Kalah ya Kalah, Jangan Cari “Kambing Merah” Lagi

Indonesia akhirnya kalah dari Malaysia dalam laga sepakbola Piala AFF. Meskipun kalah, tetapi tidak ada caci maki kepada pemain Timnas. Masyarakat Indonesia menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada. Sebelumnya ekspektasi rakyat Indonesia begitu luar biasa besarnya kepada Timnas. Sungguh heboh dan gegap gempita negeri ini selama beberapa minggu karena kemenangan demi kemenangan yang diraih Timnas, sebelum akhirnya mencapai klimaks kegagalan pada final Rabu malam kemarin. Diluar kegagalan pada laga final itu, boleh dibilang Timnas telah mempersatukan bangsa Indonesia selama 1 bulan ini. Thank’s Timnas

Kalah dan menang dalam sepakbola itu biasa. Bola itu bundar. Hikmah sesungguhnya dalam olahraga adalah sportivitas, yaitu secara jujur mengakui kehebatan pihak lawan dan mengakui kekurangan diri sendiri. Kalau kalah ya kalah, tidak usah mencari-cari kambing merah lagi, eh kambing hitam. Tidak usah pula menyalahkan sinar laser sebagai biang keladi. Namun sungguh tidak sedap melihat komentar para komentator di televisi ketika Indonesia kalah pada leg pertama di Kualalumpur (KL). Sebuah televisi menyoroti penyebab kekelahan itu adalah karena faktor non teknis yang terjadi sebelum laga pertandingan. Liputan media yang begitu gencar dan dukungan luar biasa masyarakat kepada Timnas, menyebabkan pemain Timnas menjadi kaum selebriti baru. Pofil mereka dan kehidupan pribadi mereka diekspos demikian gencar. Undangan demi undangan datang kepada pemain Timnas untuk menghadiri beberapa acara sebelum berangkat ke KL. Dua acara yang disorot adalah sarapan pagi Timnas di rumah Aburizal Bakrie dan acara istighasah di Pesantren As-shidiqiyah Jakarta. Dua acara ini dianggap sebagai penyebab kekalahan non teknis para pemain di laga leg pertama. Para komentator begitu bersemangat mengecam kedua acara tersebut. Televisi ini yang memang mempunyai sentimen pribadi kepada Aburizal Bakrie mengulas acara sarapan pagi dan istighasah.

Tentu sangat tidak adil menyalahkan kedua acara tersebut sebagai penyebab kekalahan. Saya akan menyoroti yang istighasah saja, sebab kalau acara sarapan pagi itu cenderung bermuatan politik sehingga tidak usahlah dibahas. Saya sendiri juga heran kenapa ada acara istighasah segala sebelum bertanding. Baru kali ini terjadi acara istighasah dalam sepakbola. Istighasah — yang merupakan ritual doa dan zikir khas kaum nahdhiyin — biasanya diadakan pada momen khusus, misalnya jika banyak terjadi musibah yang melanda negeri. Namun saya bisa memahami kenapa sampai ada beberapa pihak yang mengadakan istighasah untuk sepakbola, mungkin maksudnya untuk memberi bekal muatan spiritual kepada para pemain, meskipun tetap saja rasanya aneh sebab tidak semua pemain yang hadir beragama Islam. Walau tujuan istighasah itu pada dasarnya baik, namun menurut saya tetap kurang tepat dan terlalu dipaksakan.

Namun menyalahkan istighasah dan beberapa acara lain sebelum pertandingan di KL saya nilai kurang adil. Hasil pertandingan ditentukan oleh para pemain di lapangan. Sehebat apapun pelatihnya atau sebagus apapun fasilitas yang diterima pemain, kalau para pemain sudah bertanding di lapangan, maka yang mereka hadapi adalah adu teknik dengan lawan. Secara teknis permainan Malaysia memang bagus. Mereka mampu bermain cantik baik di kandang sendiri maupun di kandang lawan. Apa pemain Indonesia kurang bagus? Menurut saya pemain kita juga bagus dan hebat, tetapi nasib mereka kali ini apes saja, kalah. Namanya juga bola, bundar dan menggelinding, yang jelas pertandingan harus ada pemenangnya, dan kali ini Garuda harus mengakui keunggulan Harimau.

Saya punya pendapat berbeda dengan para komentator sepakbola yang ngomongnya aneh-aneh itu. Kekalahan Timnas, selain karena secara teknis memang harus mengakui keunggulan tim Harimau, faktor tekanan mental juga membuat para pemain bermain dengan beban yang sangat berat. Pemain tidak bisa bermain lepas, sebab publik terlalu menaruh harapan kepada mereka untuk menang. Ekspektasi yang luar biasa besar dari rakyat Indonesia. Apalagi setelah kalah di KL, beban mental itu semakin maha berat ketika bermain pada leg kedua di GBK. Fokus rakyat Indonesia pada Rabu malam itu memang tertuju pada pertandingan yang mendebarkan dan sangat menentukan. Saya melihat para pemain hampir frustasi ketika pada babak pertama belum dapat membuat gol. Harapan banyak orang agar Indonesia sedikitnya memasukkan 4 gol supaya menang semakin tipis ketika pada babak kedua Malaysia menyarangkan 1 gol. Itu berarti Indonesia harus memasukkan 5 gol. Penonton dan rakyat Indonesia sudah mulai kecewa, tetapi bersemangat lagi setelah Indonesia menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Sayang waktu berjalan terus, hingga 3 menit sebelum akhir pertandingan Indonesia bisa menang juga 2-1, tetapi tidak ada gunanya lagi kemangan itu, sebab gelar juara sudah hampir melayang.

Untunglah masyarakat Indonesia tidak larut dalam kesedihan. Mereka tetap menghargai dan salut kepada Timnas yang sudah berjuang keras (baca beritanya di sini). Tidak ada caci maki atau umpatan kepada Timnas. Tidak seperti komentator yang mencari-cari kesalahan, orang Indonesia pada umumnya lebih dewasa menyikapi. Kalah ya kalah, tidak usah mencari-cari kambing merah, eh hitam, lagi. Kambing hitam lebih berharga karena bisa dijual atau diternakkan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kalah ya Kalah, Jangan Cari “Kambing Merah” Lagi

  1. Zakka berkata:

    tidak ada yg menyalahkan timnas sepertinya… semua menyalahkan Nurdin Halid kok😀

  2. Budi berkata:

    betul pak, timnas berhasil membuat kita bangga, walaupun kalah, tapi kalah secara terhormat . .

  3. PRAMBUDI berkata:

    Itulah sport harus menjujung tinggi sportifitas.kalah menang hal biasa tapi kalau sering kalah itu binasa.apakah kita mau menjadi bangsa binasa.manusia yang beruntung harus bisa belajar dari kesalahan dan kekalahan,manusia yang beruntung harusnya hari ini lebih baik dari hari kemarin hari lusa harus lebih baik dari hari ini. So mundur selangkah untuk maju 4 langkah. jangan patah arang sebagai anak bangsa wajib mendukung kemajuan sepak bola INDONESIA saya yakin suatu saat nanti nama INDONESIA ada dideretan drowing peserta piala dunia.AMIN………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s