air liur dan menimbulkan rasa ingin membeli semua jenis makanan untuk dicoba pada saat berbuka nanti. Kalau dipikir-pikir lagi, semua itu adalah godaan hawa nafsu belaka. Padahal, berpuasa justru untuk menahan godaan itu, seberapa kuat kita mampu menahannya. Saya pun jadi teringat pembicaraan sederhana bapak di dalam angkot tadi. Saya tersenyum sendiri.

Angkot sampai di kompleks Antapani. Saya pun turun dan melenggang pulang berjalan kaki. Tidak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang. Itu pertanda waktu berbuka puasa segera tiba. Kata Rasulullah, salah satu kenikmatan adalah nikmatnya orang berbuka. Benar sekali, berbuka puasa itu memang nikmat. Setelah seharian menahan haus dan lapar, maka ketika ketemu air dan makanan berbuka, rasa haus dan lapar itu terpuaskan. Seperti itu pulalah kebahagiaan yang dirasakan orang miskin yang menahan laparnya berhari-hari, ketika ia mendapat makanan tidak terkira girang dan bahagianya. Alhamdulillah, satu hari sepanjang jalan Ramadhan telah terlewati dengan banyak hikmah.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sepanjang Jalan Ramadhan

  1. ceuceu berkata:

    Iya kemaren hujan gerimis n mendung jd ga haus hehehe………….
    Alhamdulillah……..

  2. yusfiatini berkata:

    betul tu pak..menanamkan keyakinan beragama dimulai dari ketika anak masih kecil…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s