Makan “Gabut” Alias Gaji Buta

Di kalangan mahasiswa saya ada istilah yang cukup populer, yaitu “gabut” alias “gaji buta”. Ini bukan soal pegawai negeri yang tetap menerima gaji meskipun sering bolos kerrja, atau tentang anggota DPR yang sering mangkir rapat tetapi tetap mendapat gaji/honor. Tetapi ini tentang perilaku mahasiswa dalam tugas kelompok, tidak ikut mengerjakan tugas tetapi namanya tercantum dalam laporan tugas. Karena tugas kelompok adalah tugas kolektif, maka nilainya juga nilai kolektif, sehingga setiap anggota kelompok mendapat nilai yang sama, tak peduli apakah dia terlibat aktif di dalam tugas itu atau hanya sekadar “numpang nama” saja. Kalau sudah begitu, maka dalam tugas tersebut mahasiswa yang bersangkutan dikatakan gabut alias dapat nilai meskipun tidak ikut mengerjakan tugas.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gabut. Bisa karena memang dasar mahasiswanya yang malas, tidak mau berusaha dan bekerja keras, tetapi juga tidak ingin tidak lulus kuliah. Dia lebih mengandalkan teman kelompoknya yang rajin dan “banting laptop” setiap malam, sampai-sampai kurang tidur karena coding belum selesai. Tetapi bisa juga penyebabnya karena faktor situasi, sakit misalnya sehingga tidak bisa ikut mengerjakan tugas. Dalam situasi yang lebih ekstrim, mahasiswa terpaksa melakukan gabut karena tugas-tugas kuliah demikian tumpang tindih dan “kebut-kebutan”. Seperti di Informatika ITB, tingkat 3 adalah masa badai tugas besar (tubes) mencapai puncaknya (sebagian mahasiswa saya menyebutnya “tsunami tubes”). Dalam satu semester ada 6 hingga 7 mata kuliah, setiap kuliah punya tugas besar masing-masing. Tidak satu kali tugasnya, tetapi bisa dua hingga 3 kali dalam satu semester, atau bahkan setiap minggu. Dalam satu minggu ada 3 hingga 4 tugas kelompok yang mendekati garis mati (deadline). Setiap tugas meminta prioritas harus segera diselesaikan. Maka, mahasiswa pun “terpaksa” kreatif. Karena anggota kelompok biasanya tidak berubah dari satu mata kaliah ke mata kuliah lain, mulailah mereka mengatur startegi. Satu orang berkonsentrasi mengerjakan tugas mata kuliah A, satu orang lagi mengerjakan tugas mata kuliah B, satu orang lagi mengerjakan tugas mata kuliah C. Nama-nama mereka tetap tertera dalam laporan tugas meskipun yang mengerjakan hanya satu dua orang. Berlakulah gabut disini.

Apapun alasannya, gabut itu tidak baik. Mendapat gaji tetapi tidak bekerja, apakah itu terhormat? Jika karena faktor malas, tidak usah kuliah saja, tidur saja di rumah. Jika beralasan karena banyak tugas kuliah yang saling tumpang tindih, maka kesalahannya ada pada manajemen waktu. Mungkin mahasiswa terlalu banyak santai, terlalu banyak main games semacam dotA, atau terlalu banyak main-main. Padahal, masa kuliah adalah masa untuk belajar, masanya untuk bekerja keras.

Kuliah yang saya ampu punya kiat tersendiri mengatasi gabut ini. Setiap tugas perangkat lunak harus didemokan di depan asisten. pada saat demo setiap anggota kelompok ditanya oleh asisten peran dan kontribusinya dalam pengerjaan tugas. Apakah hanya bertugas sebagi seksi laporan (membuat laporan), atau sebagai pemanis antarmuka program, atau hanya sebagi seksi menjilid laporan di tempat photo copy lalu mengumpulkannya di Lab? Yang lebih “parah” adalah sebagai seksi gorengan, he..he..he, yaitu membeli makanan camilan seperti goreng pisang pada tengah malam bagi teman-teman kelompoknya yang bekerja lembur ngoding. Mungkin pada dasarnya manusia itu memang seperti itu ya, ada yang bertipe merah yaitu pekerja tukang, ada yang bertipe hijau, yaitu tukang ngecap sehingga keahliannya adalah membuat laporan, dan ada pula yang bertipe biru, yaitu pemberi semangat sebagi seksi goreng pisang.

Jangan gabut, mas. Ini semua demi hardskill dan softskili kalian semua juga. Apakah anda bisa bangga lepas kuliah dari ITB menyandang transkip nilai yang bertabur A dan B — yang diperoleh dari gabut — tetapi sebenarnya anda tidak bisa apa-apa. Tentu tidak mau kan? Mari isi masa muda dengan belajar dan bekerja keras. Say no to gabut“.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar ITB. Tandai permalink.

8 Balasan ke Makan “Gabut” Alias Gaji Buta

  1. Habib berkata:

    Pak Rin, waktu tingkat 3 (kalau tidak salah) saya pernah kerja kelompok (berbagai macam) setiap hari selama dua-tiga bulan berturut-turut di rumah teman yang lain sampai jam 3 pagi. Sepulangnya dari sana lari-lari secepat mungkin ke rumah supaya sempat sahur (sempat beririsan dengan bulan Ramadhan). Siangnya kuliah sambil terkantuk-kantuk, bahkan sempat tertidur beberapa kali di kelas :))

    Mungkin itu sebabnya Hymne Informatika mengandung lirik: “Tugas yang berlimpah bukanlah rintangan…” hehehe…

  2. fajar berkata:

    apakah di ITB (khususnya jurusan Informatika) ada mahasiswa yang seperti itu ?

  3. New Age berkata:

    Kalau dosen ada yang gabut juga tidak ? ๐Ÿ˜€

  4. rosa berkata:

    Hem tingkat 3, saya ingat waktu itu gabut tugas 4 RPL. Saya ingat sekali karena merasa bersalah :(. Karena tugas yang lainnya sering harus kerja lebih, jadi tugas 4 RPL jadi gabut. Ingat juga pernah tidak mandi pas berangkat kuliah karena tidak sempat mandi. Tapi saya juga masih ingat Pak, jadi mahasiswa juga butuh refreshing, panas nanti otaknya kalo kerja terus dengan bertaburan tugas dimana-mana. Buat semua percaya saja bawa masuk IF ITB itu susah, tapi lebih susah buat keluar dari IF ITB dengan jalur yang benar :).

  5. ikhwanalim berkata:

    mbak rosa, setuju. masuk ITB itu susah. tapi mau keluar yang baik (lulus maksudnya) dengan jalur yang benar (tidak gabut) itu jauh lebih susah. ๐Ÿ˜€

  6. deezeeka berkata:

    izin share ya, jzk.

  7. Ping balik: Gabut « deezeeka bikin blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s