Ustad pun Bisa Terjerembab Dosa

Ghibah lagi, ghibah lagi, gosip lagi gosip lagi. Itu pula berita di TV dan media cetak yang begitu gencar dua hari belakangan ini. Capeee deh, Indonesia tidak pernah sepi dari kasus-kasus asusila. Mau tidak mau saya “terpaksa” pula mengikuti berita ini, soalnya tentang seorang ustad beken berjuluk Dai Sejuta Umat, yaitu Zainuddin MZ (ZMZ), dituduh telah memperkosa seorang artis dangdut bernama Aida sembilan tahun lalu. Di TV terlihat Aida bersumpah dengan nama Allah bahwa kejadian itu benar, sementara di media daring diberitakan bahwa ZMZ juga bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak melakukan hal yang nista itu.

Siapa yang benar dan siapa yang berbohong? Dua-duanya bersumpah dengan nama Allah. Itu sumpah yang maha berat lho, sebab telah membawa-bawa nama Tuhan, sangat besar murka Allah kalau orang yang bersumpah dengan nama-Nya ternyata berbohong. Feeling saya mengatakan bahwa perkosaan itu benar adanya. Itu feeling lho, jadi mungkin saja benar atau mungkin saja salah. Saya mempunyai alasan kenapa saya mempunyai feeling demikian. Kasus ini mungkin cara Allah SWT untuk mengungkap siapa sebenarnya ZMZ tersebut. Mungkin dia tidak sebaik atau sealim yang umat kira, maka Allah menunjukkan belangnya, apalagi dia seorang dai yang membawa ajaran agama. Namun, sebaliknya, mungkin saja ini batu ujian baginya, yang memang tidak pernah berbuat perbuatan keji itu.

Mudah bagi Allah SWT menegur hamba-Nya yang terlena kerena popularitas duninia. Hanya Allah yang berhak memiliki segala puja dan puji, manusia tidak berhak sama sekali. Puja dan puji bisa membuat manusia tersanjung, lalu sesudah itu penggemar yang terlalu mengagumi dirinya mulai “mempertuhankan” dirinya dengan menempel gambar posternya di dinding rumah, mengelu-elukannya, mengkoleksi segala penak pernik tentang dirinya, dan pengkultusan lainnya. Jatuhlah perbuatan penyanjungan itu menjadi perbuatan syirik, sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah. Untuk menjauhkan manusia dari syirik itu, maka Allah menegur manusia yang terlena dengan pengkultusan itu dengan cara-Nya sendiri. Aa Gym adalah contoh yang dapat menjelaskan fenomena ini. Pada puncak popularitasnya, Aa Gym begitu dikagumi, disanjung, dan dielu-elukan oleh umat dan media massa. Segala pernak-pernik tentang dirinya dikoleksi orang, poster dirinya justru diproduksi oleh pesantrennya sendiri dan dijual kepada penggemar Aa Gym. Saking tersanjungnya, sampai-sampai dalam ceramah di Masjid Istiqlal yang disiarkan langsung oleh televisi, Aa Gym dengan bangga memperlihatkan cover majalah Time yang memuat gambar dirinya. Saya melihat kala itu Aa Gym sudah dikultuskan oleh umat. Maka, dengan cepat Allah membalikkan semua itu. Aa Gym pun “salah melangkah” dengan melakukan pernikahan kontroversial yang kedua. Meskipun poligami yang dilakukannya itu bukan dosa, tetapi sebagai tokoh panutan ummat semestinya dia tidak usah melakukan poligami itu karena bukan keadaan yang darurat, tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dengan menikahi janda-janda yang ditinggal mati suaminya karena perang. Jatuhlah Aa Gym karena pilihannya itu, dan hilanglah semua yang telah dicapainya selama ini, ya popularitas, ya bisnis, ya jamaah, kepercayaan umat, dan sebagainya. Itulah bentuk teguran Allah kepada Aa Gym supaya ia tersadar dari mabuk popularitas dan supaya umat tidak berbuat syirik.

Pada kasus yang berbeda, K.H. Nur Iskandar SQ — yang dulu sempat naik daun utamanya dikalangan selebriti — juga jatuh popularitasnya karena tindakannya melakukan pernikahan semalam dengan janda korban Peristiwa Tanjung Priok. Pernikahan yang dilakukannya sendiri tanpa saksi dan tanpa wali di sebuah hotel, lalu keesokan harinya diceraikan begitu saja. Begitu mudah bagi Allah untuk menegur hamba-Nya yang terlena oleh pujian manusia, begitu mudah bagi Allah menunjukkan belang manusia.

Ustad pun manusia biasa, dia bukan maksum, dia bisa saja khilaf dan terjerembab ke perbuatan dosa. Namun, dosa para ulama semestinya berlipat ganda dibandingkan dosa umatnya, karena dia adalah penganjur kebajikan, namun dia sendiri melanggar apa yang disampaikannya. Itulah, kepada siapapun — termasuk kepada ulama sekalipun — kita tidak boleh bersikap terlalu berlebihan dengan mengkultuskan atau menyanjungnya. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Hanya Allah SWT yang berhak memiliki segala pujian. Bagi orang yang terkenal, cepatlah beristighfar ketika disanjung-sanjung dan dipuji-puji, sebab ketika engkau terlena dengan pujian itu, sangat mudah bagi Allah SWT mencabutnya. Sudah terlalu banyak contoh dan kejadian di dunia ini yang dapat kita jadikan pelajaran.

Kembali ke kasus ZMZ tadi, kalau benar ZMZ melakukan perkosaan itu, alangkah besar dosanya, dan tidak pantas lagi dia menjadi ulama panutan umat. Namun jika itu tidak benar, maka alangkah kejinya fitnah yang dilancarkan kepada dirinya. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

12 Balasan ke Ustad pun Bisa Terjerembab Dosa

  1. hamka berkata:

    iya sepakat pak, Allah akan memberikan cobaan pada hambaNya sekalipun itu ustadz. Kebenaran pastinya hanya Allah dan pelaku yang tahu

    numpang komen aja buat yang kasus Aa Gym:🙂
    IMO untuk kasus yang Aa Gym itu menurut saya adalah urusan pribadi Aa Gym yang berpengaruh pada popularitasnya, Aa Gym dan orang2 disekitar (keluarga) berhak menentukan jalan hidupnya, tentu beliau juga sudah memikirkan resiko akan kehilangan popularitas. Jadi bukan hak kita menjudge salah atau benar urusan pribadi orang lain.
    justru dengan itu dapat dilihat berapa banyak pendengar pengajian yang benar2 mendengar isi pengajiannya atau hanya sekedar karena ikut popularitasnya

    • rinaldimunir berkata:

      Betul itu urusan pribadi Aa Gym, tapi beliau lupa bahwa secara sosial dia adalah tokoh panutan, maka semua gerak geriknya pastilah menjadi teladan umat. Dalam hal poligami, dia tidak salah, halal kok, namun untuk saat itu pilihan berpoligami bukanlah hal yang mendesak yang dia lakukan. Ketika umat membutuhkan panutan karena tiada lagi pemimpin yang dijadikan contoh teladan, maka kehadiran Aa Gym menjadi oase di tengah padang pasir. Namun, keputusannya menikah lagi — yang bukan dalam keadaan mendesak — justru membuat umat yang kebanyakan ibu-ibu menjadi kehilangan kepercayaan.

      Kalau Aa Gym bukalah siapa-siapa, keputusannya menikah lagi tidak akan membuat orang lain peduli, tetapi karena dia adalah tokoh, maka saya menilai dia telah melakukan keputusan yang kurang tepat (“salah melangkah”). Mungkin ini pulalah cara Tuhan untuk menjauhkan umat dari perbuatan syirik karena terlalu mengkultuskan Aa Gym.

  2. Ardiansyah berkata:

    khusus masalah Aa’ Gym tidak ada masalah sama sekali. Pernikahannya pun tidak kontroversial, apalagi perbuatan yang salah. Hanya media lah yang telah berhasil menggoreng berita tsb, sedemikian rupa menggiring opini publik bahwa aa’ gym telah salah. Ditambah lagi pemahaman sebagian besar masyarakat islam yg seolah2 mentabukan poligami.

  3. Zakka berkata:

    saya cenderung setuju dengan dua komen di atas…

    lebih baik poligami daripada terjerumus zina, kan Pak🙂

    • rosa berkata:

      Lebih baik lagi tidak zina dan poligami :p. Poligami itu solusi, seperti halnya cerai. Makanya Pak, saya tidak percaya ustad-ustad yang ada di TV😀. Intinya itu pekerjaan cari duit, bukan tulus berdakwah.

  4. Putra berkata:

    …”Mau tidak mau saya “terpaksa” pula mengikuti berita ini”…sebenarnya bapak bisa memutuskan tidak mau, untuk tidak menggapi berita ini,tidak perlu terpaksa karena tidak ada seorang pun yg memaksa,,karena bisa jadi malah kita yg menanggapi juga terlibat dalam ghibah yg bapak sebutkan di awal tulisan🙂, *sekedar sharing🙂,

    • rinaldimunir berkata:

      Susah mas untuk tidak membaca atau menanggapinya, karena ini menyangkut sosok ulama, orang yang seharusnya kita hormati. Apa karena yang tersangkut masalah ini adalah ustad atau ulama maka kita tidak boleh bersuara? Ustad atau ulama tidak bebas kritik, mereka juga manusia biasa juga yang tidak luput dari salah. Diskusi ini bukan ghibah “infotainment” selama kita berdiskusi untuk mencari kebenaran dan mengambil ibrah.

  5. adywicaksono berkata:

    tidak ada asap tanpa api

  6. arifromdhoni berkata:

    Pernah mendengar kisah Bani Israil tentang Juraij, yang dituduh berzina dengan seseorang, padahal dia tidak melakukannya? Lebih baik tidak berprasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Wallaahu a’lam.

    Setahuku dalam hukum Islam, seseorang yang menuduh zina harus menghadirkan empat orang saksi yang adil. Jika tidak bisa, maka tuduhan itu tidak berlaku dan hukuman diberikan kepada si penuduh.

    Atau orang yang berzina mengakui sendiri bahwa dia berzina, sehingga dia dapat bertaubat dan memperoleh hukuman di dunia. Adapun apakah taubatnya diterima atau tidak, itu adalah urusan Allah.

    Adapun untuk kasus suami istri saling menuduh, maka ada hukum li’an (saling melaknat). Wallaahu a’lam.

    Tolong dikoreksi bila ada kesalahan.

  7. fauzi hp berkata:

    sebenernya itu urusan pribadi zmz dan aida, krn sudah global ya saya hnya bisa bilang klo benar adanya maka dengan sangat tulus dan iklas zmz minta maaf ke publik dari pada ia harus bersumpah demi allah tidak melakukannya, itu bisa bosa yang amat besar apalagi dia seorang pemuka agama. dan saya rasa kejadian itu memang benar adanya, terlepas dari kita berprasangka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s