Kantor Pos Besar Bandung yang Hampir Terlupakan

Sudah lama saya tidak berurusan dengan per-posan. Maklum sejak ada internet dan perkembangan teknologi informasi yang demikian dahsyat, bisnis kantor pos memang tergerus hampir habis. Kirim surat sekarang cukup via e-mail atau SMS, lebih cepat dan lebih murah ketimbang dengan surat pos. Kirim uang tidak perlu lagi pakai wesel pos, sudah tergantikan dengan transfer via ATM atau internet banking. Kirim paket juga banyak alternatif melalui jasa perusahaan kurir semacam Tiki, DHL, dan lain-lain.

Meskipun sebagian besar bisnis pos terkikis, namun kantor pos tidak pernah mati. PT Pos Indonesia masih tetap bisa bertahan karena konsumennya masih ada, terutama di desa-desa. Untuk selalu bisa bertahan, PT Pos Indonesia melakukan diversifikasi usaha dan kerjasama dengan berbagai lembaga agar bisnisnya tidak merugi. Semisal menyewakan sebagian ruang kantor posnya untuk bank, factory outlet, toko, dan sebagainya. Juga kerjasama dengan instansi Pemda seperti pengiriman berkas lamaran menjadi PNS yang setiap tahun selalu dilakukan secara serentak, mengambil uang pensiun melalui kantor pos, dan sebagainya.

Setidaknya kalau kita main ke kantor pos, kita melihat bahwa kantor pos tidak selalu sepi. Ada saja masyarakat yang mengirim surat dan paket barang melalui pos. Keunggulan PT Pos adalah mereka sudah memiliki infrastruktur yang sudah mapan hingga ke pelosok-pelosok daerah Indonesia yang luas ini. Para TKI yang berada di luar negeri masih tetap suka mengirim uang kepada keluarganya di desa-desa lewat pos, karena bank atau internet banking belum akrab bagi masyarakat kampung. Saya pun juga begitu, untuk mengirim surat atau paket barang ke daerah yang jauh dan agak pelosok saya masih suka melalui kantor pos. Kantor pos tiada matinya.

Kemarin saya pergi ke Kantor Pos Besar Bandung di Jalan Asia Afrika guna mengirim paket barang ke Kabupaten Karang Asem, Bali. Jika pakai Tiki waktu pengirimannya bisa lebih lama, tetapi kalau pakai pos bisa lebih cepat. Sekalian saya ingin jalan-jalan mengunjungi kantor pos besar yang terletak di alun-alun kota Bandung ini, saudah lama saya tidak pernah ke sini.

Kantor Pos Besar Bandung ini selesai dibangun pada tahun 1928 berdasarkan rancangan arsitek J. Van Gendt dengan gaya arsitektur Modern Fungsional (Art Deco Geometric). Di bawah ini foto kantor pos besar tempo doeloe, jalan Asia Afrika masih lengang saat itu.

Saya sangat mengagumi gaya art deco kantor pos besar Bandung ini. Kota Bandung kaya dengan bangunan berarsitektur art deco. Berikut ini beberapa jepretan kamera ponsel saya mengenai arsitektur bangunan kantor pos:

1. Tampak samping kiri depan

2. Tampak samping kanan depan

3. Pintu masuk

4. Sisi kantor pos dari Jalan Banceuy

5. Kantor pos dipotret dari atas jembatan penyeberangan Jalan Asia Afrika

6. Jembatan penyeberangan di depan kantor pos ini sebenarnya merusak pemandangan. Wajah kantor pos tidak bisa dilihat secara utuh dari depan, terhalang jembatan dan billboard elektronis besar di atasnya.

7. Di sekeliling kantor pos banyak terdapat bangunan bersejarah, misalnnya gedung tua yang menjadi kantor Bank Mandiri di samping kanan.

atau gedung tua bernama SWARHA di seberang jalan. Semuanya gaya art deco. Gedung SWARHA ini tampak tidak terurus.

7. Suasana di dalam kantor pos, masih asli seperti dulu.

Sisi lain di dalam kantor pos:

Salam buat keluarga pos Indonesia, semoga PT Pos Indonesia selalu tetap jaya dan selalu bertahan di tengah arus teknologi informasi yang sangat cepat perubahannya. Kunci agar selalu bertahan adalah menyesuaikan diri secara sinergis dengan perkembangan teknologi informasi.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kantor Pos Besar Bandung yang Hampir Terlupakan

  1. delsyermon berkata:

    Terima kasih atas tulisannya sanak….
    Memang untuk terus bertahan (kalau tidak disebut ‘maju”), PT Pos Indonesia telah banyak melakukan berbagai perbaikan, perubahan, penyesuaian, penambahan dsbnya. Salah satunya dengan mendirikan Strategic Business Unit (SBU) Pos AdMail, yang didedikasikan untuk fokus melayani pelanggan korporat dengan konsep layanan terintagrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan data, pencetakan dokumen, pengiriman, dan layanan pasca antaran (reporting, handling complaint, etc). Layanan ini digunakan oleh berbagai kalangan di bidang Perbankan, Kartu Kredit, Pembiayaan, Asuransi, Telekomunikasi, Public Service, Pemerintah dan Lembaga Pendidikan.
    Demikian sekedar tambahan informasi…

    • Rinaldi Munir berkata:

      Walahhh, saya lupa kalau Pak Delsy Ermon kerja di Pos. Jadi tersanjung nih dibaca orang Pos.
      Percayalah, PT Pos masih dibutuhkan sampai kapanpun. Teknologi informasi tidaklah mensubstitusi proses klasikal pos secara total, tetapi jika digunakan secara cerdik, dia mampu menciptakan alternatif bisnis baru yang tidak pernah terpikir sebelumnya.
      Seperti koran, meskipun sudah ada koran edisi daring (online), koran cetak tidak pernah mati. Kuncinya adalah memanfaatkan teknologi informasi, bukan “memusuhinya”.

  2. FajarStones berkata:

    So awesome..saya pernah baca dari buku Haryoto kunto sang Kuncen Bandung, bahwa gedung ini pernah menjadi Rumah Sakit Kelamin lho, karena dulu banyak orang-orang Belanda yang terkena Sipilis ato raja singa, seiring dengan berdirinya Lokalisasi Saritem…siapa sangka kalo Lokalisasi Saritem juga bikinan Wong Londo, tp tentunya tidak ada simbol gedung ato apapun disana * Ting…weleh weleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s