Ini Kuliah di ITB atau Kuliah di Google?

Dalam satu sesi kuliah seorang mahasiswa saya bertanya, “Sebenarnya kami ini kuliah di ITB atau kuliah di Google, sih?”. Olala, ada apa gerangan sehingga dia bertanya begitu? Sebelum mengajukan pertanyaan tersebut mahasiswa tadi mengutarakan unek-uneknya. Banyaknya tugas-tugas kuliah di Informatika ITB yang menuntut mahasiswa mencari dan mengeksplorasi sendiri bahan-bahan tugas dari Internet (seperti program, bahasa pemrograman, kakas, metode, trik pemrograman, dan teknologi terbaru lainnya). Semua yang dicari sebenarnya sudah tersedia di Internet, tinggal tanya saja ke Mbah Google, maka apa yang dibutuhkan tersaji dengan cepat.

Hampir tidak ada tugas kuliah di Informatika tanpa mencari bahannya di Internet. Hampir setiap hari mahasiswa di sini mengeksplorasi Internet untuk memahami berbagai ebook tentang kakas dan teknik pemrograman yang diperlukan dalam penyelesaian tugas. Mesin pencari seperti Google adalah sahabat setia yang sangat berguna. Tanpa dia, entah bagaimana menyelesaikan tugas kuliah yang overload begitu. Maka, wajar saja muncul pertanyaannya seperti awal tulisan di atas.

Jadi, sebenarnya mahasiswa kuliah di ITB atau kuliah di Google sih? Dua-duanya mas. Kira-kira 25% anda kuliah di ITB, 75% lagi dari tempat lain, misalnya dari Internet (via Mbah Google). Hampir mustahil kami mengajarkan semua materi keinformatikaan yang sangat banyak itu dalam kuliah yang hanya tiga tahun (tidak termasuk tingkat 1, TPB). Teknologi Informatika berkembang pesat secara eksponensial, tidak bakal terkejar oleh materi perkuliahan yang dibatasi oleh waktu. Kuliah di Informatika ITB lebih banyak memberikan mahasiswa pemahaman konseptual, dasar-dasarnya saja, sementara untuk tataran praktisnya — melalui tugas-tugas kuliah — mahasiswa yang harus kreatif mencarinya sendiri dengan jalan mengeksplorasi melalui berbagai cara, salah satunya ya dari Internet via Mbah Google itu.

Jangan heran kalau anda melihat kurikulum Informatika ITB, tidak ada mata kuliah yang spesifik suatu bahasa pemrograman atau spesifik suatu kakas/platform. Misalnya, tidak ada mata kuliah Bahasa Pemrograman Java di sini, yang ada kuliah Pemrograman Berorientasi Objek. Tugas kuliahnya adalah membuat aplikasi skala menengah, antara lain dengan Bahasa Java, Perl, dan sebagainya. Bahasa Java hanya disinggung sedikit dalam kuliah, selebihnya eksplorasi sendirilah kakasnya seperti Netbeans, JDK, J2ME, dan lain-lain yang lebih baru. Bagaimana caranya ya terserah mahasiswa menyediakann waktu untuk itu. Contoh lainnya, tidak ada mata kuliah Pemrograman dengan PHP, yang ada kuliah Pemrograman Internet yang salah satu tugasnya adalah membuat aplikasi web-based dengan PHP. Tidak ada kuliah Bahasa C# atau Visual Studio dengan C#, tetapi dalam kuliah Strategi Algoritma tugas besarnya menggunakan kakas ini. Tidak ada mata kuliah Linux, tetapi dalam kuliah Sistem Operasi, Jaringan Komputer, atau Proyek Perangkat Lunak, mahasiswa bereksperimen dan bereksplorasi dengan sistem operasi yang bermacam-macam, mulai dari Windows, OS/2, Linux, Symbian, hingga yang terbaru, Android.

Untunglah mahasiswa kami ini self-running, mungkin karena pada dasarnya “bahan bakunya” memang bagus. Cukup diberikan clue-clue saja, mereka bisa jalan sendiri dan mencari sendiri untuk mengerti. Seperti yang dikatakan salah seorang alumni kami, yang membuat dia senang kuliah di sini adalah mahasiswa diberi kebebasan dalam bereksplorasi, tidak dibatasi hanya pada satu teknologi saja. Hal ini sangat berbeda dari pengalamannya ketika berhubungan dengan alumni dari Perguruan Tinggi lain, mereka sangat terikat dengan kakas, bahasa pemrograman, dan platform, sehingga ketika berpindah ke bahasa pemrograman atau platform yang lain, mereka umumnya enggan. Moga-moga saja itu berita baik, tetapi mungkin saja ada kelemahannya. Nah, kamu para alumni IF ITB bisa berbagi di sini apa saja plus minus gaya perkuliahan yang menuntut kalian harus banyak bereksplorasi ketimbang mendapatkannya di dalam kuliah.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

38 Balasan ke Ini Kuliah di ITB atau Kuliah di Google?

  1. Ali Akbar berkata:

    Kalau kata salah satu kakak kelas saya, kuliah di ITB itu seperti diberikan benang pancing, dan diminta menangkap ikan paus.😀

  2. Zakka berkata:

    perumpamaan yang bagus dari Ali Akbar😀

  3. Puja Pramudya berkata:

    Setuju pak,,,tapi menurut saya hal ini juga menjadi salah satu kekuatan mahasiswa di tempat kita pak

  4. petra berkata:

    saya rasa memang semestinya di universitas tetap dititikberatkan kepada hal-hal yang konseptual ketimbang yang praktis ^_^

  5. Adiputra berkata:

    kuncinya self-running..

    kasian jg yg blum atau ndak cukup menggunakan internet di indonesia yg masih tergolong mahal…

    sy sendiri cenderung ngumpul2 dgn komunitas bidang IT yg sy ambil..

  6. bles berkata:

    namanya juga mahasiswa, kalo semuanya minta diajarin mah ga pake ‘maha’ ^^,

  7. abusyahid berkata:

    Tidak sedikit mahasiswa yang ber-“cita-cita” kuliah di Teknik Informatika (apapun kampusnya) itu hanya mengejar “tren” dan “gaya”.

    Dalam perkuliahan pun terkadang hanya “text-book” bukan konseptual. Hasilnya ? Interview failed. Untuk sebuah “Hello World” dengan pengalaman bahasa pemograman “yang dikuasai” tidak mampu mendefinisikan syntax-nya.

    Kalo mengejar keahlian mungkin bukan kuliah jawabannya, ambil saja sertifikasi. Tapi kalo mo dapat modal ijazah untuk bisa kerja dan jadi “karyawan” yah… kuliah bisa jadi solusinya.

  8. Affan berkata:

    Gunanya kuliah di ITB itu adalah punya kesempatan utk belajar hal2 yg nggak mungkin dipelajari dlm kondisi normal. Misalnya belajar algoritma, struktur data, automata, dsb. Itu semua harus dilakukan di bawah tekanan.

    Kalau nggak masuk ITB, kapan kita sempat belajar ilmu2 susah ini? Tahu2 dpt proyek bikin aplikasi, nggak akan kepikiran gmn bikin aplikasi yg bener, tahunya gmn caranya kerjaan ini selesai.

    Tinggal diarahkan aja kitab suci mana yg harus dibaca duluan, agar tahu keyword apa yg harus dimasukkan ke google. Itulah gunanya dosen sbg mentor, memberikan sistematika belajar yg tepat. Sisanya ya mahasiswanya sendiri yg harus ngelakoni.

  9. pebbie berkata:

    bukan cuma semuanya tersedia di internet Pak, ada juga yang memang harus dikreasi sendiri oleh mahasiswa.
    konsep yang diajari di kelas bukan hanya sebagai bekal mencari di internet tapi juga bekal untuk memformulasikan ide-ide baru baik yang konseptual maupun yang praktis karena mahasiswa kita punya kapasitas untuk itu dan sayang kalau tidak dimanfaatkan. toh, pada dasarnya yang bisa didapat di google itu sumbernya dari orang yang menulis juga bukan dibuatkan oleh google.

    jadi kalau mau jadi lulusan yang kompetitif, pengetahuan yang diramu dari kelas, internet, dan kreativitas itu juga harus ditulis lagi.

  10. Aswin Juari berkata:

    Sekedar pendapat saja:

    Gw merasa tantangan dunia nyata itu jauh lebih sulit dibandingkan kuliah….
    Contohnya gini: kalo di kuliah, yang penting spesifikasi input-output benar–> dapat nilai bagus…
    Klo di dunia nyata, tantangannya lebih. Contoh : Desain antarmuka harus se-user friendly mungkin (karena orang pasti males baca manual)…. terus bagaimana merancang sebuah web yang tahan banting (mampu menangani operasi konkuren dari banyak user)…….

    Terus, sekedar pendapat, beberapa pengetahuan di kuliah out of date pada saat masuk ke dunia kerja…

    • za berkata:

      Apa desain GUI itu jadi tanggung jawab programmer? Kok saya jadi berpikir kalau yang mendesain GUI itu harusnya bukan programmer ya?

      • Aswin Juari berkata:

        Ga isa lepas begitu saja…. Desain bukan tanggung jawab programmer, tp begitu desain GUI harus ganti kan banyak akibatnya…

        Contoh:
        1. Begitu GUI baru jadi, hrs dimasuk-masukkan lagi
        2. Terkadang GUI nambah2 efek2 tertentu… artinya nambah di koding kan?
        3. Terus enable/disable beberapa menu juga kerjaan programmer…
        4. Terus, klo ingin bikin perangkat lunak yang user friendly, GUI harus dibuat membimbing user melakukan sesuatu (istilahnya intuitif)…

        Just my opinion…

      • za berkata:

        Ya betul, keduanya saling terkait. Oleh karena itu saya pikir lebih tepat desain GUI dilakukan oleh orang yang memang mumpuni di bidang desain. Begitu desain GUI selesai, programmer bekerja (asumsi pekerjaan linear).

        Tentu, kenyataannya akan berbeda🙂

  11. ewa berkata:

    sangat setuju dengan bang pebbie😀
    kita belajar konsep supaya bisa menjadi inovator atau trend setter. bukan sekedar jadi follower sebuah tools. imho.
    padahal saya sendiri juga skarang jadi budak tools, belum bisa mengoptimalkan konsep yang saya dapat di kuliah :p

  12. CaturW berkata:

    Saya setuju dengan komentar-komentar sebelumnya. intinya sih dari saya jadi mahasiswa jangan pasif, harus proaktif.

    Namun tidak semua mahasiswa sudah mengerti cara belajar seperti itu. ada kalanya mereka shock sehingga mungkin muncul pertanyaan “ini kuliah di ITB ada di google?” lebih parahnya ada juga yang akhirnya jadi malas total. saya rasa harus dari awal dijelaskan kepada mereka bagaimana cara belajar mahasiswa khususnya ITB

    Tekanan tugas memang menuntut kita belajar namun kuncinya harus ada niat dan minat. karena untuk eksplorasi lebih dari apa yang didapat dari dosen, membutuhkan dua modal tersebut.

  13. bles berkata:

    pada ga baca buku ‘Strategi Sukses di Kampus’ nih kayaknya, padahal tiap tahun dibagiin😀

  14. Ahmad Priatama berkata:

    Salam Kenal Pak Rinaldi

    Selama saya kuliah di semester ini terjadi perubahan pola mengajar di univ tempat saya menimba ilmu, dari yang tadinya serba diberikan oleh dosen menjadi hanya clue – clue saja.
    Saya liat teman2 saya blum bisa beradaptasi dengan sistem yang seperti ini, karena ketika mereka ‘disuapi’ pun, blum tentu materinya masuk, apalagi kalau harus dicari sendiri.

    By the way, cara ini bagi saya cukup efektif, karena eksplorasi di internet memberikan kontribusi yang banyak pada perkembangan diri saya.

  15. B Prabawa berkata:

    Permisi Pak, numpang komentar sedikit, kebetulan dapet link ke post ini dari FB..

    Mungkin link ini bisa membantu menjelaskan, Pak:
    http://sethgodin.typepad.com/seths_blog/2010/10/pushing-back-on-professors.html

    Quote:
    When a professor spends hours in class going over concepts that are clearly covered in the textbook, I think you have an obligation to […] say, “perhaps you could assign this as homework and we could have an actual conversation in class…”

    Menurut saya, memang harus begitu sih Pak🙂

  16. Ping balik: Ini Kuliah di ITB atau Kuliah di Google? « Catatanku | Tempat mencari informasi, gambar, video, musik, artikel, dan berbagai media lainnya

  17. Irwan Fathurrahman berkata:

    Assalamu’alaikum

    Saya mahasiswa 08 yang sekarang mengambil matakuliah Strategi Algoritma…..

    Menurut saya bereksplorasi seperti yang bapak jelaskan diatas memang membuat mahasiswa lebih bisa belajar daripada saat kuliah. Contohnya pada saat kuliah ada yang tidur, ada yang main, dll sehingga banyak pelajaran yang tidak didapatkan hari itu, namun jika diberi tugas dengan eksplorasi, membuat mahasiswa mau-tak mau bisa menjadi tahu, apalagi pekerjaan yang dikerjakan berkelompok, membuat seseorang yang ‘kurang pinter mengoding’ menjadi tertular.

    Namun, ada beberapa dari teman saya, itu terjadi pada malam hari habis tubes Jarkom, mereka berpendapat bahwa IF memberikan terlalu banyak tugas untuk mahasiswanya, apalagi pelajaran yang tidak disukainya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pada tugas2 ini malah membuat dirinya tidak bisa berkembang. Seperti pada saat menyelesaikan tugas Stima, dan mereka begitu keasyikan sehingga mereka ingin membuat game baru dengan algoritma2 yang diberikan. Namun, apa yang terjadi??? Dikala mereka senang2nya mengerjakannya, tiba2 tugas besar lainnya mendekati mereka membuat mereka tidak bisa mencobanya lagi…..

    Hanya itu pendapat saya, pak, tugas2 ITB terlalu berlimpah dan jarak deadlinenya dekat2 sehingga mahasiswa tidak bisa fokus pada sesuatu dan bereksplore lebih, hanya tahu disaat tubes saja….

    terima kasih pak…..

    • rinaldimunir berkata:

      Irwan, semua alumni IF hampir mempunyai kesimpulan yang sama dengan kamu: badai tubes yang tidak pernah berhenti. Faktanya memang begitu, sangat sulit mengatur pembagian tubes setiap mata kuliah supaya tidak bentrok. Tiap mata kuliah punya karakteristik sendiri.

      Pesan saya, jalani saja semuanya dengan tabah. Para alumni yang sudah lulus telah berhasil melewati fase yang berat itu. Nyatanya, setelah mereka lulus malah merindukan masa-amasa badai tubes itu. Aneh. Keep spirit ya , mas….

    • Puja Pramudya berkata:

      Saya sependapat dengan pak Rin, pada akhirnya hal tersebut berpulang lagi ke individu masing-masing. Semua mahasiswa di IF sama2 memiliki waktu yang sama tiap harinya, yaitu sama-sama 24 jam.

      Tapi tetap ada saja mahasiswa yang dia menghadapi tubes, tapi tetap memiliki kegiatan lain, mengurus himpunan, ikutan unit di ITB, mengikuti lomba (dan menang pula) dan sebagainya.

      Bagi saya yang baru saja diwisuda dari T.Informatika ITB dan mengalami hal yang sudah dialami rekan Irwan, lebih baik berpikir seperti ini : “Tugas2 nya terlalu banyak, tapi saya bisa mengerjakanya…” ketimbang “Saya bisa mengerjakan tugas2x itu…tapi tugasnya terlalu banyak”.

      Ada nada optimisme yang berbeda dari dua kalimat tersebut.

      Pada akhirnya, Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia yang akan mendapatkannya.

    • petra berkata:

      saya setuju dengan pendapat pak rin dan puja,,

      kalau memang asik dan sudah passion yah seharusnya kita gak boleh ngeluh karena ada tugas dll,, karena yang namanya kesulitan ya pasti akan selalu datang,, tergantung bagaimana kita menyikapinya ^_^

      apalagi kalau tugas banyak khan jadi banyak kesempatan mengenal teman-teman seangkatannya toh🙂

  18. Kang Jodhi berkata:

    Tugas besar yang banyak itu berguna untuk melatih sense seorang programmer, menambah jam terbang dan belajar best practice

  19. Semendo berkata:

    Wah, anak itb kan pinter2. Jadi gak masalah belajar di mana saja🙂

  20. rosa berkata:

    Nah, cuman memang cara ini hanya bisa diberikan ke mahasiswa dengan kemauan kuat kayak di ITB, begitu di luar seringnya memang kacau balau. Nah mungkin kejelekannya adalah jadi tidak bisa melihat kenyataan di luar misalnya jadi pengajar bahwa di luar kemampuan dan kemauannnya tidak sekuat mahasiswa ITB yang survive (tingkat DO di ITB kan tinggi :D). Karena badai Tubes jadi gak pinter sosial he he he he….. Semua yang ada di dunia pasti ada plus dan minus.

  21. Arif Rahmat berkata:

    Jadi ingat zaman kuliah dulu. Internet gratis hanya ada di kampus. Google sudah ada, tapi GPRS belum ada (modal untuk beli device-nya), di asrama harus dial-up 56kbps.

    Kalau ke kampus harus bawa harddisk 3.5 inch untuk copy data penelitian (atau hasil download). Duit Rp 1.000.000 cuma bisa beli harddisk 40GB, dan USB flash disk 32MB seharga Rp 235.000 masih langka. Mendinglah, daripada balik ke zaman punchcard dan disket.

    Kemampuan kita saat ini ternyata sangat dipengaruhi wawasan dan pengalaman masa lalu. Semakin kita ditempa di IF, alhamdulillah, hasilnya terbukti lebih baik. Ada yang gagal, tapi banyak yang berhasil. Tugas demi tugas itu mendewasakan.

    Sampai sekarang saya sering bermimpi, belum mengerjakan tugas APBO, padahal besok harus dikumpulkan. Dalam mimpi saya meyakinkan diri bahwa ini cuma mimpi, karena saya kan bukan mahasiswa IF ITB lagi.

  22. Ferry Mulia berkata:

    Saya setuju dengan Pak Rinaldi dan Puja. Saat ini Teknologi Informasi berkembang dengan semakin pesat, susah untuk mengajarkan semua satu per satu di kelas. Sejak mengambil kuliah Master di luar negeri sekarang ini, saya makin sadar apa yang diajarkan di ITB masih sebagian kecil dari pengetahuan di bidang informatika.
    Lagipula, dari yang saya dengar di sini, universitas besar dunia lebih menekankan kepada konsep, praktiknya dibuat ke dalam tugas2 kuliah. Saya kutip dari teman saya yg kuliah di Jepang, kami berdua sama2 diberi kuliah Linear Algebra (Matematika Diskrit/Matriks dan Ruang Vektor di ITB), saat kesulitan, referensi kami sama, e-learning dari video Prof Gilbert Strang dari MIT (boleh dicari di Youtube). Teman saya bilang “what makes MIT no.1? well, you can see the lectures they gave long time ago… start with a simple example, just to make the students had the ‘sense’, then.. boom! they’re no.1.. need to refresh linear algebra for this.. T_T, btw Prof. Gilbert Strang was really good at giving lectures!!” Jadi apa yang diberikan di IF ITB merupakan bekal yg penting buat kita, jangan menganggap bahwa kuliah di ITB sama saja dengan kuliah Google karena pada kenyataannya saat kerja nanti, kita juga akan menghadapi yang namanya teknologi baru, dan kita harus belajar kembali. Bagaimana jika dasar pemrograman kita diajari dengan satu bahasa khusus saja? Tentunya kita yang akan kesulitan sendiri.
    Ini hanya pendapat pribadi saya saja, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

  23. Wirawan Winarto berkata:

    hebat, pak.🙂
    memang seharusnya kampus memberikan pondasi konseptual, sementara perkembangannya yang sifatnya knowledge bisa digali sendiri.
    konsep itu bagi saya tiada duanya. apabila kita memutuskan sesuatu di level atas tanpa memahami apa yang terjadi pada abstraksi di bawahnya, we are coding based on superstition.

  24. bayu berkata:

    “… tetapi mungkin saja ada kelemahannya.”
    Tentu saja ada pak. Link and Match ke industri masih tidak bisa terjadi secara ‘langsung’. Berbeda dengan univ yang ada pelajaran pemrograman java atau C#, di industri bisa langsung terpakai.

    Tapi materi yg terfokus seperti itu, dikawatirkan mempolarisasi ke arah teknologi tertentu. Padahal teknologi komputer berkembang secara eksponensial ke arah yang lebih luas.

    Jadi kalau konsep dasar di pahami, seharusnya konsep-konsep non dasar tidak terlalu masalah… tinggal masalah waktu buat mempelajarinya.

  25. ini ibaratnya.bagaikan langit tampa pot..

  26. bagaikan langit tampa pot

  27. Muhammad Fawaaid berkata:

    Terima kasih Jangan Lupa Kunjungi Blog Saya Ya!! ^^
    http://aikawafaith.blogspot.com/

  28. Ping balik: Materi Kuliah Bahasa Pemrograman Java | Terbaru 2015

  29. Ping balik: Materi Kuliah Pemrograman Berorientasi Objek Dengan Java | Terbaru 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s