Korban yang Tidak Mengaku

“Saya hanyalah korban”, begitu selalu jawaban Ariel setiap kali ditanya apakah lelaki dalam video itu adalah dirinya. Ariel tidak pernah mengakui bahwa lelaki di dalam video itu adalah dirinya, sementara Cut Tari sendiri sudah bersaksi di depan hakim dengan mengaku bahwa wanita di dalam video itu adalah dirinya dan lelaki itu adalah Ariel.

Saya ingin membahas kalimat yang sudah basi ini dari sudut pandang logika bahasa. Ada kontradiksi dalam kalimat bahwa “saya hanyalah korban” dan hal ini bisa menjadi bumerang buat dirinya. Kalau memang sebagai korban, yaitu korban dari penyebaran video mesum, berarti yang bersangkutan mengakui secara tidak langsung bahwa dia adalah orang di dalam video tersebut. Dan karena kelalaian atau unsur kesengajaan dari beberapa pihak, akhirnya video tersebut — yang seharusnya koleksi pribadi Ariel — tersebar ke seluruh dunia. Jadi, wajar saja bila Ariel merasa dia adalah korban dari penyebaran video mesum (dirinya) yang dilakukan oleh orang lain, sehingga namanya menjadi rusak. Dia memang korban, tetapi korban yang tidak mengaku, he..he.

Atau, mungkin logika yang dipakainya berbeda dengan logika yang saya pelajari saat kuliah? Tak tahulah awak.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Korban yang Tidak Mengaku

  1. Zakka berkata:

    Hmmm, mungkin logikanya benar, dan salah sekaligus…

    Dia korban penyebaran video, akan tetapi dia pelaku perbuatan tersebut…

    Tergantung dari sisi mana kita memandang juga, Pak😀

    • rinaldimunir berkata:

      Zak, kamu masih ingat kuliah saya yang dulu kan? Sebuah proposisi dalam logika hanya punya satu nilai kebenaran, benar atau salah, tidak mungkin dua-duanya benar dan salah sekaligus.
      Makanya saya katakan logika yang dipakai Ariel ini adalah “another logic” yang berasal dari dunia antah berantah.

      • gandhim berkata:

        Pak Rinaldi sudah pernah mendengar logika fuzzy? Logika fuzzy berbeda dengan logika klasik (yang hanya memiliki 2 nilai kebenaran, dan satu proposisi tidak mungkin memiliki dua nilai sekaligus) dimana logika fuzzy memungkinkan sebuah proposisi bisa memiliki lebih dari satu nilai kebenaran sekaligus, jadi bisa bernilai benar dan salah sekaligus, tinggal mencari tahu berapa nilai benarnya dan berapa nilai salahnya.

  2. Kang Jodhi berkata:

    rasany logika versi Ariel adalah dia sekedar menunjukkan video “mirip” itu pada orang lain, yang tanpa izinnya tersebar luas. Cut Tari? Hanya pengakuan sepihak.

    Sekalipun tidak begitu meyakinkan Ariel dan tim penasehat hukum konsisten pada skenario ini

  3. ikhwanalim berkata:

    wah, kalau begitu. logika bahwa, ariel mengaku secara tidak langsung, bahwa dia adalah orang di dalam video tersebut, seharusnya bisa menjadi sasaran tembak jaksa penuntut ya,pak ?

  4. Kang Jodhi berkata:

    @gandhim, hehehe, ga bisa pakai fuzzy logic bung. Pengadilan itu tempatnya logika konvensional, true/false, karena hasilnya adalah bersalah/tak bersalah, atau terbukti/tak terbukti.

  5. gandhim berkata:

    @Kang Jodhi,

    Sebenarnya saya hanya ingin meng-counter statement pak Rinaldi yang menyatakan “Sebuah proposisi dalam logika hanya punya satu nilai kebenaran, benar atau salah, tidak mungkin dua-duanya benar dan salah sekaligus.” tapi tidak menambahkan penjelasan bahwa logika yang dimaksud adalah logika klasik.

    Memang benar bahwa pengadilan itu selalu memiliki hasil bersalah/tak bersalah, tapi bukan berarti logika fuzzy tidak bisa digunakan, karena hasil inferensi logika fuzzy juga bisa berupa bersalah/tak bersalah (setelah defuzzifikasi).

  6. Sibadu berkata:

    Korban itukan maknanya luas. Terlepas Ariel atau bukan pelakunya sekarang dia sudah dipenjara, namanya jatuh dimasyarakat, diteror FPI, dll, semua ini akibat perbuatan tidak bertanggung jawab si penyebar video. Saya rasa alasan inilah yang dipahami Ariel dibelakang kalimat “saya hanyalah korban”. Jadi tidak ada ada hubungannya dengan pengakuan ataupun makna ganda disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s