Mahasiswa ITB Korban NII

Sekarang lagi heboh berita soal NII (Negara Islam Indonesia). Sebenarnya isu NII sudah lama, sudah ada sejak akhir tahun 80-an, namun sekarang merebak kembali karena banya terjadi kasus “hilangnya” sejumlah mahasiswa. Ketika mahasiswa tersebut ditemukan, kondisinya sudah linglung seperti orang yang habis “dicuci otak”.

FYI, NII itu adalah gerakan bawah tanah yang mengandung unsur penipuan dengan membajak nama agama (Islam). Mereka merekrut anggota secara sembunyi-sembunyi. Sasaran utamanya adalah pelajar dan mahasiswa, karena mereka dianggap masih rawan dalam pencarian identitas. Istilahnya kalau sudah masuk NII maka anggotanya dikatakan sudah “hijrah”. Hijrah itu ditandai dengan acara bai’at atau mengambil sumpah. Kalau sudah “hijrah” masuk NII, maka mereka mengkafirkan orang yang berada di luar kelompok mereka. Bahkan, terhadap orangtua sendiri mereka berani melawan karena mereka menganggap orangtua mereka itu juga kafir.

Kalau sudah masuk NII, anggotanya susah keluar dari sana. Indoktrinasi kepada kader NII tersebut sudah sedemikian kuat sehingga secara mental kejiwaan mereka sulit lepas. Jika secara fisik mereka ada, namun secara psikolgis kejiwaan mereka sudah “hilang” dan sangat berbeda dari sebelumnya. Itulah sebabnya kader NII tersebut sering disebut telah mengalami “brain washing” atau cuci otak.

Karena NII itu “negara di dalam negara”, maka di dalam NII itu ada struktur mulai dari presiden, gubernur, bupati, camat, lurah, RT, RW, dan sebagainya. Nah, untuk mewujudkan impian membentuk NII, para anggotanya diwajibkan mengumpulkan dana sesuai target, entah bagaimana caranya, misalnya menjual harta benda, berutang, meminta sumbangan, bahkan mencuri atau berzina untuk mendapatkan uang. Selain itu, para anggotanya juga mempunyai kewajiban merekrut anggota baru. Karena mengejar target setoran dana dan kader baru itulah maka para anggotanya habis-habisan mengisi waktunya untuk mencapai setoran.

Kemana setoran dana itu berujung? Menurut para anggota NII yang sudah keluar dari cengkeraman, dana itu mengalir ke Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu. Ini pondok pesantren yang super megah, berada di Kabupaten Indramayu di pesisir utara Jawa Barat. Bagaimana mungkin bisa membangun pesantren yang megah ini dalam waktu singkat kalau bukan dari dana yang dikumpulkan oleh anggota NII.

Berbagai bukti dan temuan dari MUI dan FUUI (Forum Ummat Islam Indonesia) yang dipimpin oleh K.H Athian Ali menunjukkan bahwa sudah terang benderang kalau pondok pesantren ini merupakan markas utama dari NII, namun keberadaannya seakan tidak pernah bisa disentuh, pemimpinnya juga tidak bisa ditangkap. Ada kemungkinan pesantren ini dilindungi oleh orang kuat negeri ini, tapi sangat sulit mengungkapkan siapa pihak di balik pesantren itu.

NII yang sekarang adalah NII gadungan. NII yang asli adalah NII yang dulu didirikan oleh Kartosuwiryo. Tujuannya adalah untuk mendirikan negara berdasarkan syariat Islam. Sejarah menyebutkan bahwa pemberontakan NII (dikenal dengan nama pemberontakan DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo berhasil ditumpas TNI kala itu. Sebenarnya umat Islam Indonesia sudah final menegaskan bentuk dasar negara NKRI, bahwa Indonesia bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler (abu-abu kali ya…). Ormas Islam seperti MUI, NU, Muhammadiyah, dll sudah tegas menyatakan bahwa bentuk negara Indonesia ini sudah final, tidak ada keinginan untuk mengubah dasar negara. Bahkan, parpol Islam yang selalu dicurigai mempunyai agenda terselubung mendirikan negara Islam juga sudah dengan tegas mengatakan bahwa NKRI sudah final.

Memang ada segelintir pihak yang tetap punya cita-cita untuk mendirikan negara Islam di Indonesia, tetapi selama aspirasi tersebut dilakukan secara konstitusional tentu tidak masalah, karena itu adalah hak warganegara untuk menyatakan pendapat. Nah, Pemerintah Orde Baru saat itu memahami aspirasi tersebut. Pihak intelijen yang dipimpin oleh Ali Murtopo membentuk gerakan NII palsu. Tujuannya jelas, yaitu untuk memojokkan Islam, mendiskreditkan Islam, dan membangun citra buruk di masyarakat tentang politisasi gerakan Islam. Melalui berbagai isu dan penumpasan gerakan Islam yang muncul kala itu (seperti Komando Jihad), maka stigmanisasi tentang politisasi Islam adalah gerakan adalah makar tampaknya berhasil. Masyarakat memiliki rasa antipati terhadap parpol Islam (PPP) dan gerakan-gerakan Islam saat itu.

Nah, NII yang masih hidup sekarang (yang diberi nama NII KW IX dan dipimpin oleh Panj Gumilang, pendiri Ponpes Al-Zaytun), mungkin adalah metamorfosis dari NII palsu yang dibentuk oleh Ali Murtopo cs. Metamorfosis tersebut sudah sedemikian liar sehingga NII yang ada saat ini sudah tidak terkendali lagi. Keberadaannya sudah meresahkan masyarakat karena kasus penculikan, cuci otak, setoran uang, dan penyimpangan ajaran agama Islam mainstream seperti tidak perlu shalat, puasa, dan sebagainya. Namun anehnya, Pemerintah sepertinya tampak enggan menuntaskan kasus NII ini. Ada kecurigaan isu NII sepertinya terus dipelihara. Seperti dikutip dari Din Syamsudin, negara menggunakan isu NII untuk mencegah pergerakan politisi Islam di dunia politik. Padahal mayoritas tokoh Islam sudah jelas sikapnya dalam mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ada sikap yang mendua, dalam arti hal ini dianggap ancaman, tapi negara juga menggunakan isu ini sebagai isu politik untuk mendiskreditkan umat Islam. Kami dari ormas Islam menjadi merasa tersinggung dan sakit hati,” kata Din Syamsudin di sela-sela acara Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Jl Menteng Raya, Jakarta, Kamis (28/4/2011).

Kembali ke topik mahasiswa yang terjerat NII. Diantara banyak mahasiswa yang menjadi korban NII, mahasiswa ITB adalah yang paling banyak. “Dari empat kampus ITB, Unpad, Polban dan UPI. ITB sudah sejak dulu digoyang NII. Mahasiswa ITB menjadi yang terbanyak direkrut sebagai anggota NII oleh aktivitis NII gadungan,” kata Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M Da`i dalam jumpa pers di Masjid Al Fajr Jalan Situsari VI Cijagra, Bandung, Selasa. Ada 200-an mahasiswa ITB yang pernah direkrut menjadi anggota NII.

Mahasiswa ITB yang menjadi korban NII umumnya dulu adalah mahasiswa berprestasi akademik baik. Namun karena terbujuk rayu aktifvis NII, mereka terperosok ke dalam aliran yang menghancurkan masa depan mereka. Sejak masuk NII, mahasiswa tersebut sering bolos kuliah, tidak ikut ujian, jarang membuat tugas, lebih tertutup (yang sebelumnya ceria), dan sebagainya. Aktivitas mereka disibukkan merekrut kader dan mencari dana sehingga mereka sering dikatakan “hilang”. Maka, mudah ditebak prestasi akademik mereka hancur berantakan. Orangtua mahasiswa ini sudah beberapa kali dipanggil ke kampus karena anaknya terancam batas waktu studi. Pada kebanyakan kasus, mahasiswa yang ikut NII ini terpaksa D.O karena batas waktu studi mereka melebihi.

Kebanyakan mahasiswa ITB yang terpengaruh NII itu bukanlah mahasiswa yang secara teologis memilki pemahaman Islam yang kuat. Justru kebanyakan korban adalah yang memiliki pengetahuan agama yang rendah. Mereka ini adalah sasaran empuk dijadikan kader NII sebab mereka merasa dirinya sangat kurang dalam agama, banyak berdosa, dsb, sehingga ajaran NII itu sesuai dengan profile mereka. Setelah merasa cocok, mereka akhirnya “hijrah” ke dalam NII sebagai solusi untuk melepaskan diri dari rasa kurang dan berdosa itu.

Di Informatika ITB tempat saya mengajar, terdapat beberapa kasus mahasiswa kami yang menjadi korban NII ini. Yang saya ingat adalah dari Angkatan 1991, 1995, 1996, 2003, dan mungkin juga ada yang luput dari pengamatan saya. Sebagian korban ini ada yang terpaksa D.O dari kampus karena prestasi akademiknya anjlok. Cukup kerepotan juga Dosen Wali menangani mahasiswa yang terkena kasus NII. Melalui konseling dan pendekatan persuasif mahasiswa tersebut memang bisa disadarkan kembali, tetapi karena beberapa semester tidak kuliah, maka status mahasiswanya tidak bisa diselamatkan lagi.

Menurut seorang rekan di milis, sebetulnya dengan logika beragama yg sederhana saja seharusnya mahasiswa tadi tidak perlu terpengaruh NII. Sebabnya, ajaran agama di dalam NII itu sangat menyimpang dari Islam “mainstream, misalnya tidak wajib shalat lima waktu karena masih periode Mekkah, mengkafirkan orang lain yg belum masuk NII, adanya target penyetoran uang dalam jumlah tertentu, penghalalan mengambil harta orang lain dengan cara apa saja untuk memenuhi target setoran tersebut, dan lain-lain.

Mahasiswa ITB dan mahasiswa PT lain umumnya perlu waspada apabila didekati orang atau kelompok orang yang berdakwah secara sembunyi-sembunyi, mengatakan diri kita banyak dosa sehingga harus “hijrah”. Dakwah yang benar tidak ada rahasia-rahasiaan, semuanya terbuka dan dilakukan tanpa rasa takut ketahuan. Sekali masuk jerat NII susah untuk lepas. Akibatnya sangat mahal: masa depan hancur berantakan.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku, Seputar ITB. Tandai permalink.

14 Balasan ke Mahasiswa ITB Korban NII

  1. wizard berkata:

    yang saya pahami itu negara kita adalah negara beragama pak, bukan sekuler atau agama, buktinya negara masih memiliki badan khusus menangani masalah agama. yang masih membuat penasaran/bingung adalah sebenarnya cuci otak itu seperti apa? hipnotis kah?

  2. Silvi Anggraini berkata:

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

  3. langitlembayung berkata:

    Haha… saya dari Indramayu, Pak….
    Al zaytun letaknya di kecamatan tetangga saya….
    hahaha….

    • rinaldimunir berkata:

      Deketan dong, Maul. Para karyawan dan guru/dosen di Pesantren itu tinggal di mana? Di dalam kompleks juga?

      • langitlembayung berkata:

        Di dalamnya canggih banget Pak…
        Udah kayak kota modern…
        Rumah sakit, sarana olah-raga, taman, perkebunan, jalan, asrama, kantin, tempat beli barang-barang yang lain juga ada.
        Berasrama di situ kayaknya fasilitasnya lengkap dan serba ada…

        Angkatan 2008 juga ada yang dari Al – Zaytun, Pak…
        Kayaknya kalo mau tahu di dalamnya seperti apa, lebih enak nanya langsung ke orangnya… hahaha…

        Siswanya ya tinggal di asrama sana Pak, kalo guru dan karyawan saya kurang tahu, tapi kompleksnya itu besar sekali… (ITB juga kalah luas Pak..)

  4. rinaldimunir berkata:

    Ouw, IF 2008 ada yang dari Al Zaytun? Tolong namanya, maul, lewat email saja.

  5. Etty berkata:

    Saya pernah ke sana. Hampir menyekolahkan anak saya. untung tidak jadi, karena saya cari literatur, dan.. sebelum daftar mendapatkan buku hasil penelitian tentang keluhan-keluhan korban al-zaytun… Semoga Panji Gumilang cepat diberikan sinar yang benar dariNYA, sehingga dia mendapat kebaikan, hidayah, bukan seperti sekarang, membuat sengsara buanyak orang. Tidak tega membaca/melihat korban2.. terus berjatuhan … Ya Allah…. berikan rahmatMU, petunjukMU.. untuknya… sehingga … Islam dan al-zaytun menjadi rahmatan lil-alamyn.. amyn… tdk spt skr ini…..

  6. kiki berkata:

    NII sudah parah menyebar di kalangan mahasiswa… kemaren beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar yang membahas tentang ajaran menyimpang dari NII. saya mengikuti dari awal sampai akhir.. yang saya herankan uang yang jadi sumbangan itu kan diserahkan ke panji gumilang.. nah itu untuk ap ia??? wao…..

  7. Hanif Nugraha berkata:

    tulisan bagus pak, kalau pemerintah tak bisa berbuat, biar rakyat saja yang bertindak, saya mantan calon nii jg, untungnya saya masih waras, jd aja ga jadi masuk organisasi laknat ini

  8. wulan berkata:

    Salam kenal, Pak. Saya Wulan, alumni ITB angkatan 2006 dari Indramayu. Nyuwun sewu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa pernyataan Bapak “…..berada di Kabupaten Indramayu yang daerahnya dikenal minus” menyakiti hati saya sebagai individu yang lahir dan besar di daerah tersebut. Mohon maaf sebelumnya, tetapi sekali lagi, pepatah ‘karna nila setitik, rusak susu sebelanga’ memang sangat tepat kita terapkan sebelum menghakimi seseorang, kelompok, negara, dsb. Saya yakin Bapak tidak bermaksud buruk dengan menyatakan kalimat tersebut, tetapi mohon lebih bijak dalam memilih kata-kata.
    Ketika saya sekolah, pemerintah kabupaten Indramayu sedang giat-giatnya menggalakkan program yang memungkinkan generasi mudanya untuk bersemangat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bukannya menjadi “minus” seperti yang Bapak nyatakan. Tahun 2004-2010, banyak (meskipun mungkin tidak sebanyak kota besar) lulusan SMA di Indramayu yang melanjutkan ke ITB (silakan Bapak cek).
    Sekali lagi mohon maaf apabila kata-kata saya kurang tepat. Terima kasih banyak, Pak.

    Salam Ganesha.
    Wulanita Kuswotanti (Biologi 2006)

    • rinaldimunir berkata:

      Baik Wulan, mohon maaf kalau membuatmu tersinggung, kata-kata “minus” tersebut sudah saya ganti supaya tidak mempunyai interpretasi yang negatif. Memang kalau orang menyebut “indramayu” maka sering diasosiasikan ke arah yang negatif. Semoga sekarang tidak lagi demikian.

  9. Andi berkata:

    Apapun pandangan anda (baik yang masih didalam, maupun yang hampir, dan berencana bergabung) gunakan otak anda yang menjadi karunia-Nya. Terusterang saat saya hampir masuk dan mengenal, otak saya masih bisa berfikir, “Islam nggak gitu deh, masa ninggalin ortu yang jelas-jelas mengenalkan kita ke dunia, guru agama yang mengajarkan Islam dengan begitu Indah”. Hanya untuk mengikuti “orang Islam” yang baru kita kenal untuk HIJRAH, terimakasih untuk Orangtua dan Guru-guru agama, guru ngaji yang membentengi dan berjalan di Jalan Allah yang sebenarnya.

  10. Ping balik: Anak-anak Muda, Korban Organisasi Menyimpang | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s