Komputer Desktop (PC) di Lab Bakal Pensiun?

Sudah tidak zamannya lagi mahasiswa sekarang menggunakan komputer PC (desktop) untuk mengerjakan tugas kuliah. Seperti di Informatika ITB, komputer-komputer di laboratorium tinggal merana, sudah tidak diacuhkan lagi oleh mahasiswa. Mahasiswa lebih senang mengerjakan tugas dan ngenet (chatting, browsing, main dotA, dan entah apa lagi yang mereka lakukan) dengan laptopnya ketimbang komputer PC yang sebagian besar sudah kadaluarsa itu (mungkin ini pula faktor yang membuat mahasiswa emoh menyentuh komputer PC).

Akhirnya tinggalah komputer desktop yang merana ditinggal penggemar setianya. Lima atau sepuluh tahun lalu mahasiswa masih berebut menggunakan komputer dektop ini.

Hampir semua mahasiswa di Informatika ITB (atau hampir semua mahasiswa ITB?) sudah punya komputer laptop. Kalau dulu ada yang bilang, hari gini nggak punya handphone?, maka sekarang selorohannya mungkin menjadi hari gini nggak punya laptop? Mencari mahasiswa ITB yang tidak punya ponsel sekarang ini mungkin nihil, tetapi yang tidak punya laptop, waaah… saya kira peluangnya kecil. Sesusah-susah apapun hidupnya, mahasiswa mengusahakan punya laptop sendiri. Sudah menjadi kebutuhan penting sih, seperti halnya ponsel. Komputer laptop praktis dan sangat berguna pada zaman kuliah dimana semua tugasnya menggunakan komputer, minimal untuk menulis laporan praktikum. Tinggal ditenteng-tenteng kemana-mana, tugas kuliah dan ngenet bisa dikerjakan di mana saja. Titik-titik panas (hot spot area) banyak tersedia di dalam kampus — termasuk di dalam lab itu sendiri. Mahasiswa tinggal berkerumun di sekitar titik panas, maka akses internet pun terbuka luas. Tugas kuliah dan ngenet bisa dilakukan di mana saja. Itulah revolusi dalam bidang pembelajaran.

Seperti sekumpulan mahasiswa Prodi Sistem dan Teknologi Informasi (STI) Angkatan 2009 ini, mereka lagi asyik nubes (mengerjakan Tugas Besar) di lorong-lorong gedung. Tak ada kursi, nubes di atas lantai pun okelah. Ramai-ramai mengerjakan tugas kuliah dengan laptop masing-masing, sesekali ngerumpi, sekali-kali ber-Yahoo Messenger ria dengan teman lainnya di seberang sana, entah di mana, ternyata mengasyikkan juga.

Yup! Mereka langsung heboh ketika saya foto. Ayo mas-mas dan mbak-mbak, jangan kebanyakan ngobrol dalam mengerjakan tugasnya ya, ingat deadline pengumpulannya besok pagi.

Tidak di lorong, tidak di lab, mahasiswa asik mengerjakan tugas di mana saja dengan komputer laptop kesayangannya itu. Tempat favorit mahasiswa ITB berkerumun di sekitar titik panas adalah di selasar lantai dasar LabTek V yang mereka sebut selasar dingdong (dulu ada komputer-komputer PC yang ditaruh di sini supaya mahasiswa mudah mengakses internet, komputernya ditaruh di dalam sarang, mirip seperti dingdong).

di sini

atau di sini

Pemandangan seperti ini (orang asik dengan laptopnya) sudah jamak di kampus manapun, tidak hanya di ITB. Bukan hanya di dalam kampus, tetapi juga di kafe, tempat makan, maupun di tempat-tempat umum lainnya. Inilah revolusi di bidang teknologi informasi.

Apakah komputer desktop PC di dalam lab memang sudah tidak pernah dipakai lagi? Sebenarnya masih ada, untuk praktikum terjadwal komputer desktop di dalam lab masih dipakai mahasiswa tahun pertama dan kedua. Atau, jika IP adress komputer laptop mereka belum terdaftar untuk akses Internet, pilihan terakhir adalah menggunakan komputer PC itu. Masih ada juga ternyata pengguna komputer desktop.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika, Seputar ITB. Tandai permalink.

18 Balasan ke Komputer Desktop (PC) di Lab Bakal Pensiun?

  1. Dwi Kurniawan berkata:

    pak klo misalnya mau laku ya mungkin speknya yg tinggi mungkin, karena komputer dikampus saya juga demikian. mangkrak…

  2. ceuceu berkata:

    Assalamu’alaykum wr wb
    Bang R damang?
    Sumbangin aja atuh ke SD2 di Indramayu banyak yg nyari. Daripada mubazir hehehe…

  3. Habib berkata:

    Wah, saya jadi orang aneh dong Pak kalau ke IF sekarang. *termasuk yang suka rebutan komputer 5-10 tahun lalu*

  4. Zakka berkata:

    Sebenernya ini fenomena yang memang agak aneh…

    Wong di Portugal atau Italia yang negaranya notabene lebih maju aja lab komputernya masih sering penuh kok Pak🙂 Bukan oleh yang praktikum, tapi oleh yang memang “malas” bawa laptop ke kampus

  5. Jiwo berkata:

    Saya termasuk pengguna setia PC di lab-lab di IF karena saya malas bawa laptop ke kampus, bahkan malas bawa tas…

  6. Zulfikar Hakim berkata:

    titik panas itu penting pak. Saya sendiri pasang hotspot di rumah *padahal rumahnya ga seberapa besar*. Biar si laptop bisa dipake ngenet di mana aja. Hahaha

  7. rosa berkata:

    Kalo dilihat masyarakat skala menengah ke atas memang bilang “hari gini gak punya laptop”, tapi masih ada 31 jutaan masyarakat dibawah kemiskinan. Ini yang akan membuat kita tidak peka. Saya dulu juga merasakan diledekin “hari gini gak punya ponsel”, batin saya “so what gitu lo”. Kehidupan di ITB terlalu sempit sudut pandangnya ketika dihadapkan dengan masalah sosial ke bawah.

  8. Pakde Tulus berkata:

    Tapi kalo punya laptop cuma gara-gara gengsi “hari gini gak punya laptop” kayaknya kok aneh ya.

  9. beregejul berkata:

    Sepengalaman saya kuliah di IF ITB 3-4 tahun lalu, PC di lab S2 bisa dibilang nggak ada yang beres. Setengahnya tidak bisa digunakan. Sisanya lambat, bervirus, dan sering tiba-tiba ngehang. Tidak heran kalau mahasiswa jadi malas menggunakan PC di lab.

  10. Kang Jodhi berkata:

    padahal dulu sempat jadi lab mania, sampai pernah terkunci dalam lab saking lamanya

  11. otidh berkata:

    Ada kok pak lab yang tidak pernah sepi peminat: lab dasar 1, 2, 3, dan 4.😀

    Hari-hari tertentu lab itu penuh banget karena ada yang lagi praktikum, hehehe…

    Bahkan anak-anak dari labtek sebelah juga sering main ke lab dasar di labtek V.😀

    • rinaldimunir berkata:

      Betul Dhito, seperti yang saya tulis di atas, masih ada yang pakai PC di Lab, yaitu praktikum terjadwal mahasiswa Tk I dan II, serta mahasiswa dari Prodi lain (misal Perminyakan)

  12. denny berkata:

    Pak Rinaldi, saya mau konfirmasi ke bapak tentang kalimat “Kekuatan sistem kriptografi secara total bergantung pada keamanan kunci” (diktat kuLiah bapak).

    Saya bingung mengapa cuma bergantung pada keamanan kunci saja. apakah algoritma kriptografi itu sendiri tidak termasuk?

    *TERIMA KASIH ATAS JAWABANNYA PAK😀

  13. Bayu Nurcahyono berkata:

    Mencoba mengingat-ingat..
    Dulu ada server puntang, batur, dan pc 486 di lab if dasar 1 yang menjadi idola buat ngerjain tugas (alias nggak punya komputer di kosan). Semoga pc dan server tersebut diterima di sisi-Nya.

  14. Affan berkata:

    Tergantung workload nya pak.
    Kalau workload nya masih bisa dihandle ama laptop, ya mending bawa laptop aja, karena preference orang berbeda-beda, ada yang cocok pakai windows, ada yang suka pakai mac, ada yang ngefans ama ubuntu.

    Kalau pekerjaannya disuruh pekerjaan yg berat seperti rendering image 3D atau movie, atau programming GPU, atau simulasi komputasi parallel, baru itu gak akan jalan di laptop, kecuali laptopnya kayak punya saya ini, pakai NVidia Optimus😀 itupun nggak akan sanggup dihajar terus2an.

    Kalau saran saya sih kedepannya perencanaan desktop di laboratorium komputasi itu memang diarahkan utk keperluan komputasi & simulasi beneran, dipasangi GPU yg bagus, dipakai utk pekerjaan2 tinggi. Namun resikonya ya itu, kalau malam dipakai ama mahasiswa nya main Battlefield 3 atau Modern Warfare🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s