Bangsa Budak?

Membaca dan mendengar kisah-kisah TKW yang disiksa dan (maaf) diperkosa di beberapa negara tujuan TKI membuat rasa kemanusiaan kita terusik. Tujuan para wanita itu ke sana adalah untuk mencari nafkah guna membantu keluarganya yang miskin di tanah air. Tidak tahunya nasib buruk yang mereka terima di sana, mereka diperlakukan seperti budak belian yang bisa diperjualbelikan dan diperlakukan apa saja oleh majikan dan agen penyalur TKW.

Yang ironis adalah kekejaman itu berlangsung di tanah tempat turunnya para Nabi, tetapi perilaku orang-orang Arab yang sering menyiksa pembantu itu jauh dari sifat-sifat Nabi yang santun, lemah lembut, dan penyayang kepada umatnya. Sisa-sisa perilaku jahiliyah belum hapus sama sekali dari bangsa Arab.

Malaysia dan Arab Saudi adalah dua negara dengan kasus terbanyak memperlakukan para TKI wanita asal Indonesia laksana budak. Para wanita itu dipekerjakan siang malam, gaji tidak dibayar, makan dibatasi, paspor ditahan, dan kekerasan fisik serta verbal yang dilakukan majikan jika pembantu melakukan kesalahan kecil. Malang benar nasib bangsaku ini di mata orang asing.

Memang tidak semua pembantu itu bernasib buruk dan tidak semua majikan di sana itu jahat. Kita juga tidak mau menggenerilisasi bahwa semua orang Arab atau Malaysia itu buruk. Banyak juga kisah-kisah sukses dari sebagian pembantu yang mendapat majikan baik, bahkan ada yang disekolahkan sehingga menjadi sarjana seperti baru-baru ini di Malaysia. Namun apalah artinya kisah-kisah sukses itu, kisah-kisah penyiksaan pembantu adalah cerita horor tersendiri yang menghapus image bahwa masih banyak majikan yang baik. Pilu rasanya jika mendengar ada wanita kita disiksa dan diperlakukan semena-mena.

Memang tidak menutup kemungkinan sebagian dari pembantu itu ada yang bermental jelek, punya budi pekerti yang buruk, malas, nyambi menjadi pelacur, dsb, namun saya yakin sebagian besar dari mereka datang dengan niat untuk mencari nafkah, bukan untuk tujuan atau niat yang lain.

Mungkin karena Indonesia sangat banyak mengirimkan TKI sektor informal (menjadi pembantu atau buruh perkebunan) ke negara-negara itu (Malaysia dan negara-negara Arab), maka bangsa kita sangat rendah di mata orang Malaysia dan orang Arab, diperlakukan sebagai bangsa budak. Harga diri bangsa kita dilecehkan, di Malaysia para buruh perkebunan dan pembantu rumah tangga dipanggil dengan sebutan ‘indon’ yang bernada merendahkan, dan di tanah Arab dianggap sebagai orang yang tidak berharga sehingga boleh diperlakukan apa saja (karena mereka merasa sudah membeli pembantu itu dengan harga tinggi dari agensi di sana, maka majikan merasa berhak bertindak apa saja kepada para wanita TKI, persis sepeti budak zaman dahulu).

Bangsa budak? Sebuah julukan yang sangat menghina. Orang Indonesia adalah bangsa yang bermartabat, punya harga diri, tidak sudi diperlakukan serendah itu. Tidak pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia ini menjadi budak bangsa lain seperti bangsa Afrika yang menjadi budak orang bangsa Romawi, Yunani, Arab, hingga Amerika zaman dulu. Bahkan dulu Indonesia mengirimkan banyak guru dan dosen untuk membantu pendidikan di Malaysia, Petronas juga belajar dari Pertamina, namun sekarang kita tidak lagi mengirim guru ke Malaysia karena Malaysia sudah maju tetapi mengirim pembantu!

Kesalahan perlu ditimpakan kepada Pemerintah kita yang tidak melindungi anak bangsanya di luar negeri. Sudah banyak seruan dari para tokoh dan dari rakyat sendiri untuk menghentikan ekspor pembantu ke luar negeri. Mengekspor tenaga kerja in formal hanya akan merendahkan bangsa ini di mata orang asing. Kalau ingin mengekspor TKI, eksporlah tenaga kerja yang sudah terdidik dan bekerja di sektor formal seperti perawat, supir, dan sebagainya.

Wahai Pemerintah, stop eskpor TKI informal ke luar negeri, perbanyaklah lapangan kerja di tanah air. Uang korupsi yang jumlah triliunan itu dapat digunakan untuk membuat banyak lapangan kerja buat mereka. Biar hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik hidup di negeri sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Bangsa Budak?

  1. Kang Jodhi berkata:
  2. Asop berkata:

    Tapi, kalau soal mencari ilmu, carilah ilmu hingga ke negeri cina.😀

  3. arik berkata:

    lebih mati di negeri sendiri dari pada jadi budak di negeri orang!!! indonesia ini luas ……lebih jeli melihat peluang!!!!

  4. Tamu berkata:

    Berani mati itu apakah lebih sulit atau lebih mudah dari berani hidup ?
    http://babungeblog.blogspot.com/2011/02/menggugat-doktrin-tkw-itu-bodoh.html

  5. aripudin orang gelotavos berkata:

    wajarsaja indo
    di sebut negri budak
    emang nyata

  6. Engle berkata:

    @aripudin orang gelotavos: kalo lo mau jadi budak lo jangan di indonesia!!!!
    Orang indonesia itu gak menyerah kaya lo!!!!!

  7. Engle berkata:

    @aripudin orang gelotavos: kalo lo mau jadi budak lo jangan di indonesia!!!!
    Orang indonesia itu gak menyerah kaya lo!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s