Ulat Bulu dan Zaman Nabi Musa

Hari-hari belakangan ini rakyat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, disibukkan dengan serangan ulat bulu. Ulat bulu dalam jumlah yang luar biasa banyaknya merayap di pohon-pohon, di dinding rumah, di tanah, dan di tempat mana saja. Bermula serangan ulat bulu di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, lalu ke Bali, kemudian berbalik ke Jawa Tengah, Jakarta, dan terakhir sudah sampai ke Bandung.

Foto-foto ulat bulu ini diambil dari intenet. Kalau difoto ternyata gambar-gambar ulat itu sangat menawan, tapi kalau terkena bulunya, maka indahnya ulat bulu itu berubah menjadi kejengkelan. Siapapun tidak suka ulat bulu. Jika terkena bulunya menyebabkan kulit menjadi gatal-gatal. Itu karena bulu ulat ini mengeluarkan semacam zat kimia yang membuat kulit gatal-gatal. Saya dan anak yang sekolah di TK pernah terkena bulu dari ulat ini. Entah kenapa ya, ulat bulu ini suka menjatuhkan diri ke tanah, lalu merayap dan menempel di sepatu. Jika terpegang, udah deh… dijamin gatal-gatal. Saya kira cukup diobati dengan balsem atau minyak kayu putih, eh ternyata tidak cukup. Rasa gatal membuat kulit bentol-bentol kemerah-merahan. Beberapa hari kemudian bentol-bentol itu berisi air, mirip seperti kutu air. Biasanya kalau sudah berisi air itu, saya suka tusuk pakai jarum supaya airnya keluar (jorok ah..). Seminggu lebih baru sembuh dan ganti dengan kulit yang baru. Merepotkan sekali jika terkena ulat bulu.

Ulat bulu sebenarnya adalah salah satu fase dari metmorfosis serangga bernama ngengat. FYI, kalau ulat daun yang tidak berbulu bermetamorfosos menjadi kupu-kupu, maka ulat bulu nanti berubah menjadi ngengat. Antara ngengat dan kupu-kupu bentuknya mirip. Bila anda ingin tahu lebih jelas tentang ulat bulu jenis ngengat ini, baca deh blog rekan dosen dari Biologi ITB, Pak Taufikurrahman.

Kembali ke judul di atas. Fenomena serangan ulat bulu yang sekarang sedang heboh di Indonesia mengingatkan saya dengan serangan hama belalang, kutu, katak, dan darah pada zaman Nabi Musa dan Firaun. Di dalam Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 130 – 135 disebutkan Firman Allah SWT sebagai berikut:

130. Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

131. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

132. Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu”.

133. Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah [558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

134. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu [559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu”.

135. Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

(Sumber foto dari Kasus.net)

Cerita tentang belalang dan darah tersebut juga terdapat di dalam Perjanjian Lama, salah satu dari Al-Kitab. Seperti disebutkan di dalam Kitab Keluaran 10:12 – 15:

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas tanah Mesir mendatangkan belalang dan belalang akan datang meliputi tanah Mesir dan memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah, semuanya yang ditinggalkan oleh hujan es itu.” Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir, dan TUHAN mendatangkan angin timur melintasi negeri itu, sehari-harian dan semalam-malaman, dan setelah hari pagi, angin timur membawa belalang. Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.(Keluaran 10:12-15)

Apakah ada kesamaan antara fenomena ulat bulu sekarang dan belalang pada zaman Nabi Musa? Wallahualam, tetapi secara logis serangan ulat bulu tersebut disebabkan oleh banyak faktor, utamanya karena perubahan cuaca ekstrim di Indonesia yang menyebabkan kelembaban udara tinggi sehingga meningkatkan reproduksi hama meningkat. Selain itu faktor musuh alami ulat juga berkurang seperti berkurangnya burung-burung dan semut rang-rang sebagai predator ulat.

Mengaitkan serangan ulat bulu dengan dosa-dosa bangsa Indonesia rasanya tidak tepat. Bangsa ini memang sudah banyak berbuat dosa, terutama yang dilakukan oleh pejabat dan tokoh publik. Korupsi, perzinahan, pornografi, dan berbagi bentuk kejahatan lainnya sudah menjadi berita sehari-hari. Tetapi mengaitkan dosa-dosa itu dengan hukuman berupa serangan ulat bulu, sepertinya terlalu berlebihan. Kalau mau, Tuhan bisa mendatangkan hukuman yang lebih berat dari ulat bulu.

Saya lebih percaya serangan ulat bulu itu semacam peringatan Tuhan kepada manusia agar memperbaiki diri. Manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam sehingga situasinya menjadi begini: perubahan iklim sebagai efek pemansan global akibat ulah manusia, matinya predator ulat karena ketamakan manusia menangkap burung dan semut rang-rang untuk pakan hewan peliharaan, dan sebagainya.

Namun yang jelas, saya kapok terkena ulat bulu lagi!

Tulisan ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ulat Bulu dan Zaman Nabi Musa

  1. Agung berkata:

    Yang dibali ternyata kepompong dari sejenis ulat sutra emas yang masih liar jenis Cricula sp, yang nantinya akan menghasilkan kupu-kupu yang di Bali disebut kupu-kupu barong berwarna indah.

    Soal Ulat Telanjur Disemprot, Warga Menyesal

  2. reza berkata:

    blog anda bagus>>>

    saya ajungi jempol!!!!
    dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!

    jika bernit liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s