Kecil-kecil Sudah Juara Bikin Software

Teman saya sesama dosen STEI, Dr. Yusep Rusmansyah, mungkin hari-hari ini lagi berbahagia. Dua orang anaknya yang masih kecil-kecil, satu berusia 12 tahun dan adiknya berusia 6 tahun, meraih juara (winner) APICTA di Kuala Lumpur baru-baru ini. Karya mereka merupakan kumpulan program game edukasi sederhana yang dibuat menggunakan Adobe Flash Lite untuk ponsel Nokia E71 dengan judul “My Mom’s Mobile Phone As My Sister’s Tutor” (Ponsel Ibuku Untuk Belajar Adikku). Keduanya berhasil mendapat apresiasi tinggi dari tim juri APICTA Internasional 2010 yang digelar 12-16 Oktober 2010 dan memperoleh skor tertinggi (berita selengkapnya baca di sini). APICTA (Asia Pacific ICT Alliance Awards) adalah ajang kompetisi internasional yang diselenggarakan secara berkala (tahunan) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ICT (Information and Communication Technology) dalam masyarakat dan membantu menjembatani kesenjangan digital.

Hebat euy, kecil-kecil sudah pintar bikin piranti lunak (software). Kalau anak SMP sudah jago mrogram atau bikin aplikasi, itu sudah biasa saya dengar. Tapi kalau anak SD, itu sangat jarang. Mahasiswa saya yang masuk Informatika memang ada yang sudah bisa memprogram sejak SMP, tetapi kalau memprogram sejak SD saya belum tahu. Membuat program itu kan butuh kemampuan logika, seumuran anak SD saya rasa masih sulit untuk memahami algoritma dan pemrograman, apalagi memprogram yang cukup kompleks. Kalau anak SD bisa membuat website sederhana sih bukan hal yang aneh, sebab sudah banyak kakas seperti Frontpage untuk membuatnya. Tapi kalau anak SD bisa membuat aplikasi dengan Java, wah… wah.. salut deh. Oh ya, kisah kedua anak tadi bisa dibaca pula di sini.

Melihat prestasi yang diraih oleh anak teman saya itu, saya sih tidak heran. Bakat anak sepertinya turun dari bapaknya, sebab ayah mereka adalah pakar di bidang teknologi informasi. Seperti kata peribahasa, air cucuran atap itu jatuhnya ke pelimbahan juga. Memang betul, anak-anak itu peniru yang ulung, mereka suka meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Mereka amati apa yang dikerjakan orangtuanya, lalu minta diajarkan, lalu dicoba sendiri, lama-lama bisa juga. Jadi, kalau bapaknya sering memakai komputer, anaknya juga bisa memakai komputer. Kalau bapaknya membuka usaha bengkel, maka anaknya juga mampu melakukan pekerjaan bengkel, kalau orangtuanya guru, anaknya jadi dosen, dan lain-lain.

Secara tidak langsung, perlakuan orangtua kepada anak berpengaruh terhadap bakat dan minat anak. Mahasiswa saya yang sudah jadi bapak, selalu menaruh anaknya di pangkuan ketika ia memprogram di depan komputer. Saya percaya kelak anaknya juga jago memprogram seperti bapaknya yang pintar itu.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kecil-kecil Sudah Juara Bikin Software

  1. arifromdhoni berkata:

    Hm, anakku bagaimana ya?🙂

  2. Zakka berkata:

    wah saya sering ketemu ama dua anak ini dulu waktu masih kerja ama Pak Yusep…

    Yang gede sering maen bola bareng😀

  3. ghifar berkata:

    udah kehabisan kata-kata harus memuji kyk gimana🙂

  4. absoluterevo berkata:

    Anak2 bandung hebat eu……y!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s