BlackBerry vs Tifatul

Perdebatan tentang ancaman pemblokiran BlackBerry (BB) oleh Menkominfo Tifatul Sembiring ternyata sudah melenceng dari isu semula. Persoalan utama sebenarnya adalah tentang permintaan agar RIM mematuhi aturan yang berlaku di Indonesia, tetapi oleh publik dan media massa direduksi ke masalah penyaringan pornografi di BB semata.

FYI, model bisnis BlackBerry memang unik, servernya ada di Kanada, tetapi mereka menjalin kerjasama dengan operator seluler di Indonesia untuk bisa beroperasi. BlackBerry sejatinya merupakan jaringan global dengan sistem penomoran sendiri (PIN BB) yang menjadikan operator seluler lokal seperti Telkomsel, Indosat, XL, dan tiga operator lainnya cuma sebagai pipa penyalur saja (dump-pipe/access-point) untuk akses BlackBerry. Karena semua keluar masuk pesan via BB dikendalikan di Kanada, maka terang saja RIM tidak tunduk pada peraturan yang berlaku di sini.

Masalahnya, Indonesia ini negara berdaulat, jadi semua pelaku bisnis harus mematuhi UU yang berlaku, salah satunya tentang filtering pornografi. Malangnya, polemik yang dikemukakan oleh Menkominfo soal BB melulu hanya berputar tentang pornografi di BB, padahal sebenarnya yang dipersoalkan lebih dari itu. Minimal ada tujuh tuntutan Menkominfo dan penyaringan situs porno hanyalah salah satu. Hal yang ia tuntut pula, antara lain, adalah agar RIM membuka kantor perwakilan dan pelayanan perbaikan (service center) di Indonesia. Selain itu, RIM harus merekrut tenaga Indonesia, memperbanyak konten lokal, dan menempatkan server di Indonesia untuk mempermudah akses aparat dalam kasus-kasus hukum, kewajiban membayar pajak (RIM tidak terkena pajak padahal ada 2 juta lebih pengguna BB di Indonesia), dan sebagainya (keterangan selanjutnya baca ini dan ini).

Nah…nah, kebanyakan komentator di republik ini memang langsung bereaksi negatif menanggapi ancaman Tifatul yang akan memblokir layanan BB jika RIM tidak mematuhi Pemerintah RI. Seperti yang telah dikemukakan di atas, riuh rendah komentar negatif kebanyakan berisi perdebatan tentang butir pornografi itu. Malangnya lagi, persoalan pornografi itu selalu dikait-kaitkan dengan agama dan akar partai Tifatul yang berasal dari PKS. Tidak nyambung sama sekali. Bagi kalangan yang suka mengaitkan masalah ini dengan agama dan partai Tifatul, Menkominfo yang satu ini memang sering menjadi sasaran kebencian, ledekan, dan kecaman. Orang lebih banyak menilai siapanya (atau latar belakang orangnya), bukan apanya. Maksudnya, publik lebih sering menilai siapa yang mengeluarkan pernyataan, bukan isi dari pernyataan itu sendiri.

Ah, saya tidak membela Tifatul maupun PKS. Dalam beberapa hal saya mengkritisi perilakunya (baca tulisan saya terdahulu tentang salaman). Harus diakui Tifatul lemah dalam soal public relation, itu karena pernyataan-pernyataannya yang tidak populer, tetapi kalau soal ancamannya kepada BlackBerry ini saya dukung 100 persen. Jangan sampai negara kita ini menjadi sapi perah BlackBerry. Siapapun pelaku bisnis harus menghargai hukum yang berlaku di negara kita. Kalau tidak begitu, sama saja negara kita tidak berdaulat.

Kalau saya amati beberapa hari ini, setelah Tifatul mengungkapkan alasan-alasannya tentang ancaman kepada RIM tadi, banyak pihak yang berbalik mendukungnya. Alasan-alasannya masuk akal dan berpihak pada kepentingan bangsa, negara, dan orang banyak. Hanya saja saran saya kepada Pak Tifatul, perbaiki cara berkomunikasi dengan publik sehingga kebijakan yang ia buat bisa sampai kepada masyarakat secara utuh dan tidak lagi dipahami secara sepotong-sepotong. Kalau maksud kebijakannya baik dan disampaikan dengan cara yang elegan, pasti banyak orang yang akan mendukung anda dan Kementrian anda. Percaya deh….

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke BlackBerry vs Tifatul

  1. Petra berkata:

    Setuju, Pak Tifatul ini seharusnya bikin whitepaper atau paling sedikit artikel blog lah untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya.

  2. Zakka berkata:

    Kalo saya cenderung setuju dengan “kebencian terhadap PKS” Pak…

    Entah kenapa, setiap kebijakan Pak Tif pasti langsung dihujat, karena (saya cukup yakin) ada orang-orang yang gak peduli apa isi kebijakannya, yang penting hujat dulu…

    Well, Pak Tif emang bukan orang paling pas untuk Menkominfo, tapi saya cukup yakin banyak menteri lain yang lebih tidak kompeten saat ini…

    • Petra berkata:

      jangan terlalu berprasangka buruk, zak.
      pas beliau awal2 menjabat khan banyak yang mendukung. tapi setelah beliau bikin kontroversi (yang jumlahnya gak sedikit), ya akhirnya hilang lah dukungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s