“Social Networking” Versus “Social Not Working”

Kehadiran Google+ meramaikan jejaring sosial (social networking) di jagad maya. Banyak pengguna yang terpikat dengan fitur-fitur Google+ sehingga merekapun membuka akun di sana. Ada orang yang mempunyai tiga akun jejaring sosial sekaligus, masing-masing di Twitter, Facebook, dan Google+. Luar biasa, mereka mungkin punya banyak waktu membuka ketiganya untuk memutakhirkan status atau membaca dan mengomentari status teman-temannya.

Bagi saya cukuplah satu saja punya akun jejaring sosial, di fesbuk saja. Saya sendiri membuka akun di fesbuk lebih karena sering ditanya banyak teman: apa akun fesbukmu? Boleh add sebagai friend nggak? Sebelum tahun 2010 saya tidak mempunyai akun di fesbuk. Bukan karena anti, tetapi tuntutan studi S3 membuat saya harus lebih berkonsentrasi menyelesaikan tugas belajar ini. Jadi, hal-hal lain yang menyita waktu saya hindari saja, termasuk berjejaring sosial.

Baru setelah S3 beres tahun lalu, saya mulai memikirkan mempunyai akun di fesbuk. Pertanyaan banyak orang “apa akun fesbukmu” membuat saya memutuskan untuk membuka akun di jejaring sosial itu. Minimal agar tidak ketinggalan teknologi pulalah. Apalagi sekarang saya relatif punya waktu untuk menyapa dan membalas pesan-pesan friend yang setiap hari makin bertambah saja.

Hmmm… ternyata berfesbuk ria itu memang mengasyikkan. Menulis status baru, berbagi tautan, membaca pesan dan berita dari orang lain. Banyaklah manfaatnya berfesbuk itu. Namun, tanpa disadari keasyikan itu bisa melenakan. Jika dipikir-pikir ternyata membaca dan mengomentari status orang lain bisa menghabiskan waktu produktif. Pekerjaan menjadi terbengkalai karenanya. Maksud hati ber-social networking, tidak taunya malah social not working. Wajarlah jika banyak kantor yang memblok akses internet ke situs web jejaring sosial, situs chatting, dan situs-situs hiburan, agar para karyawannya tidak keasyikan ber-social networking, chatting, dan sebagainya. Bukannya bekerja, malah keasyikan berinternet.

Dunia maya memang melenakan, tetapi kita tidak boleh kalah oleh godaan dunia maya. Saya pribadi mulai membatasi aktifitas berfesbuk itu. Cukup sekali-sekali sajalah, dan tidak boleh sering-sering. Kalau lagi senggang dan santai saja membukanya. Kemampuan pengendalian ada pada diri kita sendiri, bukan?

Maka, saya sering geleng-geleng kepala jika ada orang yang aktif berjejaring sosial di banyak akun. Tidak cukup Twitter dan Facebook, mereka juga aktif di Plurk dan sekarang yang terbaru Google+. Boleh setuju atau tidak, too many social networkings make you be social not working.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

5 Balasan ke “Social Networking” Versus “Social Not Working”

  1. Asop berkata:

    Saya pun sampai sekarang nggak punya akun twitter, Pak.😆 Teman-teman kuliah dan dunia maya saya geleng-geleng kepala tak percaya.
    Ngeblog pun saya rasa bisa juga membuang waktu produktif jika keasyikan melakukannya. Terutama saat blogwalking.🙂

  2. saya berkata:

    “Beberapa” Orang Indonesia menjadikan FB utk ajang riya’ hehehe

  3. joni berkata:

    Social networking aren’t free, you pay it with your time😀

  4. Alris berkata:

    Saya cuma punya satu akun social networking, itupun kadang jarang dilihat. Tapi memang sesuatu itu gak ada gratisnya.

  5. brigadir bambang sulsityo berkata:

    prof.munir jadi ingat dikjur 2011 kerjasma itb mabes sya bambang pak yang prktek nya mantap wkwkwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s