Nonton Pagelaran Kesenian Minang dari UKM-ITB di Sabuga

Jumat malam yang lalu saya menghadiri acara pagelaran seni budaya minang yang diselenggarakan Unit Kesenian Minang (UKM) ITB. Ini untuk kesekian kalinya saya hadir. Sejak dulu sejak masih mahasiswa hingga menjadi bapak-bapak seperti sekarang ini saya tidak pernah melewatkan pertunjukan dari UKM. Menyaksikan pertunjukan seni budaya sudah menjadi hobi saya sejak dulu, tidak melulu seni budaya minang saja. Kebetulan di ITB terdapat banyak unit kesenian yang berbasis kedaerahan, mulai dari Aceh hingga Papua. Mungkin yang belum ada di ITB adalah unit kesenian dari Maluku, NTT, NTB, Sulawesi Utara/Tengah/Tenggara/Barat, Kalimantan (semua provinsi), dan Bengkulu. Penyebabnya karena mahasiswa dari daerah tersebut sangat minim jumlahnya di ITB atau bahkan tidak ada. ITB belum bisa disebut “kampus nusantara” karena belum semua daerah punya mahasiswa di sini. Barangkali hanya IPB Bogor dan STPDN yang bisa disebut kampus nusantara.

FYI, minggu lalu ada tiga unit kesenian yang menyelenggarakan pagelaran seni budaya di dalam kampus, yaitu Unit Kesenian Melayu Riau (UKMR), Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (Jawa) PSTK, dan Unit Kesenian Minang (UKM). Saya yang sangat berkeinginan melihat pagelaran seni melayu dari UKMR patut merasa kecewa karena tidak bisa datang disebabkan badan sedang kurang sehat. Semoga tahun depan saya bisa menonton pertunjukan seni melayu, karena saya penggemar lagu-lagu melayu, terutama bila mendengar ritmik musik melayu dari akordion.

Kembali ke acara pegelaran budaya minang dari UKM ITB ini. Kita langsung ke TKP saja, di Gedung Sabuga ITB yang besar dan megah itu. Olala, hujan deras yang mengguyur kota Bandung sejak sore membuat acara terpaksa ngaret. Acara yang seharusnya dimulai pukul 19.00 terpaksa diundur pukul 19.30 karena menunggu tamu penting (mungkin saya salah satunya, ha..ha). Meskipun hujan deras, tetapi kondisi ini tidak menyurutkan penonton untuk datang memenuhi gedung Sabuga. Ruang pertunjukan yang hanya seperenam lingkaran itu penuh sesak dengan penonton yang rata-rata mahasiswa minang di Bandung, alumni, dan dan perantau. Percaya apa tidak, meskipun beberapa kampus PTN/PTS di Bandung sudah mempunyai unit budaya minang seperti yang ada di Unpad, ITTelkom, Itenas, UPI, dan lain-lain, namun pertunjukan dari UKM ITB tetap dinanti-nanti. Mungkin karena UKM ITB ini adalah perintis unit kesenian minang di kampus, usianya sudah tua sebab ia berdiri sejak tahun 1976.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kali ini tipikal dan tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Ada cerita yang diselingi tari, randai, dan musik talempong, saluang, dan bansi. Sepertinya pakem bahwa selalu ada cerita/drama tidak bisa dihilangkan. Oh ya cerita kali ini tentang mesin waktu yang melontarkan mahasiswa ITB ke ranah Minang pada tahun 1930-an. Dari kacamata penonton, menurut saya cerita sebenarnya tidak penting benar, yang penting adalah inti kesenian minang itu sendiri, yaitu musik tradisionil, tarian, randai, dan lagu-lagu. Yang tetap sama dengan pertunjukan tahun-tahun sebelumnya adalah tarian yang — menurut saya — selalu itu-itu saja.

Tahun ini UKM ITB agak “pelit” mengeluarkan tarian, hanya ada 5 tarian yaitu tari galombang, tari saputangan, tari (lupa lagi namanya), dan tari piring (CMIIW). Mungkin yang “agak menolong” adalah tari piring yang memang sudah jadi menu wajib pada setiap pagelaran UKM, namanya tari “piring manggaro”. Pada jenis tari piring ini, tidak ada adegan menginjak-injak beling seperti pada tari piring klasik.

Karena selalu menonton pagelaran ini dari tahun ke tahun, tentu saya dapat menilai apakah pertunjukannya luar biasa, bagus, biasa-biasa saja, atau kurang bagus. Secara umum pertunjukan tahun ini saya nilai biasa-biasa saja. Alur cerita yang ditampilkan terkesan datar dan nyaris serius. Penonton tampak bosan disuguhi cerita yang monoton. Pada akhir cerita Pak Datuk terkesan menceramahi/menggurui. Ending ceritanya kurang bagus, agak tanggung gitu. Koloborasi dengan unit-unit kesenan lain (UKMR, LSS, MGG, UKSU) ternyata hanya pada musik penutup saja. Saya kira unit-unit ini tampil di tengah acara dengan paduan musik talempong, misalnya rampak gendang diiringi talempong, atau tari Bali dengan paduan gamelan dan bansi, dan sebagainya. Ternyata bukan (agak kecewa sih).

Yang membuat saya salut pada pagelaran kali ini adalah digunakannya internet untuk live streaming. Jadi, bagi orang yang tidak sempat datang atau berada di negeri jauh seberang, mereka tetap bisa menyaksikan acara ini melalui video streaming pada URL: http://ukm.itb.ac.id/livepagelaran/. Live streaming ini adalah hasil kerjasama dengan USDI (Unit Sumber Daya Informasi) ITB. Sebagai sebuah kampus teknologi memang sudah sepantasnya mahasiswa ITB memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan acara pertunjukan.

Dengan menyediakan live streaming tentu cakupan penonton lebih luas lagi. Cuma ada kelemahannya, yaitu interpretasi dari penonton yang bukan dari ITB bisa bermacam-macam. Para perantau yang rindu dengan kampung halaman tentu berharap sebuah pegelaran seni budaya yang mereka harapkan dapat mengobati lapeh taragak, namun kenyataanya tidak demikian. Ini tampak dari komentar-komentar di milis RantauNet yang saya baca sebagai berikut:

“Cuima sayangnyo … MC nyo kebanyakan omong … jadi ndak jaleh pulo, apakah “kesenian” = ngomong melulu?
he he, Jadi latiah awak manonton. Jadi batutuik sajo baliak web tu …”

“Hehe, mungkin ekspektasi ambo nan salah. Mambaco subject “…Pagelaran Kesenian Minangkabau” nan tabayang dek ambo tadi malam tu ka manonton urang banyanyi, manari, saluang, randai”

“Anggap se anak kamanakan awak nan jadi MC tu sadang latihan utk jadi MC maso depan. Kalau anak sikola kan wajar kalau alun profesional.”

Mungkin untuk tahun-tahun yang akan datang perlu dipikirkan kembali pagelaran kesenian minang yang benar-benar menampilkan kesenian minang yang diharapkan banyak orang. Kreativitas mahasiswa perlu digali lagi. Tetap semangat ya, semoga sukses untuk tahun depan.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

11 Balasan ke Nonton Pagelaran Kesenian Minang dari UKM-ITB di Sabuga

  1. reiSHA berkata:

    Kalau ga salah tarinya ada 6 Pak: Tari Galombang Pasambahan, Tari Urak Langkah, Tari Saputangan, Tari Piriang Manggaro, Tari Panen+Tari Gandang yang dijadikan satu, dan Tari Ulu Ambek Manyibak Galanggang.

  2. otidh berkata:

    Sebenarnya dari dulu saya ingin menonton pertunjukan UKM ini. Sayangnya, selalu kehabisan tiket. Mungkin karena antusiasme orang-orang Minang yang berada di perantauan ini (tidak cuma mahasiswa) yang membuat tiketnya sangat diburu. Sepanjang kuliah di ITB ini, hanya pertunjukan Loedroek ITB saja unit kesenian/budaya yang pernah saya saksikan dan hampir tidak pernah absen.

    Unit-unit seni/budaya yang lain paling-paling saya saksikan cuma di event seperti OHU atau sekedar sebagai pengisi acara tertentu saja, bukan di acara mereka sendiri.😦

  3. Ramad berkata:

    Dua orang mahasiswa dikirim ke tahun 1936(mungkin ’36’ itu karena sedang dies ke 36 tahun). Tapi sepertinya pemilihan tahun 1936 ini agaknya dipaksakan karena saat itu Indonesia masih dijajah Belanda, tetapi di cerita drama seperti Indonesia telah merdeka sebelumnya.

  4. haris berkata:

    CUMA PENDAPAT🙂

    Kalo saya justru berbeda, menurut saya pagelaran UKM-ITB kali ini punya konsep yang bagus banget. Pagelarannya melewati batas sebuah kesenian (kesenian dalam arti sempit). Pagelarannya lebih menitikberatkan pada isu sosial yang bikin pagelarannya jadi universal, ngga cuma buat alumni UKM, orang minang atau pemerhati seni.

    Oya, perlu saya kasih bocoran seddikit mengenai latar belakang saya. Saya bukanlah orang minang (apalagi bisa berbahasa minang), bukan alumni UKM-ITB dan bukan pemerhati seni daerah (nonton pagelaran UKM-ITB juga baru 2 kali). Saya cuma orang yang agak ngerti soal musik (rock-based, progressive rock/metal to be exact) dan yang terkagum-kagum sama semangat seluruh personil pagelaran UKM-ITB yang bisa, menurut saya, bikin acara yang masif, keren dan kok bisa ya ngga lupa sequence gerakan tari dan dramanya. Karenanya, saya suka (bukan sering) nonton pagelaran ini, walaupun saya sering gangguin istri dengan tanya sini-tanya sana (karena ngga ngerti bahasa dan kesenian minang)–oya istri saya orang minang dan alumni UKM-ITB (sensitivitas bermusiknya juga lebih daripada saya).

    Dengan konsep yang (mungkin) mengada-ada, tapi bisa terjadi, pagelaran kali ini lebih bersemangat dan lebih lucu (dibuktikan dengan riuh tepuk tangan penonton) dan lebih luhur. Kenapa luhur? Karena konsepnya… pelestarian kesenian dengan menyentuh esensinya, yaitu menjaga dengan mempelajari (dan memahami), bukan cuma memiliki aja (yang kalo diambil orang lain jadi cuma bisa marah doank). Kesenian di sini juga ngga cuma kesenian minang aja, tapi juga beberapa kesenian yang diperkenalkan di akhir pagelaran (pake kolaborasi lagi).

    So, sebenarnya ini cuma masalah selera dan latar belakang yang nonton:
    – Buat yang orang minang, bisa bahasa minang dan tahu kesenian minang, kemungkinan besar pagelaran kemarin kurang greget.
    – Buat yang bukan orang minang, tapi punya apresiasi seni yang lebih (asumsi saya, semua orang pasti bisa mengapresiasi seni) dan seni di sini adalah seni dalam arti luas, kemungkinan besar bakal bilang pagelaran kemarin sukses, konsep oke banget, kolaborasi (yang memang kurang banyak–tapi kalo banyak jadinya ngga ngedukung konsep tadi) juga oke, semangat jempolan dan terutama bikin motivasi buat siapa aja yang nonton.

    Tapi sekali lagi, CUMA PENDAPAT ya🙂

    ps: ide live streamingnya juga oke banget. Btw bisakah kami punya satu copy videonya?🙂

  5. edo berkata:

    iya pak..saya pun merasakan tentang MC dan cerita yang datar..yang saya salut disini adalah randai yang ga kaku seperti yang dilakukan oleh perandai dimasa DIES ke 28-30 an(ya sekitar itu..)..tapi pagelaran dies tahun ini lebih menitik beratkan kepada pengenalan daerah atau lebih tepatnya mengingat kampung yang kental dari berbagai daerah…(padahal waktu saya liat latihannya dan di beritahukan tentang konsep ini..saya udah mengira itu akan sangat membosankan..ternyata tidak).untuk musik pun saya sangat menyayangkan…apabila saya masih berada di antara pemusik itu saya akan memeprjuangkan untuk menampilkannya di panggung utama dirangkaian utama pagelaran dan akan di istimewakan…segitu aja pak…maaf apabila ada kesalahan🙂

    edo (ukm’03)

  6. Saya menunggu jadwal….mau menonton….eh ternyata sudah berlangsung…..kesenian minang penuh dengan pesan pendidikan dengan muatan filsafat yang dapat berlaku global.

  7. vega test sofia berkata:

    My programmer is trying to persuade me to move to .
    net from PHP. I have always disliked the idea because of
    the expenses. But he’s tryiong none the less. I’ve been using Movable-type on several websites for about a year and am worried about switching to
    another platform. I have heard fantastic things about blogengine.
    net. Is there a way I can transfer all my wordpress posts into it?
    Any kind of help would be really appreciated!

  8. Minangkabau berkata:

    good posting…
    infonya sangat berguna😀
    mau tau lebih jauh tentang Kesenian, kerajinan hingga kuliner Minangkabau, silahkan klik di sini
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s