Ketika SMA 3 Bandung Pakai Sistem SKS

Kemarin sempat baca di koran PR, bahwa SMA 3 Bandung — SMA top di kota ini — mulai menerapkan sistem SKS dalam persekolahannya (SKS yang ini artinya Sistem Kredit Semester, bukan “Sistem Kebut Semalam” atau “Sistem Kerja Sangkuriang” yang semalam itu seperti yang sering diplesetkan mahasiswa). Karena sudah menyandang predikat SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), maka sekolah ini dibolehkan menggunakan sistem SKS (baca beritanya di sini). Dengan sistem SKS, siswa bisa lulus cepat 2,5 tahun dan maksimal 5 tahun (Apaaa? 5 tahun? Terlalu tua untuk siswa SMA bersekolah selama 5 tahun :-)). SMA seperti kuliah saja rasanya.


(Foto SMA 3 Bandung. Gambar diambil dari sini)

Saya bukan alumnus sekolah ini (SMA saya jauh di seberang lautan), tapi membaca rencana penerapan sistem SKS di SMA membuat saya surprise dan agak bertanya-tanya. Surprise karena sistem ini lebih fair, sebab kalau siswa mendapat nilai merah untuk sebuah pelajaran, maka dia hanya perlu mengulang pelajaran itu saja pada tahun berikutnya. Kalau dengan sistem yang sekarang berjalan, jika siswa tidak naik kelas karena ada satu atau dua pelajaran yang merah (misalnya Agama atau Bahasa Indonesia), maka siswa itu harus mengulang lagi seluruh pelajaran di kelas yang lama.

Memang konsekuensinya kalau tidak lulus mata pelajaran maka waktu studi bisa molor seperti mahasiswa kuliah. Misalnya jika tidak lulus satu mata pelajaran, maka pelajaran itu harus diambil lagi pada tahun selanjutnya, begitu seterusnya jika tidak lulus lagi. Makanya bisa jadi masa bersekolahnya di SMA sampai maksimal 5 tahun. Di ITB saja batas waktu studi mahasiswa sudah diperpendek maksimal 6 tahun (jika lebih 6 tahun maka terpaksa D.O). Zaman saya kuliah dulu masih 7,5 tahun, lalu berubah lagi menjadi 7 tahun, dan akhirnya 6 tahun.

Siapa yang mau SMA selama 5 tahun? Jelas tidak ada yang mau. Untuk siswa SMA 3 Bandung yang rata-rata pintar itu hampir tidak mungkin lulus sampai 5 tahun. Namun, saya merasa agak aneh jika siswa bisa lulus 2,5 tahun. Anehnya bukan karena bisa cepat itu, tetapi jika siswa lulus dalam waktu 2,5 tahun tentu ia belum bisa mendaftar kuliah di PT sebab tahun ajaran baru di Indonesia dimulai pada bulan Juli (pertengahan tahun). Jadi, kalau siswa SMA lulus 2,5 tahun berarti ia lulus pada bulan Desember, maka dia harus menunggu 6 bulan lagi baru bisa kuliah. Akhirnya, waktu setengah tahun itu akan mubazir jika tidak langsung bisa kuliah (sama saja dengan lulus 3 tahun). Mungkin kalau kuliahnya di perguruan tinggi luar negeri yang dimulai pada awal tahun, siswa bisa menlanjutkan studi di sana.

Namun, secara keseluruhan saya apresiatif dengan penerapan konsep SKS di SMA. Hanya saya agak sedikit khawatir jika penerapan sistem SKS diikuti dengan biaya tinggi. Sekolah berlabel RSBI (R = rintisan) saja sudah mahal, apalagi kalau sudah SBI. Akhirnya sekolah SBI menjadi elite karena hanya anak-anak orang kaya saja yang bisa bersekolah di sana. Siswa miskin hanya bisa bermimpi bersekolah di sana. Seperti di ITB contohnya, mahasiswa baru sudah dibebankan biaya per SKS disamping SPP (1 SKS = Rp 125.000), maka kalau di SMA yang berlabel SBI mengambil SKS juga dihitung biayanya, maka alamat makin mahal saja biaya sekolah (kabarnya biaya masuk SMA 3 Bandung sudah puluhan juta).

Moga-moga masih ada tempat buat siswa miskin yang berotak cemerlang bisa sekolah di SMA elite seperti itu.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

21 Balasan ke Ketika SMA 3 Bandung Pakai Sistem SKS

  1. rosa berkata:

    Tidak hanya butuh berotak cemerlang Pak untuk yang kurang mampu masuk sekolah elit, dia juga butuh bermental baja😀. Karena sangat susah sekali bertahan di lingkungan yang penuh kelebihan dalam diri yang penuh keterbatasan (pengalaman pribadi dulu waktu di ITB :D).

  2. ismailsunni berkata:

    wah, ide bagus… bisa diadaptasi buat sekolah saya kelak…
    saya nemu kenalan baru, anak 2010, yang 2 tahun gak naik kelas, tapi sekarang masuk di STEI 2010…

  3. Basuki berkata:

    Kalo Pak Rinaldi sekarang punya anak yang hendak masuk SMA. Kira-kira mau daftarin ke SMA 3 karena pake SKS ini nggak pak?🙂
    Btw, UU Sisdiknas mungkin 1-2 tahun depan akan direvisi. Nah, kalo klausul RSBI dan SBI dihapus seperti BHP, bagaimana nasib anak didiknya nanti? Apakah nasibnya sama dengan korban jargon KBK bbrp tahun lalu?

    • rinaldimunir berkata:

      Insya Allah Pak, kalau prestasi anak saya sanggup masuk sekolah ini, akan saya dukung, walaupun biayanya mahal. Yang namanya orangtua pasti selalu mengusahakan pendidikan terbaik buat putera-puterinya, berapapun biayanya akan mereka usahakan.

  4. hayato berkata:

    hahaha.. betul pak,.. hemm.. knpa indo g pakai sistem loncat kelas saja ya, seperti di amrik ?

  5. Putri berkata:

    Kebetulan saya anak SMA 3 yang kena sistem SKS pertama kali ini T,T Jadi miris baca artikel ini~

    Tambahan sedikit:
    Menurut konfirmasi guru yang mengajar di sekolah saya, kalau lulus 2,5 tahun kemungkinannya ada 2, UN di akhir semester ganjil atau UN di akhir semester genap (Nunggu 6 bulan). Kalau toh UN jadinya di akhir semester genap, bukan berarti mubazir waktunya, malah menguntungkan soalnya 6 bulan itu dipakai untuk Pemantapan SNMPTN secara full. Begitu🙂

    Yang repot dari Sistem SKS ini, kalau nggak dapet IP 7,5 di Bidang MIPA waktu akhir semester ganjil, siswa jadi masuk kelas IPS. Penjurusan juga akhir semester ganjil, jadi lebih repot. -_-

    Oh ya, terima kasih atas infonya😉

  6. Arif Rahman berkata:

    kata mendiknas sistem SKS belum bisa diterapkan dalam 2-3 tahun kedepan bagaimana dengan SMA 3 Bandung , apakah enggak salah pilihan SKS ini

  7. YOANSYAH ZHAO berkata:

    bagus lah….saya senang mendengarnya. tapi diharapkan perguruan tinggi juga dapat menerima keberadaan SKS di sekolah…maju terus..tapi saya denger di Ciamis yaitu SMA Negeri 1 Ciamis juga udah SKS jadi kenapa keduluan SMA yang berada di kampung ya…..any way met berjuang aja moga sukses

  8. muhsatrio berkata:

    Kadangkala biaya memang jadi kendala..
    Tapi saya semakin termotivasi buat ikut tes di 3 bdg,gara² perkataan bapak saya,”Jangan Kalah Sebelum Berperang”

    Gak ada salahnya dicoba dulu..Hehe..:)

  9. Rakyat jelata berkata:

    jadi miris mendengar biaya pendidikan di sma 3 yg tinggi. apakah pendidikan terbaik hanya utk kalangan yg berduit tebal saja ortunya??? gmana kesempatan buat yang pas2an biaya hidupnya tp berotak cemerlang??? apakah pendidikan gratis cuma jargon dan ungkapan kosong belaka?? adikku… mungkin nasib kita hanya jd penonton belaka di negeri ini

    • garien berkata:

      biaya di SMAN 3 Bdg tdk mahal sdrku, yg penting si anak bisa lulus seleksi SERU3. Stlh diterima, para ortunya (yg memang kurang mampu secara ekonomi) bisa menyicil atau bahkan bisa gratis (kalau benar2 miskin). Jadi kuncinya untuk bisa sekolah di sman 3 bdg bukan uang (hrs kaya raya) tapi si anak mampu tdk “bersaing” dlm seleksi terbuka SERU3 ! Ya… smga adik2nya berhasil diterima di sman 3 bdg. Aamiiiin.

  10. Dini berkata:

    Iyah..
    SMA 1 Ciamis sudah menggunakan SKS ini dari 4 taun yang lalu..
    Saya alumni sekolah itu…
    tpi pada saat itu saya belum mnggunakan SKS..

    Adik saya yg mengalaminya sekarang…

  11. Saya malah nyasar pak,keterimanya di sekolah tetangganya SMAN 3😀

  12. reska berkata:

    biaya masuk sma 3 bandung berapa sih? wajib dan sumbangan sukarelanya berapa ya minimal?

    • garien berkata:

      dik reska biaya seleksi masuk sman 3 bdg (Seru3) 200 rb. Jika si anak memang sdh lulus seleksi Seru3 yg relatif ketat (krn pesertanya dari ‘seluruh’ Indonesia) soal biaya pendidikan bisa dikonsultasikan dg komite sekolah, ortu yg mampu bisa byr penuh, yg kurang mampu bisa nyicil. Info dari koran PR, uang pangkalnya 6,5 jt (ini bisa dicicil !).
      Pak Rinaldi, maaf, sy ikut menjawab ya (krn anak sy br sj ditrma di sman3 ini via Seru3 !). Trm ksh.

  13. ridayat technic berkata:

    in brain world and there must be money. have brain but have no free money

  14. kardi jumadi berkata:

    Saya ingin sistim SKS Segera di louncinbgkan di Indonesia karena ungtuk mengejar ketinggalan negara yang masih berada di landasan dan belum meninggalkan landasan seperti kata orang negara kita sedang diera tinggal landas, tetapinyatanya tinggal dilandasan untuk mencerdaskan bangsa boleh saja sks dilakukan asal tidak kebablasan

  15. Saya masih belum mengerti tentang teknis SKS di Sekolah Menengah ini. Apakah sama dengan di universitas/ sekolah tinggi, siswa tidak diam di satu kelas (siswa mengikuti kelas mata pelajarannya)? Kebetulan saya sedang mengembangkan LMS yang dikhususkan untuk Sekolah Menengah dan Sekolah Dasar.

  16. pelajar bertopeng berkata:

    Sebenarnya SKS hampir semuanya sama dengan sistem paket atau yang biasa. hanya saja dalam sks kami bisa mengambil pelajaran selain MIPA lebih awal. misal saya ingin mengambil sks Sejarah semester 4 saat semester 2, maka ketika saya semester 4 saya tidak akan belajar lagi sejarah karena sudah diambil di semester 2. lainnya sama saja dengan sistem biasa, belajar tidak moving class, dan lain lain. untuk yang 2,5 tahun itu cuma kebohongan belaka karena kami kami tidak bisa mengambil pelajaran MIPA.

  17. fauzan m ghassani berkata:

    Ah, sma kurang layak aja kayak gitu. Karena kalau sma kebanyakan orang ingin menikmati indahnya masa sma. Tidak banyak/sedikit murid yang berfikir untuk dunia kuliah. Saya pernah tanya kepada anak sma 5 bandung (tetangga sma 3 bandung) ada lulus sma langsung nikah. Itu semua kembali ke orang. Justru kalau dianalisis. Kalau orang yang punya pemikiran panjang justru masa sma tidak terlalu dinikmati dan jarang serius untuk belajar itu biasa. Karena materinya itu itu saja. Berbeda kalau dunia kuliah. Itu semua kembali ke muridnya masing masing. Mau jadi apa kedepan??? Itu terserah mereka asal mereka bisa lebih baik setelah apa yang mereka dapatkan. Beda dengan orang yang pemikirannya pendek. Dia hanya maniak dengan masa masa sma saja. Dalam artian dia hanya memikirkan indahnya masa sma dan tidak pernah memikirkan masa depannya. Apalagi indonesia mau bikin sistem pendidikan khususnya di sekolah dasar & menengah seperti di luar negeri memang tidak bisa. Kalau alasannya butuh penyesuaian sampai kapan penyesuaian itu? Sampai mereka lulus. Justru kebanyakan mahasiswa tingkat awal lebih senang masa kuliah dibanding masa sma. Apalagi yang punya fikiran panjang. Jangan hanya melihat sekarang. Lihat kedepan jadi apa murid itu. Apakah bisa berhasil atau tidak.

  18. Orang berkata:

    Tahun 2013 ini uang per tahunnya 6 juta, berarti sama dengan 500 ribu perbulannya. makin mahal aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s