Ketika Media TV Menjadi Alat Propaganda Pribadi Pemiliknya

Di Indonesai saat ini ada dua televisi khusus berita, yaitu Metro TV dan TVOne. Saya kalau menyetel TV, maka selalu yang saya lihat adalah siaran berita, kalau tidak TVOne ya Metro TV, gantian saja, sesekali siaran berita dari TV lain. Tayangan sinetron, gosip infotainment, dan komedi slapstick lainnya adalah tayangan sampah yang tidak perlu dilihat. Kedua stasiun TV ini terkesan saling bersaing merebut pemirsa. Dulunya hanya ada Metro TV, nyaris tanpa ada pesaing yang berarti. Tetapi, ketika TVOne muncul merebut perhatian, maka Metro TV pun merasa tersaingi. Hanya dalam tempo satu tahun TV One akhirnya berhasil menyalip dan mengungguli Metro TV, baik dari segi rating, kue iklan, maupun jumlah pemirsa, demikian paparan hasil survei AC Nielsen. Harus diakui gebrakan TVOne dalam mengemas berita dan tayangan programnya lebih kreatif dan tidak konservatif seperti Metro TV, dan ternyata strategi itu begitu jitu dalam merebut perhatian. Jika anda pergi ke rumah makan, restoran, maupun tempat-tempat umum lainnya yang memasang TV untuk menemani pengunjung, maka perhatikan stasiun TV apa yang rata-rata diputar, pastilah TV One.

Saya tidak hendak membicarakan persaingan kedua stasiun TV ini, biarlah itu urusan bisnis keduanya. Yang saya persoalkan adalah penggunaan stasiun TV untuk propaganda pemiliknya, termasuk untuk menyerang lawannya. Semua orang tahu kalau Metro TV itu kepunyaan Surya Paloh, sedangkan TV One (dan juga ANTV) kepunyaan Aburizal Bakrie. Jika Surya Paloh memberikan pidato dalam suatu acaranya, maka stasiun TV miliknya itu pasti akan menyiarkan secara lengkap tayangan pidato itu, kira-kira 15 menit hingga 30 menit lamanya tanpa jeda iklan. Sangat membosankan melihat gaya pidato orang ini, penuh retorika, sudah itu lamaaa lagi. Segera saja banyak pemirsa akan mengalihkan salurannya ke TV lain. Hal yang sama juga pada TV One bila Aburizal Bakrie berpidato, baik pada acara Golkar maupun pada acara yang menghadirkannya sebagai pemberi sambutan, hanya memang tidak selama tayangan Surya Paloh.

Sekarang kedua orang ini saling berseberangan, terutama ketika Surya Paloh gagal terpilih menjadi Ketum Golkar, Aburizal Bakrie yang terpilih. Surya Paloh mutung dari Golkar, lalu membuat ormas sendiri bernama Nasional Demokrat. Sejak itu, pemirsa melihat aroma tidak sedap dalam pemberitaan kedua stasiun TV ini. Berita-berita Metro TV terlihat “menyerang” dan memojokkan Aburizal Bakrie, baik secara pribadi maupun kebijakannya (dan Gokar tentunya). Sasaran tembaknya adalah melalui kasus Gayus yang diduga memanipulasi laporan pajak perusahaan grup Aburizal Bakrie, seperti Kaltim Prima Coal, Bumi Resources, dan lain-lain. Tidak hanya melaui media TV, tetapi Surya Paloh juga memojokkan Bakrie melalui media koran miliknya juga, Media Indonesia. Tidak hanya Bakrie, stasiun TV ini juga aktif menyerang Pemerintahan SBY dimana Aburizal Bakrie adalah sekjen Koalisi. Kasus RUU Yogyakarta adalah yang paling anyar untuk membenturkan SBY dengan Raja Yogya.

Serangan Aburizal Bakrie terhadap Surya Paloh melalui TV One miliknya juga tidak kalah seru. Bakrie melarang semua orang-orang Golkar bergabung dengan Nasional Demokrat yang dipimpin Surya Paloh. Ancamannya adalah dipecat. Puncaknya adalah ketika Aburizal Bakrie tidak bersedia melayani wawancara apabila diantara wartawan yang merubunginya itu ada yang dari Metro TV, karena ia menilai stasiun TV ini sudah mendiskreditkan dirinya.

Juga sangat menarik membandingkan bagaimana kedua stasiun TV ini memandang kasus lumpur Lapindo. Kasus Lapindo juga dijadikan Metro TV untuk menyudutkan Bakrie. Metro TV selalu menyatakan kasus lumpur Lapindo sebagai kelalaian manusia (human error) dan Bakrie harus bertanggung jawab, sedangkan TV One mengutip pernyataan geolog luar negeri yang menyatakan lumpur Lapindo adalah bencana alam akibat gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, oleh karena itu secara implisit mereka menyatakan kesalahan bukan pada Aburizal Bakrie (kepada alam kali?)

Sangat memuakkan melihat penggunaan kedua media TV itu untuk propaganda pribadi pemilik dan alat untuk menyerang lawannya. Harus diingat bahwa frekuensi saluran TV adalah milik publik yang dikuasai oleh Negara, maka publik mempunyai hak untuk menerima informasi yang bermutu. Penggunaan saluran frekuensi untuk menyerang pihak lain jelas sebuah pelanggaran terhadap hak pemirsa. Media yang menggunakan frekuensi itu seharusnya netral dalam memberitakan sesuatu, biarlah publik yang menilai benar salahnya. Kalau berseteru ya berseteru saja, tetapi jangan libatkan publik untuk dukung mendukung melalui media yang dimiliki. Media publik seperti TV adalah untuk kepentingan umum. Masyarakat sebenarnya dapat menuntut Pemerintah untuk mencabut saluran frekuensi TV jika media TV digunakan tidak untuk kepentingan masyarakatm tetapi untuk kepentingan pribadi.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

11 Balasan ke Ketika Media TV Menjadi Alat Propaganda Pribadi Pemiliknya

  1. aespe berkata:

    kalau saya alhamdulillah udah ampir setahun ini ga ada tivi2an dirumah, kabel antena di lepas, tv kabel cuman langganan internetnya aja, berita cuman baca di internet, itu juga cuman ringkasan yg muncul di google reader, hiburan cuman beli dvd yg kualitas ori, hehehe…

  2. New Age berkata:

    Propaganda, bukan propagada seperti tertulis di judul, dan itu sudah jadi kecenderungan umum di media massa. Dari sudut historis sifat media massa, kejadian pada kedua TV swasta itu hanya contoh kecil dan lazim. Contoh lain ketidaknetralan, pada bulan Januari 1907, terbit surat kabar pertama berbahasa Melayu, Medan Prijaji, yang berkantor di Jalan Naripan, Bandung. Koran ini merupakan koran “pribumi” pertama dalam artian tidak berorientasi pada kepentingan pemerintah. Berita koran ini berupa kritik pedas bagi pemerintah kolonial Hindia. Perlu diketahui, kolonialisme abad 19, awal abad 20 adalah lazim dan pemerintah kolonial saat itu adalah sah. Tentu saja saat ini model jurnalisme bermacam-macam

    Tinjauan alokasi frekuensi hingga menyentuh masalah content(“politik”, kepentingan pribadi ) membuat tulisan di atas meluas fokusnya. Kebetulan pengelola alokasi frekuensi untuk siaran dan pengelola content adalah satu organisasi, sehingga tulisan di atas masih bisa diterima.

  3. abdul berkata:

    Bukankah semua media massa memang punya orientasi pemberitaan tertentu? Di dunia yang tidak sempurna ini, tentu saja tidak akan pernah ada yang netral pak. Memangnya CNN, BBC, FOX itu netral? jelas tidak. Republika, Kompas, Jawa Pos, Rakyat Merdeka, dan Sabili/Hidayatullah juga netral? tentu saja, tidak, dan sangat tergantung pada siapa yang menilai. Kalau mau ekstrim, ya jgn tonton TV, atau kalau kita punya modal buat stasiun yang “paling netral”.

  4. ikhwanalim berkata:

    wah, setuju sekali pak dengan isi tulisan bapak di atas. tapi memang begitu kali ya media? selalu dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk mengirim pesan tertentu kepada khalayak ramai. dalam jangka panjang, ya jadinya termasuk alat pendidikan. pendidikan yang tidak benar tentunya. coba bayangkan ketika yang sekarang mendengar berita, dan menganggap berita itu benar adanya, kemudian menjadi sejarah yang sebenarnya, dan kemudian dia menyebarluaskannya kepada anak cucunya?

  5. krupuk berkata:

    dan lebih sial lagi, tv sekarang menjadi “malaikat” bagi sebagian masyarakat Indonesia. Seakan orang-orang kini mengikuti segala macam petunjuk yang di tunjukkan di televisi dan televisi di jadikan sebagai referensi hidup.

  6. Hou Hian berkata:

    Ada apa dengan televisi yang mengklaim number one itu. Ahaa! Selepas dikritik sebagai bisu akhirnya pada siang tadi Metro TV berakhir membuat tayangan sedikit tentang revolusi Timur Tengah khususnya Libia. Tapi sudut pandang dia-dia orang di televisi Indon itu pro Gadafi. Dilansirnya kata-kata Gadafi yang akan membagi senjata-senjata pada milisi pro rezimnya untuk bunuhi habis pengunjuk-rasa pro demokrasi. Rupanya dia-dia orang editor Metro TV ikut gila, atau mungkin dapat uang angpao dari Gadafi! Lagipun sudut pandang untuk uraian Yemen dibuat damai.

  7. Denny Neonnub berkata:

    Seperti itulah fenomena yg terjadi kini. Masing2 mengejar kepentingan jangka pnjang, tntunya utk perang kekuasaan 2014 nantinya. Selama nih pemberitaan trus saja memojokkan pemerintah, tnpa memberi solusi yg berarti. Parahnya lgi,media ingin trus mengkritik tnpa hrus dikritik balik. Media massa kini berlindung di balik tameng kebebasan pers dan demokrasi, padahal pd umumnya pemberitaan mrka justru mjdi alat propaganda dan pembentuk opini publik yg skeptis. Smga ke depannya media lbh bersikap obyektif dan netral…

  8. hanim_siculun berkata:

    lebih baik nontonnya kompas tv aja!

  9. Ping balik: Acara Tv Alay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s