Libur Kejepit yang Tidak Efektif

Libur lagi, libur lagi. Seharusnya orang senang karena ada libur harpitnas (hari kejepit nasional), namun kalau saya perhatikan libur harpitnas (cuti bersama) 3 Juni kali ini tidak efektif. Anak-anak tetap saja masuk sekolah, jadi otomatis kita — orangtua — di rumah tidak bisa kemana-mana. Mau pergi jalan-jalan tapi anak-anak masih sekolah, apalagi minggu depan sudah mulai Ujian Akhir Semester (UAS) di sekolah-sekolah SD, SMP, dan SMA di Bandung. Kalau dipaksakan juga pergi jalan-jalan saya khawatir pulangnya anak-anak kecapean, lalu sakit, akhirnya gagal deh UAS. Rugi sendiri bagi anak.

Makanya libur harpitnas kali ini tidak terlalu disambut gembira banyak orang. Bagi kalangan pegawai golongan rendah, libur juga berarti mengeluarkan biaya tambahan. Mau piknik atau jalan-jalan bersama keluarga pasti perlu uang. Mau di rumah saja juga tidak berarti tidak keluar uang, sebab biasanya dapat uang makan di kantor sekarang harus keluar uang untuk makan siang. Bagi pengusaha yang mengerjakan banyak karyawan atau buruh, libur harpitnas berarti pengeluaran tambahn sebab mereka harus mengeluarkan uang lembur bagai karyawannya. Lho, kok? Begini penjelasannya. Karena kontinuitas produksi perusahaan harus terus berlangsung, maka pegawai atau buruh harus tetap masuk kerja. Karena hari ini libur maka kerja mereka dihitung sebagai lembur, yang berarti pengusaha harus menyediakan uang lembur bagi mereka.

Libur cuti bersama setiap ada tanggal “kejepit” sudah banyak dikritik orang karena tidak efektif. Pemerintah telah menetapkan tanggal-tanggal libur dan cuti bersama pada setiap awal tahun, sekarang Pemerintah juga yang melanggar dengan mengubahnya di “tengah jalan”. Ada kecurigaan bahwa libur cuti bersama dadakan dalam waktu 2 minggu ini terkesan dipaksakan untuk kepentingan politik. Karena akhir-akhir ini banyak sekali kasus melanda orang Pemerintahan — seperti kasus hukum, kasus korupsi, dll — maka untuk meredam isu atau mengalihkan isu supaya tidak semakin memanas, maka tiba-tiba diumumkan libur pada hari kejepit tersebut. Masyarakat disuruh piknik supaya kasus-kasus yang lagi “hot” tersebut terlupakan untuk sementara.

Namun sebenarnya ada yang lebih penting lagi daripada sekadar kecurigaan tersebut. Pengumuman libur cuti bersama semakin menguatkan kesan bangsa ini sebagai bangsa pemalas, maunya santai-santai saja, tidak perlu banyak bekerja. Etos kerja yang ingin ditumbuhkan sebagai bangsa yang suka kerja keras, rajin, dan menolak budaya santai menjadi luntur karena seringnya libur. Kapan bangsa kita ini menjadi maju?

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Libur Kejepit yang Tidak Efektif

  1. Ibu Sri berkata:

    Cuti bersama, pemborosan bbm, macet dimana-mana

  2. Ping balik: Libur Kejepit yang Tidak Efektif | My Blog

  3. fitri berkata:

    salam kenal pak.. saya penasaran dengan bapak, karena dosen dosen saya selalu menjadikan bapak sebagai role mode .. kebetulan saya berkuliah di jurusan informatika undip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s