Sekali-Sekali (Kalau Bisa Seringkali) “Pakailah” Mereka

Ketika pulang melewati pertigaan jalan, saya lihat sekumpulan ojeg motor menunggu penumpang. Mata mereka nanar menunggu orang-orang turun dari angkot, berharap penumpang yang turun dari angkot naik ojeg mereka untuk mengantarkannya sampai ke rumah. Selain tukang ojeg,di dekat situ mang-mang beca juga terduduk dilamun sepi menunggu penumpang. Dari pertigaan itu ke dalam tidak ada angkot lagi, orang harus jalan kaki, kalau tidak mau jalan kaki ya naik beca atau naik ojeg. Bagi yang punya kendaraan sendiri (motor atau mobil) tentu tidak ada masalah.

Sekali-kali saya naik ojeg itu. Sebenarnya saya bisa saja jalan kaki ke rumah dari pertigaan, lebih sehat. Tetapi saya naik ojeg karena ingin berbagi rezeki saja dengan mereka. Tiga ribu perak sangat berarti bagi tukang ojeg itu. Ada puluhan tukang ojeg menunggu giliran membawa penumpang. Bagi kumpulan tukang ojeg yang mangkal “resmi” di pertigaan, berlaku sistem shift untuk memenuhi prinsip keadilan. Pasalnya tukang ojeg jumlahnya puluhan orang, maka supaya adil dan tidak berebut penumpang, diberlakukan sistem shift seperti pekerja pabrik saja. Ada shift pagi, shift siang, dan shif malam. Mereka juga menerapkan sistem absensi, siapa yang duluan datang harus mengisi daftar nama, dan giliran mengangkut penumpang disesuaikan dengan urutan kedatangan. Beberapa pangkalan ojeg ada yang mengenakan rompi dan helm yang seragam supaya terkesan tertib. Mengapa menjadi tukang ojeg? Karena mencari pekerjaan saat ini sangat susah. Kebanyakan mereka punya motor karena kemudahan sistem kredit motor yang tanpa uang muka. Maka, motor itulah satu-satunya modal mereka untuk mengais rezeki di tengah biaya hidup yang membumbung tinggi. Sebagain motor itu belum lunas kredit, atau bahkan terancam ditarik oleh dealer karena menunggak pembayaran. Hasil dari menarik ojeg sebagian disisihkan untuk membayar tagihan kredit. Bisa kita bayangkan betapa susahnya kehidupan tukang ojeg itu.

Selain naik ojeg, sekali-sekali saya naik beca dengan alasan yang sama seperti di atas. Mang-mang beca umumnya mendapatkan beca itu dari juragan dengan sistem sewa. Mereka harus bersaing dengan tukang ojeg untuk mencari penumpang. Mereka tidak mampu kredit motor dan lebih memilih ngabecak. Kalau kita berpikir kasihan kepada mang beca itu karena mengayuh beca dengan tenaga fisik — apalagi pada bulan puasa ini –, sehingga kita tidak tega menaiki becanya, maka rasa kasihan kita itu tidak beralasan. Kalau kasihan terus atau tidak tega, maka lebih sengsara lagi nasib mereka. Jika tidak ada orang yang mau naik becanya karena rasa iba, maka tidak ada uang yang akan mereka peroleh. Justru dengan menaiki becanya kita sudah menolongnya mendapatkan sedikit rezeki.

Membantu orang kecil tidak perlu pakai teori yang muluk-muluk, langsung praktekkan saja dengan memakai jasa mereka. Bagi orang modern, gaya hidup yang serba mudah dan enak sudah menjadi keharusan. Belanja di supermarket, makan di restoran mahal, jalan-jalan dan rekresasi ke mal, atau selalu mobile dengan kendaraan terbaru. Itu semua hal yang wajar saja. Namun, tidak semua orang seberuntung mereka. Di luar sana masih banyak saudara sebangsa kita yang hidup dengan keprihatinan.

Kita mungkin tidak harus membantu mereka dengan menggulirkan modal agar mereka bisa bangkit. Yang dapat kita lakukan adalah dengan menggunakan jasa mereka atau membeli dagangan mereka meskipun hanya sedikit. Sebagai contoh, kalau kita sering membeli buah-buahan impor di supermarket, tidak ada salahnya sekali-sekali membeli buah-buahan impor yang dijajakan pedagang kecil di pinggir jalan. Meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan yang di supermarket, tetapi secara tidak langsung kita telah membantu mereka mendapat penghasilan. Kalau bisa jangan sekali-sekali, tetapi seringkali.

Saya pikir, begitulah cara menghargai orang-orang kecil. Sederhana saja teorinya. Biar hanya sedikit yang bisa kita lakukan, tetapi jika banyak orang yang melakukan hal yang sama, maka yang sedikit itu menjadi banyak, dan semua itu sangat berarti.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sekali-Sekali (Kalau Bisa Seringkali) “Pakailah” Mereka

  1. Abi berkata:

    Sebenarnya kasihan ya. Tapi kadang kesal juga liat mereka, sambil nunggu penumpang main judi dan kalau malam minum-minum. gak semuanya sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s