Pak Gubernur Jabar dan Kartu Lebarannya

Waktu pemilihan Gubernur Jabar beberapa tahun lalu, saya memilih pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Memang akhirnya pasangan ini yang menjadi pemenang dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Sebenarnya faktor yang menentukan terpilihnya pasangan ini adalah karena Dede Yusuf, artis yang dikenal luas terutama dikalangan ibu-ibu. Sementara Ahmad Heryawan sendiri bukanlah siapa-siapa, tidak dikenal, tetapi tiba-tiba menjadi orang penting di provinsi ini.

Sebenarnya Gubernur Jabar ini adalah orang yang sederhana, partai yang mengusungnya juga adalah partai yang dikenal bersih, jujur, dan intelektual. Namun, akhir-akhir ini saya kurang respek kepada Gubernur ini. Pasalnya karena kartu lebaran. Dengan maksud ingin menyapa warga Jabar secara pribadi, Gubernur ini mencetak 450.000 buah kartu lebaran yang bergambar dirinya sendiri (tidak bersama Dede Yusuf). Rencananya, kartu lebaran itu akan dikirim ke pejabat-pejabat, tokoh-tokoh Jabar, bupati, camat, hingga ketua RT dan RW yang tentu banyak sekali jumlahnya, maklumlah Jabar adalah provinsi dengan pendduduk paling banyak di Indonesia (30 jutaan). Tetapi Pak Gubernur tidak ingin kartu lebaran itu setelah diterima lalu dibuang, maka kartu lebaran itu didesain sehingga memuat kalender tahun 2011. Jadi orang yang menerima kartu lebaran tersebut dapat menjadikannya sebagai kalender tahun depan, sembari mematut-matut wajah gubernur yang tersenyum di kalender itu. Sebuah konsep pencitraan yang brilian.

Tidak cukup sampai disitu, perangko yang digunakan untuk mengirimkan kartu itu adalah perangko jenis prisma yang bergambar foto Gubernur ini (lagi-lagi tidak bersama Dede Yusuf). Perangko ini khusus dicetak untuk kartu lebaran itu saja dan jumlahnya sebanyak 450.000 buah. Masalahnya menjadi heboh karena biaya untuk mencetak seluruh kartu lebaran dan perangkonya berjumlah Rp 1,7 milyar, dan dana itu diambil dari dana APBD, bukan dari kantong pribadi gubernur karena gubernur mengatakan tidak punya uang sebanyak itu. Ingin eksis, tapi menggunakan uang rakyat (baca beritanya di sini).

(semua foto diambil dari sini)

Sungguh sangat menyedihkan mendengar kejadian ini. Menyedihkan karena ini sebuah ironi ditengah persoalan kemiskinaan rakyat Jabar. Dana APBD dihambur-hamburkan untuk kepentingan pencitraan diri sendiri. Masih banyak rakyat Jabar yang hidup miskin, gedung SD yang rusak, rumah penduduk hancur karena gempa, siswa putus sekolah, dsb. Bukan yang aneh kalau membaca berita ada penduduk miskin Jawa Barat yang tinggal di kandang kambing karena tidak mampu membuat rumah. Menghambur-hamburkan uang rakyat ditengah persoalan kemiskinan yang melilit Jawa Barat tentulah sikap yang tidak bijak. Lebih bermanfaat uang itu digunakan untuk memperbaiki gedung SD yang rusak yang banyak bertebaran di Jawa Barat. Saya menilai Gubernur tidak punya sense of crisis, sangat bertolak belakang dengan gaya hidup keluarganya yang sederhana dan sikap partai pengusungnya yang bersih, bersahaja, dan islami.

Dari segi etika, kartu lebaran dan perangko yang bergambar dirinya sendiri juga menunjukkan sikap narsisme. Narsis adalah sikap yang mengagung-agungkan atau memuja diri sendiri. Dalam agama sifat narsis itu menjurus ke perbuatan riya, sangat bertolak belakang dengan karakter Gubernur yang dulunya seorang ustad yang menurut saya seharusnya rendah hati dan tawdhu.

Tidak hanya gubernur, wakil gubernurnya pun tidak mau kalah, dia juga mencetak kartu lebaran sendiri. Masing-masing mereka bermain sendiri-sendiri. Orang menangkap kesan hubunngan antara Gubernur Jabar dan wakil gubernurnya terlihat kurang harmonis, masing-masing melakukan pencitraan diri sendiri, entah untuk apa, apakah mereka bersaing untuk pemilihan gubernur beberapa tahun yang akan datang? Kalau anda jeli melihat di sepanjang jalan-jalan Bandung, banyak sekali billboard atau spanduk yang menampilkan foto gubernur sendiri atau foto wakil gubernur sendiri. Jarang sekali ada spanduk yang menampilkan foto mereka berdua.

Sebenarnya kalau ingin menyapa warga Jabar dengan biaya yang lebih murah, gubernur tidak perlu membuat kartu lebaran mewah itu. Gubernur bisa saja membuat iklan layanan mayarakat melalui TV lokal, dan media lokal lainnya seperti TV, koran, dan radio. Tapi ya begitulah, gubernurnya tetap bergeming dengan sikapnya itu, gabungan sikap narsisme dan penghamburan uang rakyat untuk eksistensi.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

15 Balasan ke Pak Gubernur Jabar dan Kartu Lebarannya

  1. Ali berkata:

    Sok gagah-gagahan…

  2. rosa berkata:

    Sudah menjadi rahasia begitu duduk memangku jabatan lupa semuanya. Begitu memabukkan kursi itu. Seperti yang kemarin anggota DPR mewakili badan rumah tangga DPR untuk membangun “hotel” DPR itu tadinya juga aktifis ’98. Mental khas bangsa ini: “mumpung”. Mari kita mencoba mencontoh bangkitnya Malaysia dengan pendidikan selama 53 tahun. Dimana orang-orang pinter mau jadi guru.

  3. mujahid berkata:

    semua yang kita perbuat akan kita pertanggung jawabkan di akhirat nantinya.janganlah kita terpedaya oleh dunia ini. kita hanyalah seorang pengembara yang mampir saudara-saudaraku.janganlah kita memanfaatkan jabatan hanya mengejar keuntungan pribadi. contohlah wahai para pemimpin kisah tauladan umar bin khotab. yang mau memikul beras dan mengantarkan nya kerumah seorang janda yang papa karena dia takut akan murka allah.janganlah kita dibutakan jabatan karena itu tidak kekal. penyesalan akan datang dibelakang harinya. sesama muslim kita saling mengingatkan. semoga allah selalu membukakan pintu hati kita. wassalam

  4. Kang Jodhi berkata:

    sepertinya memang Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf akan berhadapan di pilkada mendatang

  5. Akbar berkata:

    tapi saya bersyukur pak dengan pemda jabar yang sekarang. saya sendiri mendapat beasiswa dari pemda jawa barat untuk 4 tahun di ITB, dan beasiswa ini juga terus menerus menurun pada adik2 saya yang masuk ITB. Program beasiswa ini baru mulai sejak pak ahmad heryawan terpilih.

  6. dji sam soe berkata:

    napa ga ada yg demo?

  7. Alris berkata:

    Masih lama waktu pelaksanaan pilkada gebernur, tapi dari sekarang rupanya sudah mulai bertarung. Saya rasa jabatan memang memabukkan. Saya prihatin partai yang memilih pasangan ini salah pilih calon. Jangan berharap banyak pada pimpinan yang model begini.

  8. junthit lee berkata:

    Kalau cuma berpatokan pada “kartu lebaran”, sebaiknya kita tdk menggunakannya untuk menilai kwalitas kepemimpinan seseorang.

    • Ario berkata:

      Walau terlihat sepele, tp justru hal sepele spt ini publik dgn mata telanjang dapat melihat betapa tidak pekanya pemimpin propinsi ini terhadap hal2x yg mestinya bisa lebih diprioritaskan, ngomong2x udah 2 tahun beliau menjabat ada yg bisa menjelaskan prestasi beliau2x itu ?? Kalau ada prestasi menonjol yg membedakan dgn pemimpin sebelumnya sich mungkin bisa menolong citra diri mereka yg sudah terlanjur rusak ini

  9. batikmania berkata:

    Selalu ada sisi positif dan negatif dari berbagai hal, juga pada diri setiap orang. Mari kita timbang-timbang baik-buruknya kepemimpinan beliau saat ini. Jika memang sisi negatifnya relatif lebih banyak, ya… pilkada berikutnya, tak usah memilih dia.
    Maaf lahir-batin ah…

  10. Abdul Rohman QOM berkata:

    Innalillahi wainnailaihi rojiun, InsyaAllah Bp Gubernur ini mau berbuat tapi tidak memiliki dananya, karena sudah berkomitmen tuk tidak korupsi, tapi wallohualam kebanyakan pejabat lain secara sembunyi-sembunyi bisa mengumpulkan dananya, ya dari apa lagi selain korupsi. jadi bisa dengan dananya sendiri untuk mencitrakan diri, Pak Gubernur memang masih harus belajar turun ke lapangan untuk melihat keadaan rakyat bapak yang melarat, Tapi saya masih bersukur di kepemimpinan bapak sudah mulai tampak pengurangan mental-mental korup walau masih sedikit, yaaa dibandingkan dengan pemimpin yang sudah biasa korupsi masih untung juga bapak terpilih tapi sekali lagi jaga perasaan pesaing bapak yang sinis yang akan selalu melihat kelemahan-kelemahan bapak dari pada kelebihan-kelebihan bapak.

  11. tawazun azaah ... berkata:

    memang sich klo dipikir2 orang mo cari lemahnya … sedikit2 dibandingin klo dimanfaatin buat wong cilik … sy yakin semua sdh ada proporsinya … dan yg mencemooh jg belum tentu bs berbuat utk wong cilik yg laen … moga2 pinter ngomong ya… pinter berbuat … dan tanya langsung aja ma beliau … jgn bikin kata2 yg ujungnya fitnah … krn fitnah lbh kejam dr fitamin …

  12. hilmansyah berkata:

    Kan udh dikasih tau, kartu lebaran tsb nilainya jauh dibandingkan dengan dana u rakyat jabar.yang besar.tolong simak klarifikasi beliau

  13. arifromdhoni berkata:

    Kalopun memakai dana pribadi sih tidak masalah, tapi jika memakai dana ummat bukan untuk kepentingan ummat, wallaahu a’lam. Insyaallah masing-masing pimpinan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

  14. galih berkata:

    Arogansi pimpinan yang diusung pks hampir semua,makanya kedok az jd partai bersih dan jujur teh.akhirnya ttp cari kekuasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s