Meski dari Keluarga Petani Miskin, tetapi Mampu Meraih IP 3,98

Perjuangan mahasiswa dari desa yang menimba ilmu di universitas ternama selalu menimbulkan rasa haru bercampur kagum. Rasa haru timbul karena meskipun mereka berasal dari keluarga petani miskin, namun kemiskinan tersebut tidak membuat mereka patah semangat. Rasa kagum muncul karena dengan kondisi yang serba prihatin tersebut mereka ternyata mampu meraih prestasi tinggi.

Kisah mahasiswa bernama Abdul Muhammad Rosid yang kuliah di FMIPA UNY Yogyakarta ini seharusnya memberi banyak inspirasi kepada anak muda negeri ini, bahwa kemiskinan tidak boleh membuat orang harus putus sekolah. Bagaimananpun caranya, pendidikan harus diupayakan terus berlanjut, sebab hanya pendidikanlah yang dipercaya dapat memutus rantai kemiskinan.

Kisah Rosid ini saya kutip dari Harian Jogja. Anak-anak muda di negeri ini yang banyak dimanjakan oleh kemudahan berbagai fasilitas dan materi namun mempunyai prestasi sekolah jeblok seharusnya merasa malu kepada Abdul Rosid ini, pemuda miskin dari desa namun mempunyai IP yang sangat tinggi, nyaris 4,00.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Abdul Muhammad Rosid: Tanpa diktat, bisa raih IP 3,98
Jum’at, 01 April 2011 09:40:28

Tidak punya cukup uang untuk membeli buku diktat kuliah, Abdul Muhammad Rosid, 23, harus rajin meminjam buku temannya atau ke perpustakaan. Jangankan membeli buku, agar bisa kuliah saja, ia harus disumbang guru di sekolahnya.

Uang sumbangan para guru itu kemudian dibayarkan sebagai uang pangkal masuk Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY). Sumbangan guru yang dikumpulkan pada 2007 itu pulalah yang selalu mendorongnya giat belajar.

Rosid bercerita, ia sempat mengalami dilema, melanjutkan pendidikan atau menetap di desanya dan membantu orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, selepas lulus SMA Negeri 1 Ngluwar. Terlebih penghasilan orang tuanya saat itu tidak lebih dari Rp400.000 sebulan, jumlah yang jauh dari cukup untuk membuat seorang anak menempuh pendidikan.

Namun, salah satu guru di sekolahnya ’eman’ bila anak didiknya tidak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Alasannya, Rosid terbilang berotak encer dengan prestasi juara I di sekolah dan memperoleh nilai 10 dalam Ujian Akhir Nasional untuk mata pelajaran matematika.

“Sangat jarang orang di desa saya yang meneruskan pendidikan SMA terlebih kuliah karena memang sebagian besar mengalami kesulitan ekonomi,” ujar Rosid, sapaan akrabnya kepada Harian Jogja, Kamis (31/3).

Ia menceritakan kisah empat tahun lalu, pengalamannya cukup berliku untuk menyandang status mahasiswa. Bahkan, tidak pernah terbersit dalam benaknya sewaktu di bangku SMA untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
Guru Bimbingan Konselinglah yang mendorong Rosid mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan mendapatkan beasiswa masuk universitas. Kendala lain muncul setelah diterima, sebab beasiswa tidak sepenuhnya dapat menutupi uang masuk kuliah.

Guru-guru sekolahnya pun mengumpulkan uang dari kocek masing-masing guna melihat anak didiknya dapat meraih masa depan cemerlang. Terkumpulnya sumbangan dari para guru, membuatnya bernapas lega. Sebelumnya Rosid juga terpaksa meminjam uang dari temannya untuk menutupi uang pangkal masuk kuliah.

“Saya meminta keringanan biaya mengingat uang yang saya miliki pas-pasan, namun pihak universitas tidak mengabulkannya. Sebagai gantinya, universitas memberikan saya kesempatan untuk mengangsur biaya pendidikan,” urainya.

Jadilah laki-laki yang ibunya bekerja sebagai pembuat gula kelapa ini tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2007. Jurusan pendidikan matematika, ungkapnya, dipilih karena ia merasa akrab dengan istilah matematika daripada nama jurusan lainnya.

“Maklum saja, saya hidup di desa yang kurang informasi pendidikan,” ucap laki-laki pemalu ini.

Jarak Muntilan-Jogja yang tidak mungkin ditempuh setiap hari membuat Rosid memutuskan menerima ajakan seorang temannya untuk tinggal di masjid sejak perkuliahan dimulai.

Menjadikan masjid sebagai tempat tinggal, bukanlah hal yang mudah bagi laki-laki kelahiran Magelang 23 tahun yang lalu ini. Sebabnya sederhana, dia merasa tidak seperti teman-temannya yang lain, tidak pintar ilmu agama karena bukan jebolan pondok pesantren.

Namun, selama setahun dia terus bertahan dan belajar banyak, mulai dari mengumandangkan adzan, iqomah, dan terkadang menjadi imam shalat. Bukan tanpa alasan dirinya menumpang hidup di sana.

Di antara aktivitas menjaga masjid dan kepadatan kuliah, ia mampu meraih IP semester awal 3,98. Buku menjadi sesuatu yang mewah baginya, sehingga ia lebih kerap meminjam buku pelajaran dari perpustakaan dan teman-temannya.
“Karena buku pinjaman, maka saya tidak bisa berlama-lama membaca. Sekali membaca saya harus dapat memahami agar buku tersebut cepat dikembalikan,” kenangnya.

Prestasinya tidak berhenti pada perolehan IP tinggi, ia juga berhasil meloloskan karya ilmiah ke tingkat universitas berjudul Pelepah Pisang sebagai Media Pembelajaran Matematika. Pelepah pisang menurutnya bisa digunakan mengajar geometri.

Saat ini, laki-laki yang berulang tahun 26 Februari ini sedang menyelesaikan tugas akhirnya dan ia selalu mengingatkan tanpa terkesan menggurui, memanfaatkan waktu dan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadi penyesalan di masa yang akan datang.

Salah satu teman sekelasnya di awal kuliah, Ervinta Sri Ning Dewi, menuturkan, Rosid seorang yang aktif di kelas. Dia memiliki catatan perkuliahan yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. “Jika mahasiswa lain mencatat sama persis dengan dosen, maka Rosid mencatat apa yang dimaksud dosen,” terangnya.

Menurutnya, Rosid adalah sosok yang low profile dan tidak ngoyo, dia jarang menunjukkan kepintarannya di depan teman-temannya karena dia tidak mau dianggap keminther. Laki-laki itu selalu berusaha terlihat sama dengan teman-teman yang lain dan sangat tidak suka dikasihani.(Wartawan Harian Jogja/Switzy Sabandar)

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Romantika kehidupan. Tandai permalink.

29 Balasan ke Meski dari Keluarga Petani Miskin, tetapi Mampu Meraih IP 3,98

  1. Wah, saya salut banget. Nggak kyk saya yang sekolah cuma sampai SMK.

  2. Captain kurO berkata:

    sangat inspiratif pak

  3. dhana berkata:

    Subhanallah…sangat menginspirasi pak…

  4. rosa berkata:

    Seandainya ada 1000.000 saja mahasiswa-mahasiswa seperti ini di Indonesia setiap tahunnya maka Indonesia akan cepat maju.

  5. dudin berkata:

    wah si rosid ini bikin malu saja, bikin malu mahasiswa yang lain maksudnya🙂

  6. ny v h berkata:

    Bravo man, begitulah seharusnya laki2 selalu menapaki setiap tahap perkembangan dgn optimal [ untuk menjadi lebih baik tentunya]

  7. jetzer berkata:

    Begitulah dari orang miskin Pak. Mereka mempunyai daya juang yang lebih tinggi dari orang kota.

  8. afika a.r. berkata:

    semoga semangat dan inspirasinya menular…

    izin share ya, Pak…

  9. Dian budiman berkata:

    Ayo Rosyid..capai cita2 dan peluang yang ada. Saya telah membuktikannya, meski prestasiku tak sebaik dirimu. In tanshurulloh..yan shurkum..wa yu tsabbit aqdamakum..

  10. rian gian berkata:

    subahanalloh………..saudaraku teruslah berjuang jangan sampai menyerah, taklukkan semua batukarang yang menghadang mu, saya juga pernah mengalaminya, hanya saja saya masih duduk dibangku smk pada saat itu,dan sekarang saya ingin berusaha membuktikannya kembali di bangku kulliah amin…………….!!!

  11. masrosid berkata:

    @all
    terimakasih buat semua doa dan semangatnya…
    saya justru malu pada diri saya sendiri, selalu menjadi beban ortu.

    btw, yg punya blog ini siapa ya?

  12. Ping balik: ade1dotcom

  13. Azieb berkata:

    A plus bwt Lo Sob, gak smua org bs mencapai prestasi sebaik lo 1 hal yg hrs lo igt jgn merasa puas dgn prestasi yg lo dah dpt di dunia akademik krn dunia krj sgt berbeda dgn dunia akademik, lo hrs igt itu, krn klo tdk lo bkalan nyesel n lo bkal mrasa klo perjuangan lo itu sia2 org pintar tp blm tentu bakal sukses, dimasa depan, gw harap lo paham mksd dr koment gw ini

  14. jerietea berkata:

    semoga Rosid-Rosid lainnya..mampu meniru..segala kelebihan yg ALLOH Anugrahkan padanya..(Termasuk saya),, Amien..🙂

  15. ungu berkata:

    Kisah Mas Rosid jadi motivasi bagi saya untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah setelah hampir dua tahun saya mengabaikan kuliah saya. Semoga setelah membaca kisah perjuangan Mas Rosid, saya bersemangat dan bisa menyelesaikan kuliah saya.

  16. Gapri berkata:

    kisah yang Bisa menjadi contoh saudara-saudara kita
    seakan diriku teringat pepatah :
    “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk”
    visit ://http:galihstarblog.blogspot.com

  17. Hifzi Muhammad berkata:

    kisah yang membuat saya termotivasi.

  18. Mandoe Doank berkata:

    buat agan yg posting thread ini mohon jika punya info orang tersebut beritahu saya (teman sekelas waktu smp)
    soalnya sudah lama dia tidak memberi kabar kepada keluarganya
    itu yg dituturkan kakanya kepada saya gan
    jika ada info mohon hubungi kakaknya di nomor ini 085743912907 (mamad)
    ini bukan mengada2 gan
    thx sebelumnya

  19. Saya merasakan hal yang sama. Biarpun tak sama persis. Hhhhe semangat!

  20. ande berkata:

    Itu pun krn ada kesemptn yg bguss bagi dia. Gak da yang dia pikirkn kecuAli kuliahnya. Coba ada Adik2ny yg menghrpkn bantuanny. Pasti gk terkendalA

  21. Hardi Gunarso berkata:

    Sangat menginspirasi bagi saya pribadi maupun pembaca. Semoga berkat izin Allah saya menjadi pribadi yang lebih giat belajar, berusaha, dan berdoa… Amin..

  22. hamzah berkata:

    Subhanallah patut di contoh

  23. Piyu berkata:

    Coba dapet IPK 3,98 dari ITB baru luar biasa.

    • Ahmad berkata:

      @ Piyu… Jika IPK anda sendiri pun nilainya 4 di Universitas terbaik manapun yg anda pilih.. Saya akan tetap malu liat anak bangsa seperti anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s