Beda Penangkapan Perampok Bank CIMB Niaga Medan dengan Penangkapan Gayus

Membaca penangkapan orang yang diduga perampok Bank CIMB Medan yang menghebohkan itu membuat hati terasa bergidik. Betapa tidak, ketika pelaku sedang melaksanakan ibadah shalat, Densus 88 menendang dan menginjak-injaknya hingga babak belur. Baca beritanya di sini dan di sini. Tidak kurang Hendardi dari Setara Institute mengecam aksi brutal Densus 88 itu. “Jika benar ini terjadi, tindakan Densus 88 Mabes Polri merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), karena penggunaan senjata api hanya dibenarkan jika sasaran melakukan perlawanan atau melarikan diri,” terang Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, dalam keterangan persnya, Senin (27/9).

Betul bahwa pelaku perampok itu diduga teroris, tetapi itu baru dugaan, belum tentu mereka bersalah. Negara kita menjunjung tinggi hukum. Asas praduga tidak bersalah harus kita junjung tinggi. Benar tidaknya mereka perampok atau teroris baru bisa dibuktikan nanti di pengadilan. Namun bukan berarti polisi berhak bertindak apa saja untuk menangkap mereka, apalagi tindakan itu dilakukan ketika pelaku sedang melaksanakan shalat.

Sangat beda sekali jika dibandingkan dengan aksi penangkapan Gayus di Singapura atau penangkapan para koruptor lainnya. Koruptor merampok uang negara bermilyar-milyar bahkan trilyunan, lebih besar berlipat kali daripada uang yang dirampok oleh perampok itu. Namun, polisi menangkapnya dengan cara yang tidak menghinakan, apalagi melanggar HAM. Gayus misalnya, sebelum ditangkap dia diajak makan-makan dan ngobrol-ngobrol dulu oleh polisi di restoran Singapura. Suasana penangkapannya terkesan santai. Setelah berhasil dirayu untuk pulang ke Indonesia, dia dibawa dengan pesawat terbang dan ditempatkan di ruang tahanan. Tidak jauh beda dengan Gayus, penangkapan koruptor lainnya juga dengan cara yang beradab, tidak brutal.

Entah dimana rasa keadilan. Bukan berarti kita harus membela perampok bank itu dan menolak Densus 88. Pemberantasan terorisme oleh kepolisian (Densus 88) tetap harus didukung, namun bukan berarti tidak menyisakan ruang untuk koreksi, hanya cara-cara penangkapannya yang perlu dipermasalahkan agar tidak melanggar hak asasi seseorang. Polisi boleh menembak jika pelaku melawan atau bersenjata. Pada sisi lain, perampok bank, Gayus, dan para koruptor lainnya sama saja, sama-sama jahat dan tidak pantas dibela. Mereka sama-sama merampok uang yang bukan haknya. Perbuatan mereka sama bejatnya. Mungkin bedanya perampok bank melakukan aksinya secara hard — dengan kekerasan bahkan pembunuhan, sedangkan Gayus atau koruptor melakukan aksinya secara soft — dengan menyuap sana sini. Hanya malangnya karena pelaku perampok bank itu diduga teroris, maka dia harus mendapat perlakuan tak ubahnya binatang.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Beda Penangkapan Perampok Bank CIMB Niaga Medan dengan Penangkapan Gayus

  1. Zakka berkata:

    Tak ubahnya binatang? Binatang aja dapet perlakuan yang lebih baik dari itu…

    Lagipula, semua tuduhan teroris dan kawan-kawannya itu, sejauh ini belum ada yang terbukti benar… Sepertinya itu titipan dari negara-negara lain saja… Toh buktinya “teroris-teroris” tersebut semuanya “sejenis”

  2. Kang Jodhi berkata:

    GAM gaya baru dianggap teroris, sedangkan gerakan sejenis di Papua hanya dicap sebagai GPK

  3. cape berkata:

    sepertinya ada hubungannya dengan amerika pak,hehe *nyambung teori konspirasi nih😀

  4. Supar berkata:

    Stop menebar polemik..
    Tanpa niat membela siapa2. Semua jg tau Menangkap koruptor jelas tdk sama dgn menangkap teroris..teroris membawa senjata api, koruptor tdk.
    Jgn bawa2 sholat jg.. Sy sudah muak dgn orang2 yg melakukan teror dan kekerasan dgn atas nama islam..pdhl itu sgt merugikan umat islam yg lain.
    Selanjutnya, Membawa senjata api apalagi senjata serbu, sudah merupakan indikasi kuat seorang penjahat. Apa masuk akal org yg selalu bawa senjata api di ajak berunding makan2 di restoran??

    Sy setuju bila tindak kriminal dan teroris di tindak dgn tegas, tdk ada alasan apapun yg mensyahkan seseorang melakukan kejahatan dgn merugikan org lain.
    Masalah di negri ini sudah sgt komplek, jgn di tambah dgn hal2 yg tdk penting.
    Kita sudah jauh tertinggal dgn sodara2 kita yg lain karna terlalu banyak membahas hal2 yg tdk penting seperti ini.
    Jika anda bilang ini HAM, siapa yg anda contoh? Amerika yg bapaknya ham, apa mereka jg menjunjung tinggi ham?

    Demi kemajuan negara dan agama kita, mari berpikir lebih jauh.
    Lebih Baik Menyalakan sebatang LILIN daripada MEMAKI Kegelapan !!

    Peace.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s