Laksana Batang Pisang, Meninggalkan Tunas Sebelum Mati

Batang pisang yang sudah tua dan sudah pernah berbuah menyadari bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi. Sebelum mati, dia meninggalkan tunas pisang baru sebagai pengganti dirinya dan penerus generasinya. Perumpamaan itu juga cocok dengan takdir yang dialami keponakan saya. Dia meninggal dunia pasca melahirkan bayinya secara sesar minggu lalu. Dia melahirkan kehidupan baru namun dibayar dengan nyawanya sendiri. Maka, tulisan saya ini adalah untuk mengenang keponakan yang saya sayangi ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat malam seusai shalat Maghrib, kakak saya (ibu dari keponakan saya) menelpon sambil menangis tersedu-sedu. Dia mengabarkan keponakan saya dalam keadaan kritis, kejang-kejang karena tekanan darahnya naik tiba-tiba. Sudah tipis harapannya untuk hidup. Tentu saja saya sangat kaget, sebab sehari sebelumnya keponakan saya ini mengirim sms yang mengabarkan bahwa dirinya sudah melahirkan anak perempuan pukul 23.00 malam. Tiba-tiba saya seperti mendengar sambaran petir saja kalau dia sudah koma, dan dua jam kemudian dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT. Saya masih antara percaya dan tidak percaya saja mendengarnya, tetapi itulah kenyataannya.

Tengah malam itu juga saya bergegas ke Bandara Cengkareng dari Bandung naik Bus Primajasa. Kakak saya di Jakarta sudah memesan tiket penerbangan paling pagi dari Jakarta ke Padang. Dengan perasaan yang membuncah dan mata sembab, saya hanya bisa terdiam saja di atas pesawat. Kenangan masa kecil berputar kembali di depan mata, ketika saya ikut mengasuh dan mengantarkannya ke sekolah. Sepertinya saya ingin segera sampai di Padang. Betapa lambatnya perjalanan ini terasa.

Sesampai di rumah, perasaan yang membuncah itu tidak terbendung lagi. Saya menangis terisak-isak melihat jasad keponakan saya terbaring dengan tubuh sudah dingin, dikelilingi oleh teman dan kerabat yang menangisi kepergiannya. Siang itu juga jenazahnya dimakamkan di Bukit Seberang Padang. Di bawah kuburannya terletak kuburan kakeknya, yaitu ayah saya.

~~~~~~~~~~~~

Kakak saya bercerita, bahwa sehari sesudah melahirkan keponakan saya ini terlihat sangat ceria. Dia makan, berlatih berjalan, dan mencoba menyusukan anaknya. Hari kedua juga tidak terjadi apa-apa, dia masih menerima kunjungan teman-temannya yang menengok bayinya, dia masih sempat mengirim sms kepada beberapa orang. Barulah sorenya pada pukul 17.00 tiba-tiba terjadi perubahan yang sangat cepat ketika dia tidur. Tiba-tiba saja kepalanya pusing, pandangan menjadi gelap. Dia tidak bisa melihat siapa-siapa lagi. Tangannya mulai begetar hebat, tubuhnya kejang-kejang. Dokter memeriksa tekananan darahnya, ternyata sangat tinggi, kira-kira di atas 200. Inilah yang mengakibatkan dia seperti orang terkena stroke. Satu jam kemudian dia koma, pernapasan buatan tidak mampu membuat jantungnya berdegup. Satu jam kemudian dia sudah “hilang”. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Saya tidak habis mengerti apa yang menyebabkan terjadinya tekanan darah yang begitu tinggi. Biasanya, wanita yang melahirkan anak tekanan darahnya turun sehabis melahirkan, tetapi yang dialami keponakan saya ini sebaliknya. Istri saya ketika akan melahirkan anak pertama tekanan darahnya juga tinggi. Gejala ini disebut pre-eclamsia. Dia sampai diet garam supaya tekanan darahnya turun, kalau tidak turun juga maka bayi harus cepat dikeluarkan dengan operasi sesar sebab tekanan darah yang tinggi membahayakan janin. Saya bahkan sampai memberi istri saya makan tanpa ada garam sedikitpun, hambar saja, yang ternyata kata dokter itu salah. Bukan menghentikan garam sama sekali, tetapi mengurangi porsi garam pada makanan. Untunglah sebelum melahirkan secara normal tekanan darah istri turun, dan setelah melahirkan tekanan darahnya stabil.

Apa yang dialami keponakan saya ini ada yang menyebutkan sebagai gejala keracunan sehingga tekanan darahnya naik secara drastis. Apapun penyebabnya, semua sudah takdir ilahi. Mungkin kematian ini yang terbaik bagi dirinya. Allah yang memiliki jiwa raganya, sekarang Allah memintanya kembali.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua tahun yang lalu saya pulang ke Padang untuk menghadiri pernikahan keponakan saya ini. Saya pernah tulis cerita ini pada tulisan berikut. Ini fotonya waktu acara baralek di Padang.

Dua tahun perutnya “kosong”, baru tahun lalu mulai “isi”, dan dia melahirkan anak pertamanya minggu lalu. Harapan yang dirajut terhadap anak yang baru dilahirkan pun terucap dari bibirnya (seperti yang diceritakan oleh suaminya). Namun sekarang dia sudah menghadap ilahi, dia tidak bisa lagi melihat harapan itu terwujud. Mudah-mudahan dia mati syahid karena meninggal setelah melahirkan. Pusaranya masih basah bertabur bunga. Di dalamnya terbaring jasad seorang wanita yang banyak menyimpan kenangan dengan saya sewaktu dia masih kecil.

Kini Tinggallah bayinya yang langsung jadi piatu, ditinggal bunda pergi selamanya. Kasihan kau nak…nak, belum sempat merasakan kasih ibu. Dia tinggalkan dunia ini, namun dia tinggalkan kehidupan baru bagi orang-orang yang ditinggalkannya.

Begitulah seorang ibu, rela bertarung nyawa ketika melahirkan anaknya. Pantaslah Rasulullah SAW menyebutkan “ibumu” tiga kali ketika ditanya oleh sahabat tentang siapa orang yang harus kita hormati, sebelum akhrinya ia menyebutkan “barulah bapakmu”. Karena itu, kalau tahu betapa sakitnya melahirkan dan nyawa taruhannya, maka tidak pantaslah seorang anak durhaka dan melawan kepada ibunya.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Laksana Batang Pisang, Meninggalkan Tunas Sebelum Mati

  1. Annis berkata:

    Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…
    Turut berbela sungkawa, Bang R….

  2. arifromdhoni berkata:

    Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uwn..😥

    Turut berduka cita, pak Rin ..
    ArifRomdhoni dan keluarga

  3. Zakka berkata:

    Innalillahi wa inna ilaihi raajiun…

    Turut berduka, Pak😦

    Semoga amal ibadah almarhumah diterima disisi-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar…

  4. yaniwid berkata:

    Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…
    Turut berduka cita. Cara kerja Allah SWT selalu misterius…

  5. berakkuda berkata:

    innalillahiwainnailaihirojiun
    jadi inget ibu saya yg sudah mendahului saya,hiks..

  6. Tonnie berkata:

    innalillahiwainallillahirojiun . . .

    Setiap kejadian pasti terdapat sebuah hikmah yang akan membuat berarti dalam hidup untuk kedepannya.Benar banget perumpamaan ini “Batang pisang yang sudah tua dan sudah pernah berbuah menyadari bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi. Sebelum mati, dia meninggalkan tunas pisang baru sebagai pengganti dirinya dan penerus generasinya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s