Ketika Beli Cabe Rawit Mendapat Bonus Gorengan

Belakangan ini kalau saya membeli gorengan di mang jaja yang sering lewat dengan gerobaknya, saya sudah tidak semangat lagi. Apa pasal? Soalnya si mang penjaja tidak menyediakan lagi cabe rawit. Apa enaknya makan bala-bala (semacam bakwan) atau comro (oncom dijero) atau tahu goreng tanpa cabe rawit? Cabe rawit mahal, begitu kata si mang jaja memberi alasan.

Memang mahal. Satu kilo cabe rawit merah harganya sudah mencapai 100 ribu rupiah lebih. Tidak hanya cabe rawit, cabe merah keriting harganya juga tidak jauh beda. Penjual sayuran keliling menjual cabe dalam hitungan biji, satu biji bisa lima ratus rupiah. Parah nggak tuh. Makanya jika dulu beli gorengan kita mendapat bonus cabe rawit, sekarang kebalikannya: beli 2 biji cabe rawit mendapat bonus satu buah gorengan bala-bala. Begitu kira-kira kiasan untuk menggambarkan mahalnya si raja pedas, cabe. Banyak rumah makan padang sekarang ini tidak menyediakan lagi sambal cabe merah, yang ada hanya sambal cabe hijau yang harganya lebih murah. Kalaupun ada yang menyediakan sambal cabe merah, sambal itu harus dihitung harganya, tidak seperti dulu yang gratis-gratis saja.

Hidup tanpa cabe, tidak terbayangkan bagi saya. Apa enaknya makan tanpa rasa pedas. Rasa pedas adalah perangsang selera. Saya rela tidak makan di acara jamuan makan bila tidak ada sambalnya, dan lebih memilih membeli makanan di luar. Begitu fanatiknya saya dengan cabe. Sewaktu di Kuala Lumpur saya hilang selera makan sama sekali karena makanan di hotel hambar rasanya dan tanpa ada pedasnya. Untung ada rumah makan Padang dekat hotel, ke sanalah saya makan yang berarti menanggung biaya tambahan sendiri. Kata teman saya, kalau saya ke Eropa lebih menderita lagi karean masakan di sana miskin bumbu dan … tanpa cabe (hanya merica). Tidak apa-apa, kata saya, nanti kalau saya ke sana (amiin) saya akan siapkan bekal sambal cabe buatan sendiri satu kantong…he..he.

Bagi sebagian orang Indonesia dari suku-suku tertentu, masakan pakai cabe memang suatu keharusan. Sebutlah misalnya suku Minang, Manado, Melayu, Lombok, dan sebagainya. Semahal apapun harga cabe, mereka tetap membelinya karena memang mereka sudah tergantung sama komoditas yang satu ini. Saya kadang suka iri pada teman saya dari suku Jawa, anteng saja makan nasi dengan lauk ayam atau daging yang dilumuri kecap manis. Apalagi di Yogya, semua serba manis dan asin, seperti gudeg, tempe bacem, tahu bacem, dan sebagainya. Kalaupun ada sambalnya yang disebut sambal kerecek, rasa sambalnya tetap saja manis karena memakai gula merah. Tidak termakan oleh saya makanan seperti itu. Jika di kantor dapat makanan nasi gudeg, saya lebih suka memberikannya kepada karyawan di dapur.

Lidah dan perut saya ini sudah terlanjur cap Padang, susah sekali mengubahnya dengan selera daerah lain. Tidak seperti peribahasa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, peribahasa ini tidak berlaku kalau soal urusan makan.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

13 Balasan ke Ketika Beli Cabe Rawit Mendapat Bonus Gorengan

  1. Willy Permana berkata:

    Lidah dan perut saya ini sudah terlanjur cap Padang, susah sekali mengubahnya dengan selera daerah lain. Tidak seperti peribahasa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, peribahasa ini tidak berlaku kalau soal urusan makan.

    Amen to that

  2. Puja Pramudya berkata:

    Wah pak rin ternyata fanatik betul ya. Saya juga cinta pedas pak, tapi saya lebih cinta lagi makan gratis dan kenyang…hehe

  3. hamka berkata:

    sepakat, saya yang lidah jawa sukanya memang yang manis- manis, kalau yang pedas2 makasih deh😀

  4. saya berkata:

    salam kenal pak…
    saya mahasiswa nya
    prof. suryA alfanirus.
    bapak pasti kenal🙂

  5. dhito berkata:

    Wah, sepertinya patron orang Jawa suka makan yang manis-manis tidak berlaku buat saya Pak. Kalau tidak ada sambel, selera makan jadi jauh berkurang. Soalnya sudah tradisi di keluarga sih Pak.

    Makanya saya cocok-cocok aja makan masakan Padang. Tapi saya nggak cocok sama harganya.😀

  6. harikuhariini berkata:

    Haha. Kemaren saya beli pecel lele, warna sambel nya sh merah. Tapi rasanya dominan asem. Kayak rasa tomat ceunah.

  7. hchoirihendra berkata:

    Beberapa warung bahkan terpaksa memasak makanannya dengan bumbu cabe busuk gara2 harga cabe segar yang meroket. Kalo beli cabe busuk katanya cukup bayar setengah harga gitu Pak..

    Untung saya ini ‘pemakan segala’, mau pedas mau enggak, asalkan halal dan thoyyib (apalagi gratis), hajar saja, hehehe..

  8. boim.ajjah berkata:

    sama aku ga pedes ga makan .

  9. arifrahmat berkata:

    Ternyata harga cabe meroket itu masih merupakan efek dari abu vulkanik Merapi. Semoga cepat turun.

    Mungkin nanti ada cabe kalengan ya atau kemasan cabe kedap udara, yang dikalengkan saat cabe murah, lalu dijual saat cabe langka. Bisa juga sebagai bekal berbulan-bulan bagi rekan-rekan yang bekerja atau belajar di luar negeri. Wah, potensi bisnis nih.

  10. Ping balik: Bawang Putih dan Bawang Merah Disebutkan Secara Eksplisit di dalam Al-Quran | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s