Belajar Lebih Ikhlas

Pernahkah anda merasa berat hati mengeluarkan uang receh buat pengamen yang menyanyi di depan rumah? Saya pernah. Terasa mengganggu, kok jam 8 pagi sudah ada pengamen yang muncul di depan pintu, menyanyikan lagu dengan suara sumbang. Anehnya pengamen ini seperti langganan, setiap minggu pasti dia datang lagi.

Pernahkah anda merasa berat hati ketika memarkirkan motor atau mobil di depan warung kaki lima atau toko yang ramai, setelah selesai bertransaksi di warung/toko itu anda menghidupkan motor anda kembali, tiba-tiba ada orang yang datang meminta uang parkir. Aneh, ketika motor diparkirkan tidak ada orang yang mengatur, tetapi ketika mau pergi ada saja orang yang datang lalu ikut sibuk membantu mengeluarkan motor anda dan itu berarti sebuah tanda bahwa anda harus memberi uang parkir kepada petugas parkir liar tersebut.

Pernahkah anda mengalami ketika membawa mobil dan berbelok di jalan yang ramai ada “polisi Pak Ogah” yang mengatur kendaraan yang berbelok. Ujung-ujungnya Pak Ogah itu meminta uang atas jasanya membantu anda melewati belokan. Berat hatikah anda memberi uang jasa kepada Pak Ogah tersebut?

Di Masjid Salman ITB, setiap hari Jumat banyak pengemis dan anak-anak yang berkeliaran di sekitar jalan kecil menuju masjid. Mereka menadahkan tangannya meminta uang kepada pejalan kaki yang hendak menunaikan shalat Jumat. Sangat jarang pejalan kaki yang memberikan uang receh kepada para pengemis itu.

Banyak lagi contoh-contoh yang membuat kita berat hati dalam memberi. Jika perasaan itu yang anda alami, itu berarti anda masih belum ikhlas. Tidak ikhlas artinya masih berat hati. Terpaksa dalam memberi tetap saja tidak ikhlas namanya.

Ikhlas artinya melakukan sesuatu dengan tulus, kalau bahasa Inggrisnya “nothing to loose”. Tak ada keinginan untuk mengharap kembali. Tidak ada beban dalam melakukan sesuatu, semuanya ringan saja. Kalau anda sudah merasa ringan seperti itu, berarti anda sudah bisa dikatakan ikhlas.

Ikhlas tidak hanya dalam hal memberi, tetapi juga dalam hal menerima. Menerima banyak cobaan, musibah, kegetiran, dan ujian dalam hidup membutuhkan banyak kesabaran. Dari kesabaran itu muncullah rasa iklhas.

Rupanya, ikhlas itu tidak ada ilmunya. Tidak pernah saya mendengar “ilmu ikhlas”. Belajar sampai ke negeri kelahiran para nabi sekalipun, anda tidak akan bertemu yang namanya ilmu ikhlas. Ikhlas itu adalah rahasia Allah, hanya Dia yang mengetahui hakikat ikhlas.

Ikhlas sudah tersedia di dalam hati setiap manusia, tetapi perasaan ikhlas itu sering tertutup oleh nafsu, kebencian, iri, sombong, dan takabur. Meskipun ikhlas itu tidak ada ilmunya, namun ia bisa dipelajari dengan banyak latihan bersabar. Perlu banyak latihan kesabaran agar kita lebih ikhlas dalam hidup ini.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Belajar Lebih Ikhlas

  1. bayu berkata:

    Betul pak Ikhlas itu adalah Rahasia Allah seperti yg dikutip di tulisan Gus Mus berikut:
    http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=10&id=1190

  2. ady w berkata:

    mengutip teman, ikhlas itu seperti kentut, hanya memberi tak harap kembali

  3. ,marti berkata:

    mengutip teman, ikhlas itu seperti kentut, hanya memberi tak harap kembali

  4. Agung berkata:

    Kalau contoh “ikhlas” yang ditulis bapak diatas sih lebih ke “recehan” untuk tukang parkir, pengamen, pengemis, dll, bagi saya tidak perlu dipikir ikhlas atau tidak, cukup pikirkan apakah hal tersebut benar atau salah. Di beberapa daerah sudah ada perda melarang memberi uang ke pengemis, kemudian peraturan parkir yang sah harus membayar ke petugas parkir dengan memberikan karcis retribusi tanda uang tersebut masuk kas daerah. Kalau tidak ada karcis (alias parkir liar), ya tinggal semau kita saja, ada receh silakan diberi, ga ada ya sudah.

    Kalau mau “test” ikhlas, coba saja bisa ga kita ikhlas jika kendaraan kesayangan kita dipinjam teman, lalu pulang dengan kondisi rusak karena ditabrak orang dijalan, yang dari pengakuan teman kita itu bukan karena kesalahannya. Ikhlas kah kita akan rusaknya kendaraan kita? atau malah marah dan memutus persaudaraan? Padahal katanya segala sesuatu itu titipan Allah, suatu saat bisa diambil.

  5. kidalboy berkata:

    bener pak..
    memberi sesuai kemampuan qt, dan tidak mengingat kembali apa yg qt berikan kpd orang lain..

  6. Citra Indah berkata:

    setuju trimakasih atas informasinya , semoga dengan belajar ikhlas kita dapat menjadi orang yang lebih baik lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s