Pendidikan yang Utama Adalah di Rumah, Bukan di Sekolah

Seorang mahasiswa saya mengeluhkan ulah alumni sekolahnya yang mempunyai perilaku kurang islami. Mungkin yang dia maksud kurang islami tersebut adalah kebiasaan seperti dugem, minum beralkohol, berpakaian yang menampakkan aurat, dan mungkin juga berperilaku seks bebas. Sekolahnya adalah perguruan berlabel Islam yang terkenal di Jakarta. Ia tidak menyalahkan sekolahnya, tapi ia hanya penasaran saja kenapa lulusan sekolah Islam yang telah menjalani sekolah bertahun-tahun akhirnya sia-sia saja pendidikan agama dan moral budi pekerti yang telah diperoleh. Dia tidak tega dengan guru-gurunya yang dia hormati yang mungkin perasaan mereka teraskiti oleh perilaku jelek sebagian mantan anak didiknya, tidak berbuat sesuai amanah yang diemban.

Saya tercenung membaca postingannya tersebut di fesbuk. Tidak sekali ini saja contoh perilaku yang kita temui dari alumni lembaga pendidikan yang berlabel agama. Kita mungkin sering membaca di media tentang terjaringnya pelajar puteri yang memakai kerudung tengah mesum dengan pacarnya di kamar hotel. Atau, kita mungkin pernah melihat pasangan remaja yang sedang asyik masyuk di kawasan wisata pantai, berduaan, atau sedang berpelukan dengan lelaki bukan muhrimnya. Yang membuat kita mengelus dada adalah si perempuan memakai jilbab meskipun itu sejenis jilbab gaul yang hanya menutup kepala tetapi tidak menutup dada, celananya juga celana jins ketat yang membentuk lekuk tubuhnya.

Tentu saja contoh perilaku tidak islami semacam itu tidak bisa kita generalisasi bahwa semua pelajar lembaga pendidikan berbasis agama berbuat demikian. Itu hanya ulah segelintir oknum pelajar saja, tetapi karena ulahnya rusaklah nama almamaternya. Mungkin saja perilaku tersebut membuat skeptis masyarakat pada lembaga pendidikan agama, atau kepada simbol-simbol agama seperti jilbab/kerudung, atau bahkan kepada agama itu sendiri. Tampilan Islam tetapi kok perilaku tidak islami, begitu kata orang-orang. Atau ucapan sinis seperti pelajar/lulusan sekolah Islam namun perilakunya sama saja seperti lulusan sekolah lain, dan sebagainya. Ini juga bukan berarti pelajar sekolah yang bukan berlabel agama perilakunya lebih baik atau lebih buruk dari pelajar sekolah non-agama.

Well, jangan terlalu berharap pada sekolah untuk pembentukan karakter, biarpun itu sekolah berlabel agama sekalipun. Pendidikan yang utama bukanlah di sekolah, tetapi di rumah. Pendidikan di sekolah hanya pelengkap. Ingat, berapa jam anak berada di sekolah dalam sehari? Hanya 6 jam sampai 9 jam (jika full day school), sisanya 15 hingga 18 jam anak berada di rumah. Jadi, anak lebih lama berada di lingkungan rumah dibandingkan di sekolah. Sehingga, pendidikan yang terpenting itu adalah di dalam keluarga.

Bedakan antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran adalah proses transfer of knowledge, sedangkan pendidikan adalah proses pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai (budi pekerti, kejujuran, moral, agama, dsb) yang baik. Pengajaran adalah tugas guru-guru di sekolah. Pelajaran matematika, bahasa, IPA, IPS, dan lain-lain didapatkan anak di sekolah. Guru juga memberikan porsi pendidikan kepada anak, tetapi porsinya terbatas. Porsi utama pendidikan adalah tugas orangtua di rumah. Di rumah lah tempat orangtua memberi teladan kepada anak, memberikan pendidikan budi pekerti dan agama, menanamkan sikap untuk jujur, hormat pada orang yang lebih tua, mencintai sesama makhluk hidup, membantu fakir miskin, dan sebagainya. Pendidikan semacam itu diberikan sejak anak bangun tidur hingga bangun tidur lagi. Bekal pendidikan yang kuat di rumah dapat menjadi tameng bagi anak untuk menghadapi lingkungan pergaulan yang “buas” dan bebas.

Orangtua zama sekarang, terutama di kota besar, sangat sibuk. Dua-duanya bekerja sehingga tidak punya waktu luang yang banyak untuk memberikan pendidikan kepada anak di rumah. Akhirnya anak tidak punya panduan sehingga mereka lebih banyak mendapat “pendidikan” dari temannya. Celakanya jika salah punya teman atau lingkungan pergaulan yang kurang baik, ditunjang oleh bekal pendidikan yang rapuh di rumah, anak mudah terpengaruh dan akhirnya ikut arus pergaulan bebas yang tidak baik.

Saya sering melihat anak-anak remaja tidak shalat dan asik terus bermain, hang out, nongkrong, dan kumpul-kumpul tidak jelas. Sudah masuk waktu shalat mereka tetap tidak peduli hingga habis waktu shalat itu. Saya menduga mungkin karena di rumahnya tidak ditegakkan shalat, atau orangtua jarang shalat, atau orangtua tidak mendidik anaknya sholat, akhirnya anak juga lalai dalam sholat. Ini satu contoh betapa pendidikan di rumah sangat menentukan seperti apa anak itu nanti di luar rumah.

Orang-orang yang kecewa atau tidak puas dengan lembaga yang bernama sekolah akhirnya menarik anaknya dari sekolah dan mengambil alih peran sekolah dengan memberikan pendidikan total di rumah dengan julukan homeschooling. Homeschooling pada hakikatnya bersesuaian dengan tema tulisan ini bahwa pendidikan yang utama itu adalah di rumah. Homeschooling cocok buat sebagian orangtua nyang punya banyak waktu di rumah dan punya kemampuan memberikan pelajaran kepada anak-anaknya. Atau, kalau tidak mampu memberikan pelajaran maka orangtua mendatangkan guru pelajaran ke rumah (yang berarti butuh biaya privat, sehingga homeschooling membutuhkan kemapanan secara ekonomi).

Bagaimana dengan orangtua yang sibuk, pendidikan orangtua rendah, atau secara ekonomi tidak mampu? Jelas homeschooling bukan solusi. Saya punya pendapat tentang homeschooling ini (bukan berarti saya tidak setuju), bahwa serahkanlah urusan pada ahlinya, yang berarti sekolah tetap perlu. Pengajaran materi pelajaran ilmu pengetahuan dan sebagian porsi pendidikan serahkan pada guru-guru di sekolah, namun pendidikan untuk membentuk karakter yang baik tetap tanggung jawab utama adalah orangtua di rumah.

Wahai para orangtua, janganlah kau terlalu sibuk menghabiskan waktumu di luar rumah, anak-anakmu di rumah memerlukan pendidikan darimu. Pendidikan yang utama adalah di dalam keluarga. Unit terkecil di dalam negara adalah keluarga. Jika keluarga baik, maka negara juga baik. Jika pendidikan di dalam keluarga tidak baik, percayalah negara ini akan diisi oleh orang-orang yang berperilaku tidak baik.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Pendidikan yang Utama Adalah di Rumah, Bukan di Sekolah

  1. Mas Kur berkata:

    Setuju Pak.
    Bahkan, pendidikan agama/moral juga tugas orangtua, tidak bisa sekedar diserahkan ke ulama atau lembaga, IMHO. Jadi ortu dituntut juga untuk jadi “ahli”nya🙂

    Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.
    Thanks.

  2. Alris berkata:

    Pak Rinaldi selamat Idul Fitri 1432 H, maaf lahir dan batin.

  3. Ping balik: Alasan Utama Pemberlakuan Moratorium PNS » Latih Soal CPNS

  4. Mister Ade berkata:

    Bagus banget pak tulisannya.. sangat menggugah..
    Ini membuat saya berfikir kembali bagaimana membangun rumah tangga nanti setelah menikah..
    perbaiki diri sendiri dulu sebelum menjadi teladan bagi anak-anak.

    Saya penggemar tulisan bapak..
    Salam kenal pak, saya Amadeus FA 06

  5. Siti berkata:

    Sekolah seharusnya tidak hanya tempat transfer pengetahuan/ilmu juga. Bagaimanapun anak justru lebih tertib dan siap dibentuk secara formal di sekolah. Oleh karena itu sistem pendidikan yang ada harus berorientasi membentuk kepribadian islam. Pelajaran apapun di sekolah harus berlandaskan aqidh Islam. sehingga tidak terjadi sekulerisasi pada anak yaitu dikotomi antara ilmu dengan iman dan pemahaman Islam yg seharusnya dibawa dan diterapkan di manapun dan saat beraktifiatas apapun termasuk bersekolah

  6. smart sukses berkata:

    kami akan terus ikut menjaga akhlak kami wlw nntinya di anggap berbeda:)
    salam kenal,, les privat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s