Idul Adha Berbeda Lagi, Santai Saja…..

Mau shalat Iedul Adha hari Selasa atau Rabu? Demikian banyak pertanyaan umat Islam dalam beberapa hari terakhir. Tahun ini hari Iedul Adha di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi. Di Arab Saudi hari ini adalah puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Itu berarti Idul Adha di sana jatuh pada Selasa esok hari. Sedangkan di Indonesia Pemerintah menetapkan Iedul Adha jatuh pada Hari Rabu, sedangkan beberapa ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Persis menetapkan Iedul Adha pada hari Selasa, sama seperti di Mekkah.

Tidak masalah hari Selasa atau Rabu. Ini masalah khilafiyah semata. Di Arab Saudi yang langitnya selalu bersih, awal bulan baru mudah dilihat dengan jelas. Ini berbeda dengan di Indonesia, yang langitnya sering mendung, berawan, hujan, dan sebagainya, sehingga awal bulan baru sulit dilihat. Sementara Muhammadiyah lebih “maju” lagi, mereka tidak perlu melihat langsung awal bulan baru, cukup dengan perhitungan rumus-rumus astronomi maka awal bulan sudah dapat diketahui.

Saya memilih shalat Ied pada hari Selasa besok. Alasannya karena di Arafah sudah wukuf hari ini, maka sudah waktunya untuk puasa sunat Arafah pada hari ini. Kalau puasa sunah Arafah dilakukan besok, rasanya aneh saja rasanya sebab besok sudah tidak ada wukuf lagi. Padahal Nabi menganjurkan berpuasa pada hari Arafah pada saat jamaah haji melaksanakan wukuf.

Karena sudah sering terjadi perbedaan waktu hari raya (termasuk awal Ramadhan), maka orang Islam di Indonesia tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan itu. Mereka cukup toleran bila orang lain — meskipun sekampung — berlebaran pada hari yang berbeda. Hal itu sudah dianggap biasa saja. Mau lebaran besok, mangga, mau lebaran dua hari lagi, silakan. Bahkan, beberapa jamaah tareqat ada yang sudah melaksanakan shalat Iedul Adha pada Senin ini.

Orang yang duluan lebaran ternyata punya sense toleransi yang tinggi juga. Meskipun shalat Ied mereka laksanakan besok, namun mereka memotong hewan kurban tidak pada hari besok, tetapi menundanya hingga pada hari yang sama dengan saudara-saudaranya yang memilih shalat Ied dua hari lagi. Memotong hewan kurban kan dapat dilakukan pada hari-hari tasyrik, yaitu 3 hari sesudah hari Iedul Adha: tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Bahkan, pada sebagian jamaah, meskipun puasa Arafah dilakukan pada hari ini, namun mereka menunda melakukan shalat Ied sehingga bersama-sama dengan orang lain yang memilih ikut jadwal Pemerintah. Kalau sudah begini kenyataanya, maka terasa benar kalau perbedaan pendapat itu adalah rahmat.

Selamat Hari Raya Iedul Adha 1431 Hijriyah.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

10 Balasan ke Idul Adha Berbeda Lagi, Santai Saja…..

  1. ismailsunni berkata:

    walau sudah sejak SMA gak di rumah, tapi baru kali ini merasakan idul adha beda dengan di rumah. Saya juga memilih hari selasa, tapi bingung, kalau di bandung, dimana ? Ada info mungkin pak?
    Untungnya, saya Selasa “libur”, jadi tidak ngaruh. Entah bagaimana dengan mahasiswa lain, yang ingin hari Selasa, tapi ada praktikum misalnya…

    • rinaldimunir berkata:

      Halo Sunni, baru baca komentarmu. Tadi saya sudah shalat Ied di kompleks Muhammadiyah, Antapani. Cukup banyak tempat yang mengadakan shalat Ied pagi tadi, yang paling dekat dengan kosmu di depan Unpad (tugu Bandung Lautan Api).

  2. hansonputro berkata:

    oh iya Pak Rin,
    sepertinya bukan karena langit Indonesia yg sering berawan jadi awal bulan baru (Dzulhijjah 1431H) sulit dilihat, tapi karena di Indonesia tgl 6 Nov sudut antara matahari-bulan masih sekitaran 1 derajat, padahal utk bisa melihat hilal perlu sudut lebih dari 4 derajat (dpt dr tausyiah kemarin ;))
    sepertinya di Arab, saat matahari tenggelam di sana sudah membentuk sudut lebih dari 4 derajat dg bulan.
    saya ikut yang di Indonesia saja🙂

    • rinaldimunir berkata:

      Terima kasih Hanson, cuaca hanya salah satu penyebab, memang ukurannya itu sudah berapa derajat bulan terlihat. Yang menjadi masalah adalah threshold berapanya itu, kalau Muhammadiyah menganggap jika > 1 derajat, maka bulan baru dianggap sudah masuk. Kalau NU lain lagi, minimal 4 derajat. Apapun itu, semua ada alasan yang kuat. Selamat lebaran besok ya.

  3. hchoirihendra berkata:

    Alhamdulillaah, setelah sekian lama akhirnya saya bisa merayakan idul adha di rumah. Di sini pun terjadi perbedaan Pak. Saya dan kakak saya sholat ied hari Selasa, sedangkan orang tua saya hari Rabu.
    Yang penting kan bukan harinya, tetapi syariahnya..

    • rinaldimunir berkata:

      Halo Hendra, pulang ke Sragen ya? Di rumah saya juga begitu, anak saya yang nomor dua maunya besok, sedangkan saya sama istri hari ini tadi pagi.

      Jangan lupa oleh-oleh Sragen di IRK hari Kamis ya mas…

  4. arifrahmat berkata:

    Kalau saya punya analisis lain yang sering memicu perbedaan itu, Pak. Ini petikannya:

    “Patokan untuk penanggalan matahari adalah (disepakati) tetap dan absolut yang kini dikenal dengan istilah GMT, sedangkan untuk penanggalan bulan patokannya relatif dan berpindah-pindah, oleh karena itu diperlukan pengamatan (rukyatul hilal). Dengan rumus yang sudah diketahui, pengamatan dapat disimulasikan atau ditebak melalui perhitungan.”

    Sumber: BinaMuslim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s