Indomie, Antara di Taiwan dan di Indonesia

Ribut-ribut soal larangan Pemerintah Taiwan terhadap produk Indomie dari Indonesia karena mengandung zat pengawet membuat saya teringat office boy kami di Informatika ITB. Namanya Ponim*n, dia sebenarnya pramu kantor, namun melihat banyaknya mahasiswa kami yang sering ngendon di lab-lab, dia menangkap peluang bisnis yang menggiurkan. Mahasiwa-mahasiswa itu sering kelaparan, apalagi kalau mengerjakan tugas kuliah berjam-jam lamanya di depan komputer. Mau cari makan di luar malas, maka untuk mengganjal perut mereka memesan indomie rebus atau indomie goreng kepada Ponim*n. Tiap sebentar saya perhatikan Ponim*n hilir mudik mengantarkan pesanan indomie mahasiswa. Kadangkala ada mahasiswa yang nongkrong di depan dapur menunggu pesanan mie dan makan di sana. Sebenarnya saya ingin melarang, karena kampus kami bukan restoran yang menerima pesanan makanan siap antar. Pemandangan yang tidak sedap melihat mahasiswa makan mie di meja-meja lab atau di depan dapur. Lagipula Ponim*n memasak mie itu dengan gas yang dibeli dari dana kantor, yang seharusnya tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi (bisnis). Tetapi mau melarang kok ya nggak tega juga orang kecil semacam dia, apalagi dia mendapat tambahan penghasilan yang lumayan dari berjualan mie instan itu.

Dalam sehari dia mampu menjual satu kardus mie yang isinya 40 bungkus. Saya tidak bisa membayangkan berapa gram sehari zat pengawet dan zat kimia lain yang masuk ke dalam perut mahasiswa. Sudah lama ada anekdot di kalangan mahasiswa bahwa indomie adalah makanan penyelamat anak kos. Ketika kantong mulai kempes pada akhir bulan, maka makan mie instan adalah alternatif yang banyak dilakukan. Tapi banyak pula yang makan mie instan hanya sekadar pengganjal perut dikala lapar.

Indomie sudah menjadi nama generik bagi mie instan. Apapaun merek mie instannya, orang tetap menyebutnya indomie. Tentu saja begitu karena mie instan merek indomie ini menguasai mayoritas pasar mie di Indonesia, dan sudah diekspor ke mancanegara. Mie ini mempunyai penggemar ratusan juta orang, dan saya yakin hampir setiap orang Indonesia penyuka mie instan. Utamanya anak-anak yang sangat menyukai makan mie.

Saya sendiri bukan penggemar setia mie instan. Hanya sesekali saja saya makan indomie, kadang sebulan sekali, kadang dua bulan sekali. Bagi saya makan mie instan tetaplah tidak sehat. Banyak zat berbahaya di dalam mie itu, seperti zat pengawet, MSG, pewarna dan lain-lain. Bolehlah makan makanan yang mengandung zat berbahaya itu, tetapi tidak boleh sering-sering. Makanya saya sering geleng-geleng kepala melihat orang-orang yang berbelanja di supermarket memborong mie aneka merek dalam jumlah besar. Sepertinya mereka hampir makan indomie setiap hari.

Kasus penolakan indomie di Taiwan seharusnya menyadarkan Pemerintah kita untuk melarang makanan yang mengandung zat pengawet dan zat berbahaya lainnya. Di Taiwan indomie dilarang, di negara kita malah menjadi makanan favorit. Selain indomie, banyak sekali jajanan anak-anak yang mengandung zat-zat semacam itu. Seakan-akan tidak gurih kalau tidak pakai MSG, seakan-akan tidak menarik jika tidak berwarna. Saya sering bergidik jika membeli makanan instan buat anak-anak semacam snack ringan itu, biasanya saya selalu membaca komposisi bahannya. Membaca nama-nama kimia yang mengerikan pada bungkus kemasannya, saya sering tidak habis pikir, bagaimana mungkin makanan semacam ini bisa lolos dari BPOM. Meskipun kadarnya sedikit, namun anak-anak sering ketagihan dan minta dibeli lagi, akhirnya zat kimia itu terakumulasi menjadi racun berbahaya bagi pertumbuhan. Mengerikan!

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Indomie, Antara di Taiwan dan di Indonesia

  1. ibnuA berkata:

    Sayangnya di Indonesia produk makanan yang tanpa zat aditif masih jarang, Pak. Selain itu lebih mahal juga.😀

    Menurut saya yang paling mengerikan itu makanan buatan industri kecil dan jajanan pinggir jalan. Umumnya mereka kan tidak memiliki kontrol kualitas yang baik. Ada yang memakai pewarna kain, ada yang memakai formalin, ada yang memakai MSG sangat banyak.

  2. Dwi Kurniawan berkata:

    ada anekdot lain di tempat sebelah.
    kan lambung orang Samarinda sudah tebel-tebel jadi ndak mempan kena pengawetnya mie instan. *LOL

  3. Zulfikar Hakim berkata:

    beliau diminta membeli kompor dan gas sendiri saja Pak. Saya kira sudah cukup itu profitnya dari berjualan selama ini untuk beli. Kalo berjualan dengan cara seperti itu kok bagi saya kayak korupsi dalam skala kecil ya😦

    *Walaupun tidak bisa dipungkiri saya ga jarang beli mie beliau juga sih*

  4. ikhwanalim berkata:

    klo kata kuliah di s1 farmasi dulu, semuanya itu berbahaya pak. tapi ada dosisnya.

    ya susahnya manusia ya itu, susah nahan godaan sama makanan enak.

    tapi ya harus tetep diingat klo kebanyakan itu berbahaya.

    keqnya dua bungkus seminggu makan mie instan itu udah jumlah maksimal deh,,jangan kebanyakan kepengaruh iklan,,ma buat yg mahasiswa atur2lah biar ga kebanyakan makan mie di akhir bulan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s