Dimanakah Rasa Empati?

Minggu lalu saya pulang dari kantor agak malam. Melewati lapangan basket, saya melihat ada panggung musik yang besar. Ada pertunjukan musik rupanya. Suaranya berdentam-dentam keras, sementara di bawah panggung beberapa mahasiswa menyimak pertunjukan musik itu di tengah gerimis hujan.

Melewati Lapangan Gasibu di depan Gedung Sate, pemandangan serupa juga terlihat. Ada keramaian karena di sana ada panggung musik hingga tengah malam.

Ketika memutar saluran TV sama saja. Di studio TV para penggemar band dan artis asyik berjoget mengikuti irama musik. Tawa cekikikan pembawa acara dengan obrolan kocaknya menghiasi layar kaca. Mereka yang hura-hura itu seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.

Di luar sana, ribuan orang di Mentawai berjuang mempertahankan hidup setelah luput dari lamunan tsunami yang mengerikan. Rumah mereka lenyap disapu ombak setinggi pohon kelapa. Anak, istri, suami, dan kerabat mereka mati atau hilang disapu gelombang setelah gempa yang tak terduga. Mereka sekarang lari ke gunung karena takut dengan tsunami kedua, ketiga, dan seterusnya. Di sana mereka harus menahan dinginnya udara dan menahan lapar. Bantuan yang diharapkan datang ternyata sangat lamban seperti kura-kura berjalan.

Tidak jauh dari pentas keramaian yang saya sebutakn di atas, ribuan orang mengungsi setelah gunung Merapi meletus dengan dahsyat. Semburan awan panasnya telah memakan korban hampir seratus jiwa. Rumah, sawah, ternak hangus dilalap wedhus gembel. Ratusan ribu orang mengungsi, namun Merapi tidak pernah ingkar janji, ia memuntahkan seluruh isi perutnya entah sampai kapan dan melalap apapun yang dilewatinya.


(Korban Merapi di Argomulyo, Yogyakarta. Sumber foto dari sini)

Di tengah bencana yang datang bertubi-tubi itu, sungguh kontras melihat masih ada saja orang yang kurang punya rasa empati. Mereka tetap menggelar acara hura-hura, berjoget, dan memutar musik hingar bingar lainnya. Mungkin karena bencana itu tidak menimpa mereka sehingga mereka masih bisa tertawa-tawa menurutkan hawa nafsu duniawi.

Apakah tidak bisa elemen bangsa ini melupakan sejenak nafsu bersenang-senangnya. Apakah tidak bisa stasiun TV berhenti sejenak menyiarkan acara-acara musiknya yang hura-hura itu. Lihatlah saudara-saudara kita sebangsa sedang menderita, kanapa elemen bangsa ini masih saja tetap melakukan acara yang sangat bertolak belakang dengan penderitaan saudara kita. Dimana rasa empatimu?

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dimanakah Rasa Empati?

  1. apri10 berkata:

    memang agak miris ngeliatnya,
    masih banyak orang yang masih bersikap masa bodoh terhadap saudara2 kita yang terkena musibah

  2. Weno Syahdana berkata:

    Rasanya nggak sreg di hati.
    Tapi saya membayangkan, misalkan saya ada di posisi si penyelenggara acara itu, mungkin serba salah juga. Di satu sisi, hati nggak enak. Tapi di sisi lain, sulit kalau harus membatalkan acara yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Apalagi kalau melibatkan banyak pihak.
    Mungkin sebaiknya memang acara tetap berjalan, tapi hura-huranya diminimalkan. Bisa juga diselipkan ucapan simpati. Tapi, mungkinkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s