Di sebuah Pesta, Makan Minum Sambil Berdiri

Ada perasaan risih ketika saya hadir di sebuah pesta perkawinan. Para tamu makan dan minum sambil berdiri, bahkan sambil berjalan dan mengobrol dengan tamu lainnya. Risih karena sebenarnya makan dan minum sambil berdiri itu tidak patut, seperti hewan makan sambil berdiri saja. Meskipun makan dan minum sambil berdiri itu tidak berdosa (hukumnya mubah atau boleh), namun para ulama sepakat menyatakan bahwa yang utama adalah makan dan minum sambil duduk (baca penjelasannya di sini).

Saya sudah menghadiri banyak acara walimahan perkawinan. Umumnya pesta pernikahan tersebut dilakukan di gedung, bukan di rumah. Hampir sebagian besar yang empunya pesta tidak menyediakan kursi yang cukup buat tamu. Jumlah kursi hanya puluhan, sedangkan tamu yang datang ratusan pada waktu yang hampir bersamaan. Alhasil, para tamu “terpaksa” makan dan minum sambil berdiri.

“Terpaksa”? Tidak semuanya, bahkan pada pesta perkawinan yang menyediakan kursi dalam jumlah banyak sekalipun, sebagian tamu enggan duduk. Mereka lebih memilih berada dekat stand makanan dan makan minum sambil mengobrol dengan tamu lain yang mungkin sudah lama tidak berjumpa. Memang, resepsi pernikahan sering dijadikan ajang reuni atau kumpul-kumpul para sahabat yang lama tidak bertemu. Maka, reuni sambil duduk mungkin dianggap kurang pas. Berdiri sajalh sambil makan, mungkin begitu dalam pikiran banyak orang.

Saya pernah menghadiri acara pesta perkawinan sebuah keluarga yang saya kenal islami. Untuk menjaga sunnah Rasul, keluarga ini menyediakan kursi dalam jumlah yang cukup banyak. Tamu pria dan wanita dipisahkan tempatnya sehingga tidak berbaur (ada hijab). Sekali-sekali pembawa acara menghimbau para tamu agar makan sambil duduk di kursi. Mempankah himbauan itu? Tidak juga, tetap saja banyak yang makan dan minum sambil berdiri dan saling ngobrol dengan tamu lainnya. Oalaaahh, sudah menjadi kebiasaan rupanya sehingga sulit untuk diubah.

Lucunya, pada acara buka puasa bersama di Aula Barat ITB tahun lalu, para dosen ITB pun berbuka puasa sambil berdiri. Jadi, kalau sudah menjadi budaya, susah juga mau diubah, tak peduli itu acara pesta atau acara berbuka puasa.

Anehnya, ketika menghadiri resepsi perkawinan yang diadakan di rumah (bukan di gedung), para tamu tidak ada yang makan sambil berdiri, semuanya duduk dengan tertib di kursi yang disediakan (jumlah kursi cukup banyak). Kursi-kursi itu disusun di halaman rumah atau di jalan depan rumah dengan tenda biru menaunginya. Rupanya nuansa di rumah dan di gedung memberikan efek yang berbeda. Kenapa? Sebab kalau di rumah sendiri kita biasanya makan sambil duduk, bukan?

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

6 Balasan ke Di sebuah Pesta, Makan Minum Sambil Berdiri

  1. Mantoel Toeink berkata:

    Hmm, makan/minum sambil berdiri memang sdkt kurang nyaman sih sbnrnya. Apalagi rentan kesenggol org yg lewat sana sini di depan/belakang/samping kita. Cuma, hmmm, kyk udah jd tradisi di sini sepertinya kalo ada acara semacam undangan pernikahan jadinya gak duduk deh.

    Acara pesta pernikahan yg perjamuan makannya diadakan sambil duduk seringnya yg masih bernuansa Tionghoa, Pak Rin. Biasanya para tamu duduk di meja2, sekitar berdelapan sampe bersepuluh dan nanti makanannya diantar ke setiap meja. Jumlah variasi menunya berkisar antara 8-11 menu. Ini agak nggak enaknya karena duduk semeja dengan org yg blm tentu dikenal, kdg2 ndongkol kalo ada menu yg disukai tapi diembat ama org lain sblm kita sempat nambah, Pak. :))

    Hehe.

  2. si uman berkata:

    itu sih bagaimana kebiasaan, Pak, toh waktu di acara nikahan teman saya yang di tengah aulanya sudah diberikan kursi yang banyak pun, masih banyak yang makan sambil berdiri. Ayo kita biasakan makan dan minum sambil duduk😀

  3. bayu berkata:

    Kalau ikut cara perkawinan orang Barat, mereka sudah menyiapkan tempat duduk buat makan. Mari kita tiru caranya…🙂

  4. HatiPlong.com berkata:

    Terimakasih, artikel yang bermanfaat..

  5. gunawank berkata:

    Secara tidak sadar umat Islam telah meninggalkan adab-adab Islami……….

    Salam kenal,
    by: http://gunawank.wordpress.com/2011/02/14/tugas-mulia-rasulullah-saw/

  6. Fajar rohman berkata:

    Dari abu Hurairah ra,
    sesungguhnya Rasulullah SAW melihat seorang lelaki yang sedang minum sambil
    berdiri kemudian beliau bersabda:”muntahkanlah!”, lelaki tersebut berkata
    :”kenapa ?” Nabi pun menjawab:” apakah kamu akan senang jika kamu minum dengan
    seekor kucing?” sahabat tersebut menjawab :”tidak”, Nabi bersabda:
    “sesungguhnya kamu minum bersama dengan mahluk yang lebih jelek dari kucing,
    yaitu syaitan.” ( HR Muslim )

    Al Hadits ada menjelaskan dengan pekataan yang sekaligus menjawab penafsiran bagi yang melihatnya Perbuatan (Assunah) Nabi.saw pada saat tertentu seperti
    pada saat Nabi.saw meminum air zam-zam sambil berdiri dengan kondisi tersendiri yang diketahui oleh Nabi.saw
    Seperti kondisi laki-laki Minum sambil berdiri tsb diatas.

    Maka sangat jelas menerangkan perkataan Nabi.saw tentang larangan minim sambil berdiri.
    Bukan tafsiran – tafsiran berdasarkan Nabi minum air zam-zam sambil berdiri kemudian orang mengatakan bolehnya
    Bila boleh kemudian bagaimana dengan larangannya…yang disampaikan sendiri oleh Nabi.saw.

    Apakah akan sama permasalahannya tentang jiarah kubur..
    Ketika Nabi.saw memperbolehkannya dengan meralat yg terdahulu ketika Rasulullah melarangnya….dan orang berpegang kepada larangannya..?

    Juga Nikah Mut’ah Rasulullahkemudian melarangnya setelah terdahulunya memperbolehkannya,…dan apakah orang kemudian memegang yang memperbolehkannya…??

    Sangat jelas Mudorotnya minum dan makan sambil berdiri
    maka mengapa lagi memilih yang buruk..? dan budaya makan minum sambil berdiri adalah budaya eropa dalam acara pesta kebun dan pesta yg lain orang-orang non Islam

    QS.Al Imron 31,32
    31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s