Ahmadiyah Menjadi Agama Baru, Mungkinkah?

Masalah Ahmadiyah kembali hangat setelah kasus penyerangan oleh sekelompok warga di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Empat orang pengikut Ahmadiyah tewas dan beberapa orang luka-luka. Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang benar, insiden ini menambah catatan buruk tentang aksi kekekerasan di tanah air. Jemaat Ahmadiyah, bagaimanapun adalah saudara sebangsa dan mempunyai hak untuk hidup dan hak sebagai warganegara lainnya. Meskipun ajaran Ahamdaiyah berbeda keyakinan dengan ajaran Islam mainstream, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk melakukan kekerasan apalagi membunuh mereka. Tidak ada ajaran dalam agama Islam yang menyuruh membunuh orang kafir (Ahmadiyah dianggap kafir dalam sudut pandang ajaran Islam mainstream), kecuali dalam peperangan. Kalau memang membunuh orang kafir itu adalah ajaran Islam, mungkin saya, teman saya, ulama, ustad, kiai, dan siapapun yang beragama Islam sejak dulu telah membantai habis tetangga mereka yang beragama bukan Islam.

Masalah Ahmadiyah ini memang pelik dan rumit. Konflik dengan Ahmadiyah sudah berlangsung sejak dulu, bahkan sejak ajaran itu masuk ke Indonesia dari Pakistan. Di negara kelahirannya sendiri, Pakistan (dulu bagian dari India), konflik antara warga Ahmadiyah dengan warga muslim lainnya juga tidak habis-habisnya. Di negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah Ahmadiyah sudah ditetapkan sebagai ajaran terlarang. Rabithah Al Alam Al Islami, sebagai organisasi negara-negara Muslim juga menetapkan Ahmadiyah ini sebagai non-muslim. Sebagai konsekuensi dari status itu, mereka dilarang menunaikan haji ke Mekah.

Ahmadiyah ini memang unik. Mereka mengaku tetap bagian dari Islam, mereka shalat 5 waktu, kitab sucinya Al-Quran, tetap mengaku nabinya Muhammad, syahadatnya sama, zakat, puasa, masjid, dan lain-lain sama seperti orang Islam mainstream umumnya. Namun mereka mempunyai satu keyakinan berbeda yang secara fundamental melanggar pokok ajaran Islam. Mereka meyakini masih ada nabi lain sesudah Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Nabi ini dikatakan mereka tidak membawa syariat, tetapi dia dianggap sebagai Imam Mahdi, yaitu pemimpin yang ditunggu-tunggu di akhir zaman. Mirza juga diyakini menerima wahyu. Orang Ahmadiyah memiliki satu kitab suci tambahan selain Alquran, namanya kitab Tadzkirah, yang berisi ajaran-ajaran atau tulisan Mirza Ghulam Ahmad (termasuk “wahyu” yang diterimanya). Padahal sudah tegas dikatakan di dalam Quran maupun dalam hadis bahwa Muhammad SAW adalah penutup segala nabi, nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi sesudahnya. Sesudah Nabi Muhammad wafat, maka pintu langit sudah tertutup, sudah tidak ada lagi wahyu dari Allah SWT yang diturunkan ke bumi.

Kepercayaan tentang Nabi terakhir dan wahyu adalah hal yang pokok dalam Islam. Maka, dapatlah dimengerti jika penolakan terhadap Ahmadiyah terjadi di mana-mana. Mengaku Islam, namun tidak sama dengan pokok ajaran Islam. Mengaku Islam, tetapi tidak mau berimam dalam shalat dengan orang Islam mainstream (maksudnya tidak mau menjadi makmum dalam shalat yang imamnya bukan orang Ahmadiyah). Mereka juga tidak mau shalat di masjid Islam mainstream. Mengaku Islam, tetapi tetap membedakan dirinya dengan Islam mainstream. Mengaku Islam tetapi ekskslusif dan dalam soal agama tidak berbaur dengan orang lain di luar Ahmadiyah. Mengaku Islam tetapi orang Islam mainstream dianggap kafir. Itulah “keanehan” Ahmadiyah.

Ahmadiyah bukanlah madzhab atau aliran adalam agama Islam. Ia tidak dapat disejajarkan dengan madzhab Sunni atau Syiah. Syiah, meskipun berbeda dengan Sunni, tetapi mereka tidak melanggar ajaran yang pokok tadi. Ajaran syiah berbeda dengan Sunni hanya dalam kepemimpinan sesudah Nabi Muhammad. Orang Syiah berpandangan bahwa yang berhak mewarisi kepemimpinan sesudah Nabi wafat adalah menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib. Mereka menolak kepemimpinan Abubakar Shiddiq dan sahabat lainnya. Orang syiah hanya mengakui hadis-hadis nabi yang diriwiyatkan oleh keturunan Ali. Perbedaan dalam soal khilafiyah ini tidak membuat orang syiah dicap keluar dari Islam.

Ahmadiyah juga tidak sama dengan ormas seperti Muhammdaiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah dan NU bukan aliran agama, tetapi ormas yang berlandaskan agama. Keduanya menganut ajaran Islam ahlul sunnah wal jamaah, sebagaimana mayoritas ummat Islam di dunia.

Di Indonesia Ahmadiyah tetap eksis karena mendapat dukungan dan pembelaan dari kelompok liberal dan LSM yang mengatasnamakan HAM. Kelompok pendukung ini mengenyampingkan perasaan mayoritas umat Islam mainstream yang merasa ajaran agamanya dinodai ole Ahmadiyah. Kelompok liberal dan penggiat HAM menganggap hal ini bukan penodaan agama, tetapi kebebasan berkeyakinan — meskipun dianggap salah oleh mayoritas — yang harus dilindungi leh UU. Negara tidak boleh mencampuri urusan keyakinan. Sekilas argumentasi mereka itu masuk akal, namun jika ditelisik lebih dalam lagi kelompok liberal dan penggiat HAM ini mungkin lupa bahwa masalah keyakinan adalah hal paling hakiki, prinsipal, dan sensitif. Penodaan agama juga adalah pelanggaran HAM itu sendiri, yang bila terakumulasi terus menerus maka akan menghasilkan kemarahan yang tidak berkesudahan. Barangkali itulah yang terjadi di Cikeusik, Banten.

Selama Ahmadiyah tetap ada, maka potensi konflik horizontal antar anak bangsa akan terus terjadi. Mengganti Kapolda, menteri, guberbur bahkan presiden tidak akan menyelesaikan persoalan. Akar persoalan harus diselesaikan jika ingin Indonesia ini tenang. Persoalan ada di Ahmadiyah itu sendiri.

Ada dua opsi penyelesaian yang sama-sama berat dan ongkosnya mahal. Pertama membubarkan jamaah ini dan mengembalikannya ke dalam ajara Islam mainstream. Solusi ini memang tidak mudah karena yang namanya keyakinan itu bukan barang sehari atau dua hari, tetapi sudah mendarah daging. Sangat sulit mengubah keyakinan seseorang yang sudah mendarah daging dan menjadi way of life. Tetapi, sebagai sebuah solusi ini patut dicoba.

Opsi kedua adalah menjadikannya sebagai agama baru yang berbeda dengan Islam. Ini sudah dilakukan di Pakistan, kelompok Ahmadiyah dimasukkan sebagai non-muslim. Mereka tidak menamakan rumah ibadahnya sebagai masjid, tetapi temple seperti orang Sikh. Saya tidak tahu apakah penyelesaian seperti ini merupakan solusi terbaik di sana, apakah masih menyiskan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Menjadikan Ahmadiyah sebagai agama baru, mungkinkah? Mungkin saja, namun menurut saya sangat sulit. Orang Ahmadiyah pasti menolak keras. Penyebabnya, syarat yang diajukan oleh Islam mainstream sangat suli dipenuhi mereka. Jika sebagai agama tersendiri, tentu Ahmadiyah tidak boleh lagi menggunakan terminologi Islam, seperti masjid, Al-Quran, shalat, dan sebagainya. Padahal, sebagian besar ibadah mereka sama seperti Islam mainstream.

Berkaca pada sejarah agama Kristen yang terpecah ke dalam agama Protestan dan Katolik (CMIIW, mohon maaf jika pengetahuan saya salah atau kurang), pengalaman agama ini dapat dijadikan rujukan. Agama Protestan lahir pada abad 17 sebagai bentuk protes terhadap Paus yang dianggap sebagai penerus rasul-rasul dan wakil Tuhan di bumi. Marthin Luther dan pengikutnya memisahkan diri dari kepausan di Roma dan membentuk gereja sendiri yang bernama Protestan. Kitab suci kedua agama ini tetap sama, Tuhannya sama, rasulnya sama, kepercayaannya lainnnya nyaris sama, hanya tata cara ibadahnya saja yang sedikit berbeda. Beda lainnya, agama Protestan tidak memiliki hirarkhi kependetaan seperti dalam agama Katolik. Kelahiran agama baru ini rupanya tidak berlangsung damai, sejarah mencatat terjadi pertumpahan darah dan konflik horizontal di Eropa yang berlangsung berabad-abad karena merasa paling benar. Namun saat ini kedua agama itu bisa hidup rukun dan tetap merasa nyaman dengan kepercayaannnya masing-masing.

Barangkali untuk Ahmadiyah solusinya mirip dengan kelahiran agama Protestan. Mereka menjadi agama baru tetap tetap mempunyai syariat dan peribadatan yang sama seperti Islam mainstream, tetap dengan kepercayaan terhadap Mirza Ghulam Ahmad sebagaimana yang diyakini mereka. Namun, ongkos sosial terhadap solusi seperti ini sangat mahal dan berat. Saya yakin orang Islam mainstream tidak akan setuju selama agama Ahmadiyah tetap memakai simbol dan ibadah yang sama seperti Islam mainstream. Pertumpahan darah dan kerusuhan tidak bisa terelakkan seperti sejarah agama Protestan.

Saya pun tidak menganjurkan solusi yang begini. Sangat berat, sulit, dan sekali lagi ongkos sosialnya luar biasa mahal. Kita tidak perlu kita mengulang sejarah kelam di Eropa karena pertumpahan darah yang diakibatkan kelahiran agama baru. Dan yang lebih prinsip lagi, Islam dan Kristen itu berbeda, sehingga analogi yang digunakan dalam kelahiran agama Protestan tidak bisa serta merta dipakai dalam kelahiran agama Ahmadiyah.

Maka, solusi yang terbaik menurut saya adalah melarang atau membubarkan organisasi Ahmadiyah, lalu pengikutnya diajak untuk kembali ke ajaran Islam mainstream. Saya lebih suka penyelesaian seperti ini. Memang butuh waktu lama untuk mengubah pandangan soal keyakinan yang sudah mendarah daging, tetapi ongkos sosialnya jauh lebih sedikit dibandingkan jika Ahmadiyah menjadi agama baru. Meskipun akan ada penentangan dari kelompok liberal dan LSM yang memuja-muja HAM, namun jumlah mereka sedikit atau minoritas, mayoritas umat Islam Indonesia berdiri untuk mendukung. Jika sudah menyangkut kemasalahatan bangsa, negara, dan orang banyak, maka aspirasi mayoritas memang harus lebih dutamakan daripada minoritas. Demokrasi itu melihat suara terbanyak, suara yang sedikit harus ikhlas menerima bahwa mereka tidak cukup.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

13 Balasan ke Ahmadiyah Menjadi Agama Baru, Mungkinkah?

  1. Zakka berkata:

    Satu hal yang kontradiktif yang membuat Ahmadiyah tidak layak dikategorikan Islam adalah mereka mengakui kebenaran Al-Qur’an, tapi mereka mengakui adanya nabi setelah Muhammad SAW.

    Seperti yang Pak Rin tulis di atas, jika mereka memang mengakui kebenaran Al-Qur’an, seharusnya mereka menyetujui isi A-Qur’an yang menyatakan tidak ada nabi setelah Muhammad SAW… Kontradiktif kan jadinya…

  2. berakkuda berkata:

    mirisnya,banyak pihak justru dengan mudahnya menyudutkan islam tanpa melihat esensi permasalahannya (baca : penodaan agama), hanya melihat dari sudut pandang HAM.😦

  3. Bang Jo berkata:

    salut utk catatan bpk.. jelas pd iti maslah.. shg sy kira jelas jg kta bpk: Masalah Ahmadiyah ini memang pelik dan rumit. Konflik dengan Ahmadiyah sudah berlangsung sejak dulu, bahkan sejak ajaran itu masuk ke Indonesia dari Pakistan. Di negara kelahirannya sendiri, Pakistan (dulu bagian dari India), konflik antara warga Ahmadiyah dengan warga muslim lainnya juga tidak habis-habisnya. Di negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah Ahmadiyah sudah ditetapkan sebagai ajaran terlarang. Rabithah Al Alam Al Islami, sebagai organisasi negara-negara Muslim juga menetapkan Ahmadiyah ini sebagai non-muslim. Sebagai konsekuensi dari status itu, mereka dilarang menunaikan haji ke Mekah. artiya Ahmadiyah adlah KAFIR🙂

  4. Kurnia berkata:

    Pak,
    Mohon ijin komentar, sedikit dari sudut pandang non muslim.
    IMHO, kasus Ahmadiyah ini bukanlah seperti Katolik vs Protestan, tapi sangat mirip dengan kasus Gereja Mormon. Mereka adalah aliran Kristen (Protestan), tapi memiliki nabi dan kitab suci tambahan, sehingga oleh oleh mainstream Kristen dianggap sesat. Bahkan sempat terjadi perang dulu (Perang Utah, karena kebanyakan penganut berdomisili di Utah). Namun seiring berjalannya waktu, umat kristen pada umumnya membiarkan aliran ini, dan memilih perlawanan non anarkis (lewat diskusi, syiar, sosialisasi dan sebagainya).

    Di Indonesia, penganut Mormon juga ada, termasuk penganut Saksi Yehowah, dan mereka juga dianggap beragama Kristen Protestan. Kalau Ahmadiyah menjadi agama baru, maka seharusnya Mormon dan Saksi Yehowah juga menjadi agama baru. Bagaimana dengan Sikh, Judaisme (agama orang Yahudi) dan sebagainya? Sekedar membuka wacana saja.

    Apapun solusinya, yang penting jangan anarkis.

  5. guest berkata:

    Sebenarnya repot juga… Mungkin yang jadi masalah bagi kaum muslim adalah ajaran Ahmadiyah membawa-bawa nama Islam, sehingga bagi kaum muslim kebanyakan di Indonesia, Ahmadiyah dianggap KAFIR….

    lalu? kenapa kalau KAFIR?
    bukankah agama Islam juga kafir dimata Kristen, dan begitu sebaliknya? Okelah, mungkin perbandingan Islam dan Kristen terlalu jauh karena “sudah bisa dikatakan” beda agama. Tapi masih banyak aliran di Islam sendiri yang mengkafirkan golongan lainnya. Contohnya mungkin kaum Syiah, kaum ekstremis, dll.
    Yang lucu, aksi “heroik” sebagian golongan di atas masih dianggap “berjuang di jalan Allah tapi salah kaprah” oleh sebagian penganut Islam mainstream di Indonesia. Adakah pihak yang disakiti atau tewas oleh ajaran Ahmadiyah? saya rasa tidak. Lalu kenapa harus sampai menyakiti mereka?

    yang jelas, tindakan kekerasan dan pemaksaan untuk memasuki golongan tertentu untuk suatu kaum, apapun kaum itu, bertentangan dengan “Lakum Diinukum Wa Liyadiin”.

    Tindakan kekerasan terhadap Ahmadiyah kemarin pertama kalinya membuat saya malu sebagai orang beragama…

  6. alia berkata:

    Bpk. Munir yth… mohon maaf sebelumnya, seperti yang dikemukakan oleh banyak ulama, dan seperti yang tercantum dalam tulisan Bapak, banyak hal yang tidak benar. Salah satunya adalah bahwa Tazkirah bukan kitab suci Ahmadiyah. Bahkan sebagian besar anggota Ahmadiyah belum pernah melihat wujub buku itu. Tazkirah yang sering digunakan sebagai referensi oleh ulama bukan berasal dari Ahmadiyah.
    Sebagai nformasi, keadaan Pakistan setelah Ahmadiyah dianggap gol. minoritas, kerap terjadi kekerasan dan pembunuhan terhadap anggota Ahmadiyah. Pada bulan Mei 2010, 80 lebih anggota Ahmadiyah wafat diberondong peluru oleh sekumpulan orang pada saat sholat Jumat.. Bila ingin mendapat informasi yang sebenar-benarnya tentang Ahmadiyah, silakan membuka website http://www.alislam.org.

  7. New Age berkata:

    Saya tidak tahu tentang bola sepak, saya tanya pada pemain bola sepak. Tentunya saya tidak akan bertanya pada penonton bola sepak saja, atau supporter salah satu kesebelasan bola sepak saja, atau wartawan bola sepak saja.

  8. idam herlambang berkata:

    Sayapun merasa prihatin dengan kejadian-kejadian yang sekarang2 ini menimpa agama kita, mereka saling tuding menuding satu sama lainnya dan terkadang mereka membuat aturan sendiri mengenai agama yang sebelumnya sudah ada dalam ajaran agama kita sejak dulu, lalu mau dibawa kemana kerukunan beragama kita yang sudah sejak lama kita bina bersama dan yang lebih naif lagi, mereka yang melihat agama kita non muslim akan memandang sebelah mata dengan ketidak rukunan agama Islam yang terbesar didunia ini….atau…mungkin ini tanda2 sudah dekatnya hari akhir jaman yang telah dijanjikan Allaah SWT…Untuk itu, sebelum hari akhir itu datang…marilah kita mendekatkan diri kpd Allah SWT dan mengikuti segala ajaran-Nya, Insya Allah kita akan selamat dunia akhirat….Amiiin………………….

  9. Ping balik: Masters 2011 Golf – MASTER BISNIS | Cari Duit Dari Internet :: Great Golf Swing Tips

  10. Radhar Tribaskoro berkata:

    Yg menjadi persoalan adalah bisakah kita membedakan masalah akidah dengan masalah hak-hak sipil. Akidah adalah masalah hukum di dalam suatu agama. Hak-hak sipil adalah masalah hukum di dalam masyarakat. Hukum agama berlaku di dalam masyarakat agama itu, sedangkan hukum nasional berlaku untuk seluruh masyarakat yang ada.
    Sesat atau tidaknya Ahmadiyah merupakan masalah di dalam domain hukum agama. Negara menghormati keputusan itu tetapi menjadi suatu persoalan bila “terpidana” di dalam hukum agama otomatis menjadi “terpidana” di dalam hukum nasional. Apakah seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan kafir oleh otoritas agama tertentu juga harus dianggap kriminal oleh negara? Bukankah bila bagi seseorang si A adalah kafir, maka bagi si A orang itu kafir juga? Kepada siapa negara kemudian harus berpihak?
    Artikel di atas saya kira bermaksud mengatakan “Negara hendaknya berpihak kepada mayoritas.” Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari “Mayoritas menindas minoritas”, yang “terlalu mahal harganya.”
    Saya kira kita semua setuju bahwa negara ini tidak didirikan “demi superioritas mayoritas.” Negara ini didirikan di atas dasar prinsip bahwa semua warga negara memiliki hak yang sama. Apakah ia berada di kelompok mayoritas atau di kelompok minoritas, negara harus menjamin hak-hak mereka. Atas dasar prinsip ini Amerika Serikat bahkan berani meriskir perang saudara. Apakah artinya “negro” bagi Abraham Lincoln? Secara pribadi, di Selatan ia punya sahabat lebih banyak orang kulit putih ketimbang Negro. Sebagai kekuatan politik orang Negro juga tidak diperhitungkan. Tidak ada pemberontakan orang Negro yang berarti, yang bisa menggoyahkan kekuasaan Washington waktu itu. Sebagai kekuatan sosial orang Negro itu sendiri barangkali tidak banyak yang mengerti apa itu perbudakan.
    Sungguhpun demikian Abraham Lincoln berani meriskir suatu keputusan yang berujung sangat jelas: perang saudara!
    Bagi saya dia adalah pemimpin besar. Sejak itu Amerika Serikat pun menjadi negara besar, sebuah negara yang membuktikan diri bahwa ia bisa menjadi tempat berlindung bagi warga negaranya. Sebuah negara yang pantas dicintai dan dibela sampai mati oleh siapapun warganya, apakah Protestan dan Katolik yang mayoritas, ataupun Mormon, Pantekosta, Islam, Hindu dsb yang minoritas. Sampai sekarang Amerika Serikat menjadi tujuan bagi siapapun yang terpaksa melarikan diri untuk mendapatkan kebebasannya.
    Lepas dari fatwa MUI yang megkafirkan Ahmadiyah, hak-hak sipil warga Ahmadiyah tidak berubah. Seorang Ahmadiyah baru dapat diajukan ke pengadilan sipil bila terbukti melakukan penistaan kepada agama lain. Penistaan adalah “penghinaan dimuka publik”. Apakah Ahmadiyah telah menistakan Islam? Menurut pendapat saya warga Ahmadiyah sangat menghargai bahkan mencintai Nabi Muhammad. Mereka mengakui Muhammad sebagai Rasul mereka dan pembawa syariat mereka. Bila anggapan mereka bahwa ada nabi lagi setelah Muhammad dianggap sebagai penghinaan, maka untuk membawa hal tersebut ke ranah hukum sipil perlu dibuktikan bahwa penghinaan itu dilakukan di depan publik.
    Jadi menurut pendapat saya, bila ingin membawa masalah Ahmadiyah ke ranah negara bawalah masalah ke pengadilan sipil. Keputusan-keputusan politik seperti Pergub, SKB 3 Menteri atau undang-undang akan menimbulkan masalah konstitusional. Akan muncul pertanyaan, untuk siapa negara ini didirikan?

  11. Hari Samsuri berkata:

    Semoga kutipan tulisan dari blog di bawah ini, tidak termasuk ” . . . kelompok liberal dan LSM yang mengatasnamakan HAM . . .”, untuk sekedar mengimbangi opini pemilik blog rinaldimunir.wordpress ini

    http://andreasharsono.blogspot.com/2010/02/ahmadiyah-rechtstaat-dan-hak-asasi_18.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s