Sekelumit Cerita Kehidupan di dalam Ikan Nila Bakar “Bang Themy “

Sekali seminggu dalam perjalanan pulang dari kantor, saya sering menyinggahi kedai ikan bakar Bang Themy untuk membeli ikan nila bakar sebagai lauk makan malam di rumah. Kedai ikan nila bakar Bang Themy terletak di Jalan Terusan Jakarta, Bandung, dekat perbatasan daerah Arcamanik (setelah terminal Antapani).

Rasa ikan bakar di kedai ini berbeda dengan ikan bakar yang lain, perbedaannya terletak pada bumbu yang digunakan. Ikan nila dibakar di kedai Bang Themy memakai bumbu khas Minang (orang sering menyebutnya sebagai bumbu Padang). Kalau saya amati, bumbunya adalah paduan santan kental dan aneka bumbu dapur seperti bawang, jahe, kunyit, laos, dan lain-lain. Bumbu-bumbu inilah membuat rasa ikan bakarnya enak dan gurih.

Untuk mendapatkan rasa ikan bakar yang mantap dan enak, maka ikan nila di kedai ini dibakar tiga kali. Pada pembakaran pertama, ikan nila yang sudah dibelah hanya diolesi (menggunakan kuas) dengan minyak goreng yang sudah diberi bumbu khusus, kemudian dibakar di atas bara api sampai dagingnya setengah matang dan air di dalam tubuh ikan menguap. Pada pembakaran kedua, ikan diolesi bumbu santan tadi tetapi agak tipis, lalu dibakar lagi sampai matang. Setelah pembakaran kedua, ikan-ikan tadi beserta alat pemanggangnya dipajang dengan cara menggantung seperti pada foto di atas sambil menununggu pembeli yang datang. Siapapun yang lewat di depan kedai dan melihat ikan bakar yang tergantung tadi pasti terbit air liurnya karena bentuk ikan bakar hasil pembakaran kedua ini sangat menggoda selera.

Pembeli memilih ikan nila bakar yang disukainya, selanjutnya ikan nila hasil pembakaran yang kedua tadi dibakar untuk ketiga kalinya. Sebelum dibakar, ikan dioles lagi dengan bumbu yang lebih tebal. Pembakaran yang ketiga bertujuan untuk menambah sensasi aroma bakar dan menciptakan rasa ikan bakar dengan bumbu gurih yang lezat.

Satu ekor ikan nila bakar harganya bervariasi dari Rp14.000 hingga Rp22.000, bergantung besar kecilnya ikan. Selain ikan nila di kedai itu juga ada ayam bakar dan ikan gurami bakar, tetapi yang khas ya ikan nila itu. Ikan nila bakar bisa dimakan di sana dengan nasi hangat atau dibawa pulang. Sebagai pelengkap makan, ikan dimakan dengan sambal cabe hijau dan lalap sayur waluh, kacang panjang, irisan tomat, dan ketimun. Yuk, kita makan ikan bakarnya.

Bang Themy, lelaki Minang pemilik kedai ikan bakar itu, beristrikan wanita asal Sumedang. Sehari-hari istrinya yang membantu di kedai. Kebetulan anak Bang Themy ini satu sekolah dengan anak saya di SD Muhamadiyah. Saya menilai Bang Themy sebagai seorang lelaki yang gigih. Dia mencari sendiri ikan nila itu ke sentra budidayanya di daerah Subang. Subang terletak di balik gunung Tangkubanperahu dan dikenal sebagai penghasil ikan nila terbaik di Jawa Barat. Setiap minggu dengan sepeda motornya Bang Themy pergi ke daerah Subang yang berjarak satu jam lebih perjalanan. Ikan-ikan nila yang ada di tambak dipilihnya sendiri dan ditangkap sendiri. Jadi, bukan petani tambak yang mengambilkan ikan, tetapi dia sendiri yang terjun ke dalam tambak untuk memilih ikan nila yang gemuk-gemuk, menangkapnya, lalu membayar ke pemilik tambak seharga ikan nila yang dia ambil.

Ketika saya tanya, kenapa tidak menunggu ikan nila diantarkan saja ke Bandung oleh pemasok, daripada capek datang jauh-jauh ke Subang? Bang Themy tidak mau, sebab belum tentu ikan nila yang diantarkan itu berkualitas bagus atau kecil-kecil, harus dia sendiri yang memilihnya. Saya pikir itu prinsip pemasaran yang bagus, kalau ingin pelanggan puas ya harus memberikan produk terbaik, bukan ecek-ecek atau asal-asalan. Kan banyak orang yang berdagang makanan hanya untuk mencari untung semata tetapi tidak memikirkan kualitas masakan atau makanannya. Jangan harap pelanggan akan setia atau datang lagi-datang lagi.

Kalau ikan nila lagi kosong di sentra produksi di Subang, Bang Themy memilih tidak berjualan. Dia tidak mau membeli ikan nila di pasar. Begitu juga kalau dia lagi sakit berarti tidak ada ikan, sebab tidak ada yang menjemput ikan ke Subang, otomatis kedainya juga tutup sementara. Makanya saya nilai dia seorang penjual makanan yang konsisten menjaga kualitas dagangannya. Garis-garis tua di wajahnya menandakan kerasnya kehidupan yang telah dijalaninya. Semoga ikan bakarnya tetap laris karena nafkah keluarganya berasal dari situ, dan saya masih dapat terus menikmati ikan nila bakarnya yang enak itu.

Pos ini dipublikasikan di Makanan enak, Romantika kehidupan. Tandai permalink.

7 Balasan ke Sekelumit Cerita Kehidupan di dalam Ikan Nila Bakar “Bang Themy “

  1. reiSHA berkata:

    Ndeh tabik aia liua mancaliaknyo pak..

  2. Ipam berkata:

    satu lagi referensi kuliner minang di bandung. wah mantabh ini, … terus update infonya pak. two thumbs up lah. pak sudah pernah coba warung masakan minang di depan terminal Sedang Serang pak? layak dicoba pak, namanya “Koto Baru”

    • rgxa2 berkata:

      ambo pernah.!,hehe.
      emang enak masakannya disana,kuahnya rasanya pas,lauknya juga pas,rasanya seperti lauk minang rumahan,heheh.
      sayang tempatnya rada jauh dari kosan saya, jadi saya lebih sering beli di pagi-sore atau kapau jaya,hehe.

  3. rgxa2 berkata:

    Terlihat enak pak,hehe..
    ngomong-ngomong,udah pernah nyobain ayam bakar padang di warung dekat pom bensin dago atas belum pak?
    yang punya warung juga orang awak asli,tapi lah tingga di siko sajak lamo,lah lancar pulo bahaso sundanyo,hehe.
    ayam bakarnya enak,bumbunya menurut saya benar2 racikan asli minang.patut dicoba pak sekali-sekali,hehe.

  4. byaryoga berkata:

    OOT, Pak. Tidak banyak yang menegaskan kata “Minang” alih-alih “Padang” untuk menyebut hal-hal khas Sumatra Barat. Saya setuju.

  5. ghifar berkata:

    gara-gara tulisan ini saya jadi penasaran dan kemarin langsung menuju TKP. saya beli yang ikan nila bakar Rp24 ribu.

    memang enak sih pak😀 saya dan istri saya suka, ehehe…

  6. Ping balik: “Samba Ampok-Ampok” Bang Themy | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s