Rindu pada Masanya, Bukan Orangnya

Menjelang hari Pahlawan 10 November 2010 nanti, muncul polemik wacana pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden (alm) Soeharto. Banyak pihak yang menentang pemberian gelar pahlawan itu, terutama dari aktivis HAM, aktivis mahasiswa 1998, kelompok wartawan, dsb. Umumnya mereka yang menolak itu beralasan bahwa Soeharto tidak pantas diberi gelar pahlawan karena dia adalah pelanggar berat HAM, seorang diktator, orang yang memperkaya diri dan keluarganya, koruptor, dan aneka deret kebencian lainnya. Mungkin mereka yang menolak itu pernah merasakan perlakuan buruk dari rezim mantan presiden itu sehingga menyoal dengan keras pemberian gelar pahlawan.

Namun, coba tanya kepada sebagian rakyat yang pernah merasakan hidup dimasa Soeharto. Banyak pula dari mereka yang merindukan masa-masa Presiden Soeharto. Pada masa Presiden Soeharto memerintah selama 32 tahun, Indonesia hampir tidak pernah ada gejolak yang berarti. Tidak pernah terdengar ada kerusuhan, dimana-mana di seluruh negeri terasa aman. Harga barang-barang pun masih murah dan stabil. Beras dan minyak tanah mudah didapat bagi orang kecil. Nilai tukar dolar terhadap rupiah masih rendah, dan lain-lain. Kondisi tersebut bisa terjadi karena Soeharto didukung oleh 3 pilar yang kuat, yang diberi nama ABG, yaitu ABRI (sekarang TNI), Birokrasi, dan Golkar. Dia memerintah dengan tangan besi. Rakyat begitu takut kepada Soeharto karena kalau anda macam-macam nanti dianggap subversif, istilah yang sangat ditakutkan pada masa itu sebab identik dengan penggulingan Pemerintah. Tetapi, justru karena “tangan besi” tersebut tercipta rasa tenang dan stabil karena potensi konflik sangat jarang. Hanya pada masa-masa akhir jabatannya dia mulai lepas kendali, terutama keluarga dan orang disekelilingnya yang menyalahgunakan kekuasaan bapaknya untuk memperkaya diri dan kekuasaan. Sejarah mencatat karena kelakuan keluarganya itulah maka seluruh jasa Soeharto seakan-akan hilang begitu saja, yang akhirnya menyebabkan dia jatuh dari kekuasaan dengan cara yang tidak mengenakkan.

Setelah beliau lengser dari pemerintahan, maka bangsa ini seakan botol yang menumpahkan isinya setelah sekian lama tersumbat. Apa yang dipendam selama ini akhirnya dimuntahkan dan luber kemana-mana. Terjadilah euforia kebebasan dimana-mana. Media massa begitu galak berbicara setelah sekian lama mulutnya dilakban. Rakyat bebas melakukan demonstrasi dan aksi unjuk rasa tanpa takut ditangkap. Setiap orang seperti bebas berbicara semaunya, mengkritik pedas Pemerintah, anggota DPR, pejabat, dan sebagainya.

Tetapi kebebasan yang lahir setelah era Soeharto itu ternyata juga memiliki efek negatif. Pornografi begitu marak, kerusuhan menjadi-jadi, finah dimana-mana. Negara menjadi tidak stabil. Harga barang kebutuhan menjadi tidak terjangkau. Penderitaan itu ditambah lagi dengan bencana alam yang sering terjadi, seakan tidak henti negara ini dilanda bencana.

Di tengah kondisi bangsa yang carut marut itu, wajar saja banyak orang yang merindukan masa-masa Soeharto. Mereka membandingkan kondisi sekarang dengan kondisi masa lalu. Kesimpulan mereka, kondisi masa Soeharto jauh lebih baik dibandingkan sekarang. Ingat lho, rakyat merindukan masa-masa Soeharto, bukan Soehartonya. Bagi rakyat kebanyakan, siapapun yang memerintah tidak masalah, yang penting aman, harga barang kebutuhan pokok murah, pokoknya semuanya murah. Sederhana saja cara berpikiran rakyat kecil itu.

Lantas, soal pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto itu bagaimana? Tergantung definisi pahlawan itu apa. Jika pahlawan itu adalah orang yang banyak berjasa kepada bangsa dan negara, maka Soeharto jelas layak menerimanya. Tetapi jika ada syarat bebas dari kesalahan dan cacat moral, saya pikir mantan Presiden Soekarno yang telah menyandang gelar pahlawan tidak kalah diktatornya dibandingkan Soeharto. Keduanya punya rekam jejak yang buruk pada masa lalu. Jadi, untuk memberi seseorang gelar pahlawan, kita harus menyepakati apa arti pahlawan itu. Sayangnya bangsa ini tidak pernah selesai menetapkan definisi pahlawan itu seperti apa, sehingga akhirnya berpolemeik terus tiada habis-habisnya.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Rindu pada Masanya, Bukan Orangnya

  1. ipam berkata:

    apa mungkin karena pada masa 1950an s/d awal 2000an kita sedang menikmati gelontoran utang IMF ya pak …. jadi cashflow RI benar2 sedang sehat2nya ? Jadi bisa beli ini itu, bangun sana bangun sini. tapi sekarang ini, saatnya kita bayar utangnya dengan jumlah ribuan trilyun. Mungkin

    • rinaldimunir berkata:

      Tahun 1950-an belum ada IMF, Pam. IMF baru ada setelah tahun 1998 sejak krismon.

      • Nanda Firdausi berkata:

        Kalo di Wikipedia sih katanya IMF sudah ada dari 1945: http://en.wikipedia.org/wiki/International_Monetary_Fund

      • Didin berkata:

        AFAIK, IMF dan World Bank institusi produk Bretton Woods (sesudah perang dunia II), awalnya untuk mendanai pembangunan pasca perang, yg kemudian jadi mesin ampuh mentransfer kebijakan ekonomi-politik-development ke hampir semua negara di dunia (ada yg lolos? ragu). Apalagi sejak Pak Harto berhasil meng-coup (ini bhs sejahrawan asing), Pak Harto mengimplementasikan kebijakan2 ‘wajib’ WB&IMF sbg dukungan thd kekuasaan Pak Harto & timbal balik gelontoran (pinjaman uang),WB dan IMF itu institusi keuangan, ga pernah ngasih cuma2 ^_^

  2. ady wicaksono berkata:

    namanya perjalanan waktu… kadang di atas kadang di bawah, cuman kalau di atas kadang suka lupa diri, akibatnya ya dinistakan sama Yang Kuasa

  3. Mifta berkata:

    namanya juga kehidupan, kadang di atas kadang di bawah…

  4. Didin berkata:

    Mohon koreksi jika keliru (MKJK), menurut sy pilihan politis (dan kebijakan) Pak Hartolah yang konsekuensinya ditanggung skr, yaitu pilihan untuk mengambil strategi pembangunan (jangka pendek & panjang) industrialisasi dg pinjaman bunga berbunga (kpd WB&IMF&bilateral lain), konglomerasi sehingga kapital ditangan segelintir orang (yg penting agregat pertumbungan GDP tinggi, mengabaikan equality, apakah pendapatan terdistribusi merata), dan pada saat yang sama industrialisasi dg mengabaikan pembangunan bidang pertanian (contohnya: membesarkan/mensubsidi tanaman perkebunan negara teh/kopi dsj dan membiarkan petani yg merupakan wajah sebagian besar Ind.). Satu hal lagi, represif kpd gerakan Islam & minoritas kritis for the sake of stabilitas nasional (masih ingat kan ini dalam trilogi pembangunan?)

    Berandai-andai sudah tidak boleh, sy jg tdk tahu apa pilihan politis orang jk bukan Soeharto pada saat itu (1968), dg kekuatan dunia yg tdk seimbang saat itu. Jd skr konsekuensi kita: utang menumpuk, sektor pertanian tertinggal, social-exercise demokrasi setelah keluar dr represi dg ongkos yg suangat muahal, konglomerasi korupsi KKN, dan yg paling membayahakan adalah inequality (income, power) yg rawan separatisme.

    Kalau keberhasilan Pak Harto, menurut saya paling sukses program Keluarga Berencananya ^^

    • Didin berkata:

      sampe tertinggal: ini yg akhir2 ini menyeruak di benak setelah carut marut sektor public transport, pilihan untuk membuka lebar-lebar pintu bagi rejim otomotif dan minyak/bensin (saat itu sbg imbal balik atas pinjaman yg diberikan Jepang), sehingga sektor public transport benar-bener di discourage. Panjang lintasan rel menurun drastis bahkan dibandingkan dg ketika jaman dibangun Belanda. Dampaknya salah satunay Jkt sudah benar2 turun kualitas daya dukung lingkungannya.
      Tapi memang rejim minyak sangat perkasa, bahkan di negara maju mereka jg penguasašŸ˜¦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s