Bila Mahasiswa Cium Tangan Dosennya

Ada pengalaman menggelikan yang saya alami dalam dua tahun terakhir ini. Kebetulan setiap tahun saya selalu menjadi dosen wali mahasiswa TPB (mahasiswa tingkat 1 di ITB). Saya memegang sekita 20 orang mahasiswa perwalian. Sebagai dosen wali, tentu saja saya menjadi tumpuan tempat bertanya para mahasiswa tingkat I. Maklum mereka masih baru di ITB, masih peralihan dari SMA. Mereka bertanya apa saja, mulai dari cara pemilihan Program Studi, cara belajar, cara mengatur waktu, minta tanda tangan buat beasiswa, dan sebagainya. Kalau tidak bertanya lewat email atas SMS, mereka kadang-kadang suka datang langsung ke kantor untuk bertemu. Nah disinilah pengalaman menariknya. Ketika mereka datang, mereka selalu mencium tangan saya sambil sedikit membungkukkan badan, begitu juga kalau pamitan cium tangan lagi.

Tentu saja saya merasa geli sendiri, karena tidak biasanya mahasiswa mencium tangan dosennya ketika bertemu. Dari dulu hingga dua tahun lalu belum pernah saya dicium tangan oleh mahasiswa. Sebenarnya saya kurang suka diperlakukan begitu, saya ini orangnya egaliter. Ada perasaan risih atau jengah gitu, tetapi mau gimana lagi, tidak enak juga menolaknya. Saya pikir mungkin mereka meneruskan tradisi di sekolah. Kalau saya amati, budaya cium tangan itu merata di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai SMA. Siswa selalu mencium tangan guru setiap kali bertemu atau setiap kali habis berbaris akan masuk kelas. Begitu juga kalau pulang, siswa kembali mencium tangan guru. Itu pula yang saya lihat di sekolah anak saya, sebagian guru berbaris di depan gerbang sekolah menyambut muridnya. Murid yang baru datang menghampiri para guru lalu mencium tangan mereka sebelum masuk ke dalam kelas,

Maksud cium tangan itu tentu sebagai wujud penghormatan dan kecintaan murid kepada orang yang digugu dan ditiru (yaitu guru). Bagi kalangan santri di pesantren, mencium tangan kyai tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai cara ngalap berkah. Mereka (para santri) berharap mendapat berkah dari ilmu sang Kyai. Di kalangan kaum nahdliyin kita sering melihat pemandangan seperti ini, para jamaah berebut mencium tangan kyai yang mereka hormati sebagai bentuk kecintaan, penghormatan, dan juga untuk ngalap berkah. Tidak hanya jamaah, tetapi para pejabat atau menteri kalau bertemu tokoh Kyai selalu begitu, mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan dan mumpuni ilmu agamanya.

Dalam Islam sendiri tidak terdapat ajaran cium tangan. Tidak pernah diceritakan dalam Hadis para sahabat mencium tangan Nabi. Cium tangan juga bukan tradisi orang Arab. Orang Arab malah punya budaya saling sun pipi ketika bertemu, tetapi sun pipi hanya untuk sesama sejenis saja. Saya berkesimpulan budaya cium tangan itu adalah khas budaya Jawa (termasuk di tataran Sunda) yang paternalistik. Dalam masyarakat paternalistik kedudukan orang tua sangat penting, mereka dihormati dan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Orang (yang lebih) tua tidak boleh dibantah, mereka adalah pengayom orang yang lebih muda. Berbicara kepada orang (yang lebih) tua harus sopan memakai bahasa halus (Jawa kromo). Menentang orang (yang lebih) tua adalah kualat. Orang yang lebih tua itu bisa berupa sultan (raja), bupati, kyai, guru, termasuk orang tua kandung. Pada masa lalu, budaya paternalistik sangat kental di Jawa karena adanya hirarkhi strata masyarakat dari kraton hingga rakyat jelata. Sisa-sisa dari budaya paternalistik itu kita temu hingga sekarang, antara lain tradisi cium tangan itu.

Dalam masyarakat egaliter tidak kita temui tradisi cium tangan itu. Saya yang berasal dari daerah Minangkabau yang masyarakatanya dikenal egaliter (karena tidak pernah hidup dalam tradisi kraton seperti di Jawa) tidak menemukan budaya cium tangan itu di kampung-kampung. Orang muda kalau bertemu orang tua tidak mencium tangan, tetapi cukup salam saja. Hanya sekarang-sekarang saja saya menemukan siswa sekolah di Sumatera Barat mencium tangan gurunya. Begitu juga pasangan muda mulai membiasakan anak-anaknya untuk mencium tangan orangtua kalau mau pamit, datang, atau bertemu dengan teman si orangtua. Istilah cium tangan dari anak ke orangtua disebut salim. Barangkali fenomena ini sebagai pengaruh dari tayangan di media televisi dimana, baik dari sinetron maupun berita-berita yang menampilkan anak mencium tangan orang tua, murid mencium tangan guru, atau santri dan jamaah mencium tangan ustad/kyai.

Meskipun cium tangan itu warisan budaya paternalistik, tetapi sebenarnya itu budaya yang baik asakan tidak terlalu berlebihan, misalnya sebagai bentuk penghambaan atau menyembah. Murid memang perlu menghormati gurunya, anak wajib menghormati orangtuanya, salah satu cara yang ditradisikan adalah dengan mencium tangan sebagai bentuk bakti dan cinta. Saya juga mentradisikan budaya salim ini di rumah, dimana anak selalu cium tangan orangtuanya kalau mau sekolah, pergi, dan pulang ke rumah.

Maka, jika mahasiswa mencium tangan dosennya saya kira agak berlebihan dan tidak perlu. Kehidupan di kampus adalah kehidupan yang egaliter. Tidak ada gap antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa bisa duduk sama tinggi dan sama rendah dengan dosennya. Tidak ada gap antara profesor dengan dosen yang belum profesor, tidak ada jarak antara rektor dengan dosen, karena rektor itu kan dosen juga. Begitu juga tidak ada jarak antara Dekan dengan dosen di fakultas, dan sebagainya. Dosen dan mahasiswa adalah sejajar sebab mereka makhluk akademis. Jadi, anda tidak akan menemukan di ITB dosen muda mencium tangan rektor, dosen biasa mencium tangan profesor atau mahasiswa tingkat empat mencium tangan dosen pembimbing TA. Bersalaman saja sudah cukup, atau sekedar menganggukkan kepala kalau bertemu di jalan sembari tersenyum atau menyapa dengan ucapan Pak, Bu, dan sebagainya.

Yang membuat saya tersenyum simpul adalah pengalaman ketika bertemu kembali dengan mahasiswa yang dulu di bawah perwalian saya ketika TPB. Sekarang mereka sudah tingkat dua, atau tingkat tiga, atau tingkat akhir. Jika mereka menemui saya atau bertemu di jalan, mereka tidak pernah cium tangan lagi. Ha..ha..ha. Mungkin malu, atau mungkin sudah merasakan egaliterian kehidupan di kampus. Namun saya kira memang seharusnya begitu, tidak perlu berlebihan menghormati kami.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

21 Balasan ke Bila Mahasiswa Cium Tangan Dosennya

  1. Willy Permana berkata:

    Mahasiswanya cium tangannya ke pelipis atau ke hidung pak?๐Ÿ˜€

    Dulu itu, budaya cium tangan juga nggak kental di murid sekolahan SD sampai SMA/SMU, cuma di waktu-waktu spesial (kenaikan kelas, kegiatan ROHIS, dll). Tapi ya tetap hormat. Sekarang kelihatannya hormat, cium tangan, tapi khawatirnya cuma formalitas.

  2. ady w berkata:

    orang arab di sini ada yang pipi ke pipi atau hidung ke hidung (untuk laki2). kalau perempuan pipi ke pipi. keduanya juga berpelukan (tp bukan antar laki perempuan)

  3. Zakka berkata:

    Wah, ini baru Pak, gak nyangka juga ada yang bawa kebiasaan sekolah ke kampus… Tapi saya sejak SMA sepertinya sudah tidak pakai cium tangan guru juga๐Ÿ˜€

    Ngomong2, ada kalimat yang sepertinya agak janggal, awal paragraf tujuh… “Maka, jika mahasiswa mencium tangan dosen saya itu agak berlebihan dan tidak perlu”.

  4. andihendra berkata:

    -Tidak ada gap antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa bisa duduk sama tinggi dan sama rendah dengan dosennya. –

    kayaknya masih ada deh Pak๐Ÿ˜€

    • Rinaldi Munir berkata:

      Satu dua memang masih ada, tergantung dosennya juga. Tetapi, secara umum tidak ada hirarkhi antara dosen dan mahasiswa. Anda bebas berbicara sama dosen anda, duduk bersama, berdiskusi tanpa merasa beban. Meskipun egaliter, namun tetap etika harus dikedepankan. Sopan, gitu.

  5. jetzer berkata:

    Saya sebagai keturunan orang Jawa sangat merasakan budaya paternalistik ini Pak. Saya melaksanakan budaya ini ketika pulang kampung ke Jawa Tengah dimana setiap ada orang berkunjung atau saya mengunjungi orang, saya pasti disuruh bersalaman (tidak cium tangan) oleh orang tua saya. Namun, hal ini tidak saya laksanakan di Bandung. Mungkin lebih baik jika kita bertindak sesuai dengan budaya setempat, Pak๐Ÿ˜€

  6. Cahya berkata:

    kebiasaan dari SD sampai SMA memang sangat kental bahkan di lingkungan keluarga saya. saya sudah lama menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Kalo sekarang seperti g perlu cium tangan lagi, apalagi sama atasan.๐Ÿ˜€

  7. anin berkata:

    Wah, waktu di SMA saya dulu kebiasaan cium tangan sudah agak berkurang, jadi antara guru dan murid bersalaman biasa saja. Jadi waktu kuliah nggak kepikiran buat cium tangan ke dosen๐Ÿ™‚
    Di keluarga saya (jawa) juga tidak terlalu diharuskan cium tangan, biasanya untuk anak ke orang tuanya saja. Jadi kalau ke Bu de atau Pak de saya cuma salaman biasa saja. Tapi kalo di keluarga suami (aceh), cium tangan ke orang yg lebih tua itu justru wajib hukumnya.

  8. Ali Akbar berkata:

    Dulu zaman saya SMP ada seorang guru yang tidak pernah membiarkan kami sebagai siswanya mencium tangannya, entah apa alasannya. Padahal sebagian guru yang lain ya malah mewajibkannya.

  9. ceuceu berkata:

    Iya Bang R. Di Indramayu juga seperti itu, semua guru cium tangan kepada Kepala Dinas Pendidikan. Bahkan lucunya gurunya Pak Kadin juga ikut2 cium tangan padahal masih sepuh gurunya kan hehehe…. Nah yang lebih lucu lagi… Saya dosen salah satu tempat kuliah Beliau2(Beberapa Kepsek SD ada yang belum S1), mereka cium tangan saya juga karena mereka mahasiswa saya. Jadi pabaliut kata orang Sunda mah… Saya mencoba tarik tangan saya sambil bilang bahwa saya lebih yunior dari mereka eh mereka bilang Ibu Dosen jadi pengetahuannya lebih senior dari saya, akhirnya saya buat kesepakatan kalo saya tidak menerima dicium tangannya hahaha….

  10. hchoirihendra berkata:

    Saya juga seumur-umur cium tangan hanya kepada orangtua saya saja.. Emang gak terbiasa sih Pak..

    Terus efeknya, ketika ada orang yang akan mencium tangan saya, secara reflek saya langsung menarik tangan saya buat menghindar, hahaha..
    Jadinya kadang ada yang marah-marah dikiranya saya sedang ngerjain dia, haduhaduuuh..

  11. Alris berkata:

    Emang dimasyarakat egaliter tidak ada budaya cium tangan. Tapi orang egaliter kalau udah merantau ke Jawa kebanyakan jadi ikut budaya itu. Sebagai bentuk penghormatan sih baik juga.

  12. Imam Ciptarjo berkata:

    hmm mungkin gara2 liat artikel ini jadi malu…
    huhu…

  13. muhsatrio berkata:

    Turut dimaklumi aja pak,mereka kan masih mahasiswa tingkat pertama,pasti banyak kebiasaan kebiasaan ‘Anak Sekolah’ yang mereka bawa ke dunia kampus..haha..๐Ÿ™‚

  14. hera berkata:

    Saya Minang asli tetapi hidup di rantau. Budaya salim adalah wujud penghormatan. Apalagi untuk orangtua. Saya sendiri sekarang hidup di Jawa, budaya salim bukan keharusan seperti kata Bapak di atas.
    Jadi rasa saya bukan karena latar belakang egaliter yg disebutkan orang Minang atau karena orang Jawa.

  15. Hanna berkata:

    menyenangkan ya kalau tidak ada gap antara dosen dan mahasiswa tapi sayangnya ada sebagian dosen yg merasa tidak suka jika ada mahasiswa yg lebih pintar, ada juga dosen yg tidak pernah menghargai usaha mahasiswa, meskipun tetap ada dosen yg bisa bersahabat dengan mahasiswa dan slalu membantu mahasiswa. Ternyata budaya di ITB seperti itu

  16. Salmin Mointi berkata:

    Terimah kasih Pak, ada penjelasannya, sangat membantu artikelnya.. ternyata itu alasannya, kita masyarakat egaliter. memang cium tangan tidak ada dalam tradisi itu,,

  17. Salmin Mointi berkata:

    Terimah kasih Pak, ada penjelasannya, sangat membantu artikelnya.. ternyata itu alasannya, kita masyarakat egaliter. memang cium tangan tidak ada dalam tradisi itu,,

  18. Bill Hikmah berkata:

    Saya mah nanti kuliah mau tetep cium tangan aja. Biar sopan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s