Plus Minus “Kutu Loncat”

Minggu lalu saya kedatangan seorang alumnus. Dia bercerita bos di kantornya mulai agak enggan merekrut pegawai baru dari alumni ITB lagi. Kenapa? Baru beberapa bulan bekerja, pegawainya yang dari ITB sudah minta resign. Pindah kerja karena (mungkin) diterima bekerja di tempat lain. Mending kalau sudah bekerja satu hingga beberapa tahun, ini cuma baru satu dua bulan berkerja sudah minta berhenti. Tentu perusahaan harus mencari orang baru lagi, mentraining lagi, menjelaskan pekerjaan yang akan dikerjakan, dsb. Buang-buang waktu, tenaga, dan biaya, kata si bos itu. Karena itu dia mikir-mikir kalau menerima dari ITB lagi, mungkin lebih baik lulusan perguruan tinggi lain yang lebih setia.

Ini persoalan sejak lama, yaitu “kutu loncat”. Istilah ini dilekatkan pada orang yang suka berpindah-pindah pekerjaan, seperti kutu yang suka meloncat dari satu daun ke daun yang lain. Tidak loyal, begitu kira-kira. Ada tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain, lalu mereka minta berhenti. Yang dirugikan oleh perilaku seperti ini jelas adik-adik kelasnya yang akan mencari pekerjaan. Insitusi mereka nanti terancam di-blacklist oleh perusahaan yang merasa cape oleh perilaku kutu loncat.

Kutu loncat memang serba salah. Sifat dasar manusia adalah selalu mencari yang lebih baik dari yang pernah ada. Jika ada tawaran kerja yang lebih menarik, mengapa tidak dicoba? Emang sih, mau pindah-pindah kerja adalah hak seseorang, namun sebenarnya tetap ada etikanya. Kalau hanya sebulan dua bulan lalu minta berhenti, jelas kurang etis. Jika hanya menjadikan perusahaan tempat bekerja sebagai tempat singgah, ya tidak usahlah melamar ke sana. Pikirkan matang-matang sebelum memutuskan menerima tawaran bekerja di suatu tempat. Kasihan adik-adik kelas kalian yang terkena dampak.

Kutu loncat pasti ada plus minusnya. Minusnya adalah seperti yang saya ceritakan di atas. Plusnya tentu ada, yaitu untuk mencari tantangan baru. Biasanya alumni ITB begitu, kecuali bagi orang yang sudah merasa nyaman (berada di comfort zone). Bagi orang-orang yang merasa di perusahaan yang lama sudah tidak ada tantangan lagi, mereka jadi bosan, lalu mencoba berkarir di tempat lain yang lebih menantang. Tapi tentu pindah-pindahnya tidak dalam waktu yang berdekatan, biasanya setelah beberapa tahun. Efeknya terasa sebab pengalaman yang ditimba dari suatu perusahaan ke perusahaan lain menjadi bekal untuk pengembangan diri dan karir lebih lanjutnya. Jadi, perilaku kutu loncat itu ada nilai tambah juga bagi diri seseorang.

Kalau saya amati, senang pada hal-hal yang menantang adalah ciri mahasiswa saya di ITB. Ini mungkin efek dari pemberian tugas-tugas kuliah yang cukup berat. Jika tugasnya menantang, apalagi jika menggunakan teknologi dan kakas baru, mahasiswa tampak sangat semangat mengerjakannya. Mereka bisa tidak tidur-tidur semalaman karena asyik mengerjakan tugas tersebut. Mungkin sikap begini terbawa pula di tempat bekerja.

Fenomena kutu loncat saya rasa tidak hanya ada pada lulusan ITB, saya kira pada lulusan PT lain juga ada. Lebih banyak mana, dari ITB atau dari PT lain? Secara statistik saya tidak punya datanya, jadi hanya berdasarkan pengalaman empirik saja. Yang saya tahu hanya cerita-cerita seperti ini ketika bertemu para alumni di dunia nyata atau di dunia maya. Kutu loncat jika dimenej dengan baik dan dilakukan secara beretika saya kira tidak akan merugikan siapa-siapa.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika, Seputar ITB. Tandai permalink.

8 Balasan ke Plus Minus “Kutu Loncat”

  1. Zakka berkata:

    Sistem mengontrak pegawai bisa menghentikan kekutuloncatan dalam waktu dekat itu sebenarnya…

    Misal, dikontrak 6 bulan, jika keluar sebelum 6 bulan, harus membayar total gaji 6 bulan / total gaji yang sudah dibayarkan / sejumlah uang tertentu… Mungkin perusahaan harus lebih pintar “memanfaatkan” kutu loncat yang seperti ini😀

  2. agung berkata:

    Sedikit menambahkan dari sisi “pengusaha” pak, kebetulan saya pernah memperkerjakan beberapa lulusan ITB, mereka pilih pindah memang faktor “challenge”, kalau di perusahaan itu merasa tidak bisa berkembang, atau menambah ilmu pasti pilih keluar. Tapi jangan hal seperti ini dianggap negatif, tetap didik mereka dengan baik, beri mereka “good impression”, sehingga kalau pindah ke perusahaan lain, mereka masih berhubungan baik dengan kita, dan bisa membuka pintu kerjasama bisnis🙂

    Oya, yang sebaliknya juga ada. Karyawan yang tidak bisa perform, tapi selalu berada di nyaris garis degradasi (alias terancam dipecat), tetapi ga keluar-keluar, yang macam gini bikin rugi perusahaan😦

  3. ady w berkata:

    memang kalau kutu sebaiknya meloncat pak, soalnya kalau gak meloncat dia bikin gatel, hehehehe…

    selama justifikasinya ok dan keluar baik, hal itu tidak seharusnya jadi masalah besar dan perusahaan juga harus bikin strategi supaya bisa menangani kutu loncat ini, apalagi pindahnya saat masa percobaan (3 bulan??)… harusnya perusahaan tidak terlalu dirugikan.

    Terserah perusahaan juga kalau mau blacklist seluruh alumni
    dari universitas yang bersangkutan walau ini kurang arif menurut saya.

  4. rizky berkata:

    Betul, pak. Saya pernah mendengar beberapa perusahaan agak malas untuk menghire mahasiswa dari ITB, terutama perusahaan yang memang mencari pekerja tetap yang bisa bertahan lama.

    Di tempat KP saya dulu malah di divisi IS nya belum ketemu sama mahasiswa ITB, kecuali di jajaran manajemennya.

  5. kojack berkata:

    Ya… fenomena kutu loncat nampaknya tidak bisa dipisahkan dari bekerja di sektor swasta… pekerja yang bekerja di sektor swasta memang menanggung resiko lebih besar dibanding yang bekerja sebagai PNS. jadi normal kalau mereka punya kecenderungan mencari yang terbaik. (ada g y PNS kutu loncat?)

    belum lagi kalau benar2 punya kompetensi mumpuni. wa… tawaran bisa datang dr 8 arah mata angin.

    btw, salam kenal🙂

  6. Bila sistem yang dijalankan saling menguntungkan dan meng-enakkan fenomena kutu loncat semakin jarang. Yang sering terjadi sistem yang dijalankan tidak meng-enakkan kedua belah pihak.

  7. haloo pak,

    artikel yang menarik

    Alasan menjadi kutu loncat memang beragam pak, cuman kl menjadi stereotyping mahasiswa ITB agak ambigu rasanya. karena banyak juga perusahaan2 lain yang dari lulusan lain mengalami hal yang sama.
    Kalau saya mungkin lebih memandang ke generasi sekrang (gen Z) yang mempunyai deskripsi salah satunya ” kutu Loncat” atau gampang tidak puas dan berjiwa enterpreneur tinggi.
    generasi seperti ini susah untuk dikekang oleh peraturan2 perusahaan yang konvensional.
    jadi mungkin solusinya menjadi perusahaan dengan peraturan yang di sesuaikan dengan generasi sekarang dan pola pikir yang baru.

    sekedar berpendapat..

    salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s