Dari Garut ke Bandung Mencari Daging Kurban

Hari Raya Idul Adha 1431 H sudah berlalu, tetapi pemotongan hewan kurban masih berlangsung hingga 3 hari ke depan (jika lebarannya mengambil hari Rabu, bukan Selasa). Meskipun di Bandung sudah ada warga yang merayakan Idul Adha hari Selasa, namun pemotongan hewan kurban lebih marak dilakukan pada Hari Rabu. FYI, hewan kurban bukan untuk dipersembahkan kepada Tuhan, Tuhan tidak membutuhkan darah dan daging kurban. Menyembelih hewan kurban adalah mengikuti teladan dari Nabi Ibrahim a.s yang melakukan peristiwa penyembelihan itu pertama kali beberapa ribu abad yang lampau sebagai bukti keimanannya kepada Allah SWT. Daging kurban tidak bersifat individu, tetapi bersifat sosial, setelah hewan kurban disembelih dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin yang sehari-harinya tidak mampu membeli daging.

Pembantu saya bercerita, saudaranya dari Garut ramai-ramai datang ke Bandung untuk mendapatkan pembagian daging kurban. Mereka datang dengan kereta api ekonomi yang tarifnya sangat murah itu, hanya Rp2000 untuk jurusan Garut-Bandung. Di Stasiun Kiaracondong mereka turun, lalu menyebar ke berbagai masjid di Bandung, ikut antri bersama masyarakat sekitar mendapatkan kupon dan selanjutnya ditukar dengan daging kurban. Di kampung-kampung seperti di Kabupaten Garut, hewan kurban tidak berlimpah seperti di kota. Kalaupun ada yang berkurban di kampung, hanya satu atau dua ekor domba. Daging domba yang tidak seberapa itu harus dibagi sama rata ke seluruh penduduk kampung. Kebayang kan kalau setiap orang hanya dapat satu atau dua ons saja.

Sementara di kota, hewan kurban di berbagai masjid jumlahnya berlimpah. Tidak hanya domba, tapi akhir-akhir ini masyarakat lebih suka berkurban dengan sapi. Satu ekor sapi bisa manjadi hewan kurban untuk 7 orang, jadi setiap orang membayar 1/7 dari harga sapi. Di masjid dekat rumah saya, masjid Baitul Mu’min di Jalan Purwokerto, Antapani, Bandung, jumlah sapi saja ada 10 ekor, sedangkan jumlah domba lebih banyak lagi.

Distribusi hewan yang tidak merata seperti inilah yang membuat LSM yang bergerak di bidang sosial keagamaan melakukan penjaringan dana masyarakat untuk menyumbangkan hewan kurbannya di daerah-daerah minus di seluruh Indonesia. Kita apresiatif kepada LSM seperti Dompet Dhuafa Republika, PKPU, Al-Azhar, ACT, Hidayatullah, Rumah Zakat, dan sebagainya yang setiap tahun mendistribusikan hewan kurban ini ke seluruh Indonesia, sehingga masyarakat yang selama ini jarang menkonsumnsi daging karena harganya yang tidak terjangkau, sedikit berbahagia karena bisa makan daging pada lebaran Idul Adha. Namun Indonesia itu terlalu luas dan masyarakat miskin jumlahnya tidak terkira, sehingga LSM seperti itu belum bisa menjangkau kantong-kantong kemiskinan yang sebenarnya lebih layak menerima daging kurban daripada orang-orang mampu di kota.

Jadilah seperti ini, ribuan orang dari kampung-kampung di luar Bandung datang ke kota untuk mendapatkan daging hewan kurban. Karena itu, bukan pemandangan aneh ketika saya menyaksikan ratusan orang yang wajah-wajahnya bukan penduduk lokal berebut antri menunggu pembagian daging kurban.

Panitia sampai kewalahan membendung mereka yang tidak sabar untuk antri. Polisi terpaksa dikerahkan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Sudah banyak cerita orang yang terinjak-injak karena berebut daging kurban.

Sementara di pelataran masjid, kaum ibu dengan tidak kenal lelah memotong-motong daging kurban dan membagi-baginya ke dalam kantong-kantong plastik dengan berat yang sama agar semua orang kebagian dan pulang dengan rasa bahagia.

Para bapak juga dengan tidak kenal lelah menguliti domba dan memotong dagingnya untuk dibagikan.

Semua dapat, semua kebagian. Dan hari itu semua orang, baik warga sekitar masjid, maupun warga pendatang dari luar kompleks — termasuk yang datang jauh dari Garut — pulang dengan rasa bahagia karena telah mendapat daging hewan kurban. Insya Allah daging hewan kurban itu barokah.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Seputar Bandung. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dari Garut ke Bandung Mencari Daging Kurban

  1. Aceng Salim berkata:

    Assalamu’alaikum. .
    Pak,, Garutnya di sebelah mana Pak?. .
    Ko, tidak ajak2 jalan2 ke kampung halaman Qu. Hehe, ,

    Tapi tidak apa ketang Pak,, soalnya di Salman saya mendapat amanat jadi salah satu panitia Qurban. .

    SemAngat Berkurban…
    Allohu Akbar

  2. murry berkata:

    ini adalah potret kemiskinan di indonesia, katanya tingkat kemiskinan sudah menurun, nyatanya kok masih ada ya yang mengantri pembagian jatah hewan qurban. kapan ya indonesia akan seperti di jaman pemerintahan umar bin abdul aziz yag selurh rakyanya sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s