Bahagia Ketika Bisa Memberi

Pembawa acara Oprah Winfrey yang terkenal itu selalu membagi-bagikan hadiah kepada penonton di studio pada acara Oprah Winfrey Show yang dipandunya. Ketika ditanya kenapa dia selalu membagikan hadiah kepada penonton, dia menjawab bahwa dia begitu bahagia melihat wajah-wajah penonton yang gembira ketika menerima hadiah darinya. Meskipun hadiah itu tidak seberapa nilainya, tetapi ada rasa puas dan senang jika ia berhasil membuat orang lain merasa bahagia karena pemberiannya itu.

Apakah anda merasakan hal yang sama ketika bisa menolong orang lain dari kesulitan lalu wajah orang tersebut terlihat berseri-seri? Ternyata menolong orang lain itu menimbulkan rasa bahagia yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Perhatikan iklan rokok Sej*t* di televisi, sebuah arena pasar malam mengalami gangguan karena genset listrik mati. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang punya ide membuat pembangkit listrik dadakan dari roda bekas yang tidak terpakai sebagai turbin. Dengan semangat dan keringat bercucuran, pemuda tersebut berupaya keras menghidupkan listrik dengan roda bekas tadi. Pasar malam pun menjaid terang, panggung pertunjukan pun bisa dilanjutkan kembali, orang-orang terlhat begitu senang, dan pemuda tadi terlihat begitu bahagia.

Erich Fromm, seorang penulis buku-buku psiko-eksistensial, menulis dalam bukunya yang berjudul To Have or To Be, bahwa dalam diri manusia terdapat dua modus hidup, yaitu modus “memiliki” (to have) dan modus “menjadi” (to be). Sesesorang yang memiliki modus memiliki memandang bahwa kebabahagiaan itu adalah ketika banyak memiliki. Ia merasa bahagia karena telah memiliki banyak harta, rumahnya banyak, tabungan dan depositonya besar, tanahnya ada di mana-mana.

Sebaliknya, seseorang dengan modus menjadi memandang bahwa bahagia itu adalah ketika dirinya merasa berarti bagi orang lain. Kebahagiaan muncul ketika dia bisa berbagi atau memberi. Dia mungkin memiliki uang atau harta yang cukup banyak, tetapi ia merasa bahagia jika harta yang dimilikinya itu ebrmanfaat buat orang lain, sebagian dari hartanya digunakan untuk membantu orang lain yang kesusahan. Ketika bisa membantu orang miskin yang terlilit hutang, ia merasa bahagia. Ketika bisa membantu biaya rumah sakit bagi pasien yang tidak mampu, ia merasa bahagia. Ketika bisa menjadi orangtua asuh bagi anak-anak yatim, dia merasa bahagia. Ketika bersedekah dan melihat fakir miskin berseri-seri mukanya karena menerima pemberiannya, dia merasa bahagia. Dalam konteks seorang muslim, infaq, zakat, dan sedekah adalah dalam rangka modus hidup menjadi tersebut.

Seorang mahasiswa yang pandai tidak segan-segan membagikan ilmunya kepada teman-temannya yang lambat daya tangkapnya. Dengan sabar dia terangkan tentang suatu materi kuliah kepada temannya, dan ketika temannya sudah mengerti, dia merasa senang karena telah bisa memberi pencerahan kepada orang lain.

Berbagi atau memberi adalah sifat yang dapat membuat hidup bahagia, sedangkan modus memiliki — jika tidak terkendali — cenderung membuat hidup menjadi kikir dan serakah.

Saya kemarin menemukan tulisan di bawah ini tentang makna memberi. Tulisan yang diambil dari sini menceritakan pengalaman hidup seorang yang bekerja di bidang finansial lalu keluar dari pekerjaanya. Dia merintis usaha sendiri dan merasa bahgia karena bisa menghidupi karyawannya. Tulisan yang inspiratif, menarik untuk dibaca.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Kebahagiaan Ketika Kita Bisa “Memberi”
Jum’at, 28 Januari 2011

Oleh: Muhaimin Iqbal

TIGA TAHUN LALU, ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya di dunia finansial yang lama –bidang yang saya geluti sampai mentog selama 20 tahun lebih– saya berpamitan dengan rekan-rekan kerja di industri baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. Salah satu comment yang saya ingat saat itu adalah ucapan mitra saya, executive perusahaan raksasa di Jerman. Begini katanya, “You have a very strange way to enjoy life…” (Kamu ini memiliki cara yang aneh dalam menikmati hidup !).

Lama saya berusaha memahami ucapannya ini, bahkan saya juga sempat ragu apakah dengan meninggalkan karir puncak di dunia finansial dan segala macam fasilitasnya – saya dapat memperoleh kebahagiaan yang baru…?.

Secara tidak langsung, perlahan tetapi pasti…kebahagiaan yang baru itu ternyata memang hadir. Dalam bentuknya yang aneh dan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang lama. Saya ingin share di tulisan ini untuk memotivasi rekan-rekan saya yang ingin terjun berusaha – namun masih enggan meninggalkan segala macam fasilitas yang dinikmatinya kini.

Begini antara lain perbedaan kebahagiaan yang lama dengan kebahagiaan yang baru itu:

Kebahagiaan Lama (Milik Para Pekerja dan Eksekutif):

-Ketika mulai bekerja dahulu, hari-hari yang menyenangkan adalah hari-hari menjelang gajian. Sampai ada joke harimau apa yang paling bahagia? , jawabannya adalah ‘hari mau’ gajian. Mengapa hari-hari menjelang gajian kita berbahagia ?, karena penghasilan kita nyaris tidak cukup untuk keperluan sebulan – maka ketika rekening kita terisi kembali dari posisinya yang nyaris kosong – kita menjadi bahagia.

-Kebahagiaan lain adalah ketika kita mau menerima tunjangan hari raya, gaji ke 13, bonus tahunan dan sejenisnya. Ini bisa meng-cover kebutuhan lain yang lebih besar seperti mengisi tabungan, membayar uang muka rumah, mobil dlsb.

-Ketika karir kita terus menanjak dan sampai puncaknya; penghasilan kita sebenarnya tidak lagi habis dikonsumsi dalam satu bulan. Tetapi tetap saja hari mau gajian membuat bahagia karena hari itu uang kita di bank bertambah.

-Yang lebih membahagiaan bagi kalangan eksekutif adalah ketika tutup buku dengan hasil tahunan yang baik, eksekutif akan mendapatkan bonusnya – yang bisa sangat istimewa – bila perusahaan berkinerja baik.

Kebahagiaan Baru (Milik Para Entrepreneur):

-Di awal-awal usaha setiap menjelang akhir bulan adalah waktu yang menegangkan, bisa nggak ya kita memberi gaji para karyawan kita tepat waktu ?. Selepas gajian, tabungan kita di bank tersedot nyaris habis tetapi ada kebahagiaan yang tidak kalah hebatnya dengan yang dialami karyawan yang menerima gaji – yaitu kebahagiaan karena mampu memberi gaji seluruh karyawan di payroll-kita.

-Setelah perusahaan berjalan baik, ketegangan menjelang gajian ini tidak lagi muncul – tetapi kebahagiaan itu tetap ada disana – yaitu bahagia bisa memberi gaji.

-Karena bahagia itu ada disana – ketika rekening kita berkurang – berpindah keorang lain yaitu untuk menggaji para karyawan; maka lama kelamaan ‘hari mau’ gajian ini juga menjadi kebahagiaan rutin tersendiri. Setiap sabtu sore misalnya, saya melihat sekian puluh karyawan yang bekerja di peternakan Jonggol Farm – pulang dengan bahagia ke keluarganya masing-masing – hari itu mereka pulang membawa gaji mingguannya. Ternyata bukan hanya mereka yang berbahagia, saya juga ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena sampai hari itu kita masih dipilih Allah untuk ‘dilewati’ rizkiNya yang hendak dibagikan ke puluhan karyawan tersebut.

-Kebagiaan ini bertambah besar manakala kita mampu memberi tunjangan hari raya atau sejenisnya.

Jadi ternyata ada perbedaan yang mendasar yang terkait dengan uang saja (tentu banyak sekali kebahagiaan lain yang tidak terkait dengan uang sama sekali !) dari sewaktu kita menjadi karyawan atau eksekutif dengan ketika kita terjun menjadi entrepreneur.

Kelompok yang pertama bahagia ketika rekeningnya bertambah dari gaji atau bonus, kelompok yang kedua pun tetap bisa tidak kalah bahagianya ketika rekening berkurang untuk membayar gaji atau THR.

Kebahagiaan ketika memberi inilah rupanya yang mendorong orang terkaya nomor 2 (Bill Gates dengan kekayaan US$ 53 Milyar) dan nomor 3 dunia (Warren Buffet dengan kekayaan US$ 47 Milyar) pertengahan tahun lalu mengajak ratusan orang-orang terkaya Amerika untuk menyumbangkan 50 % hartanya untuk berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Kebahagiaan dengan memberi ternyata tidak hanya milik Umat Islam yang dalam tuntunan agamanya didorong untuk banyak-banyak ‘memberi’ dalam berbagai bentuknya baik yang bersifat wajib seperti membayar zakat, membayar upah pekerja dan sejenisnya ; maupun yang sifatnya sunah seperti infaq untuk kegiatan sosial ,bantuan kemanusiaan dlsb.

Apa yang dilakukan oleh Bill Gates dan Warren Buffet ini juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak hanya timbul ketika uang terus bertambah banyak – tetapi kebahagiaan juga timbul dari ‘memberikan’ hasil dari jerih payah bertahun-tahun untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Kalau saja orang-orang kaya negeri ini mengikuti anjurannya Bill Gates dan Warren Buffet, korban-korban kelaparan insyaAllah tidak akan terus bermunculan di negeri ini. Lebih jauh lagi kalau saja kita bisa mengikuti prinsip 1/3 seperti yang dicontohkan dalam hadits yang sahih, insyaAllah Allah akan terus menurunkan ‘hujan’ rizki ke kita – bahkan ketika negeri lain dilanda ‘paceklik’ krisis finansial. InsyaAllah. *

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bahagia Ketika Bisa Memberi

  1. Bayu berkata:

    Philanthropy menurut temen saya adalah usaha untuk menukaran uang dunia menjadi uang akherat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s