Pijat Badan Dulu Ah… di Wiyata Guna

Minimal satu kali dalam satu bulan saya mendatangi panti Wiyata Guna di Jalan Padjadjaran Bandung untuk pijat badan. Jika badan sudah pegal-pegal dan cape-cape, saya suka ke tempat ini untuk dipijat oleh pemijat tuna netra.

FYI, Panti Wiyata Guna adalah kompleks pendidikan tuna netra yang dikelola oleh Departemen Sosial. Kompleks Wiyata Guna ini sangat luas, di dalamnya ada sekolah SLB, asrama, dan panti pijat tuna netra.

Di seberang Wiyata Guna terdapat jembatan penyeberangan yang panjang guna membantu para tuna netra menyebrang jalan. Para penyandang tuna netra merasa nyaman dan aman bikla berada di dalam kompleks Wiyata Guna.

Saya suka pijat di panti ini demi menjaga kesehatan saja. Kebanyakan pekerjaan saya adalah membaca dan duduk di depan komputer, selain mengajar tentunya. Nah, duduk terus menerus bisa membuat badan pegal-pegal. Rasanya tidak nyaman saja kalau badan sudah pegal, selain itu otak juga ikutan cape. Nah, solusinya agar rileks kembali adalah dengan pemijatan. Pemijatan ini bertujuan mengendurkan otot dan melancarkan peredaran darah. Setelah dipijat badan saya terasa segar dan bugar. Kadang-kadang kalau sedang kurang enak badan — misalnya terkena flu — saya suka pergi ke panti ini untuk mempercepat kesembuhan.

Alhamdulillah karena rutin dipijat setiap bulan, saya selalu berada dalam kondisi sehat dan jarang sakit. Bagaimanapun kesehatan adalah anugerah Allah yang sangat berharga yang wajib kita sukuri. Oleh karena itu kesehatan itu harus dijaga, tidak hanya pola makan dan olahraga saja yang diperhatikan, tetapi juga relaksasi dengan pemijatan yseperti ang rutin saya lakukan dua kali dalam sebulan.

Saya memilih dipijat di Wiyata Guna karena ini panti yang resmi dan dikelola oleh Depsos. Kalau ke tempat panti pijat yang lain saya agak risih, karena panti pijat sering dikonotasikan sebagai tempat negatif. Di Wiyata Guna semua pemijat adalah tuna netra, jadi saya merasa nyaman. Meskipun kita dipijat hanya menggunakan pakaian dalam, mereka tidak bisa melihat tubuh kita. Laki-laki dipijat oleh pemijat laki-laki, perempuan dipijat oleh pemijat perempuan.

Kamar pijatnya bersih dan nyaman. Tarif per jam adalah Rp25.000. Kita bisa memilih dipijat selama satu jam atau satu setengah jam atau dua jam. Kalau sudah cocok dengan seorang pemijat, kita bisa memintanya untuk memijat kembali jika suatu saat kita datang ke sana lagi pada kunjungan berikutnya. Bisa juga pemijat dipanggil ke rumah atau ke hotel, tapi tarifnya tentu beda. Oh ya, media pijatannya bisa menggunakan minyak hangat (yang mereka sebut minyak gandapura) atau menggunakan bedak hangat, tergantung kesukaaan kita.

Di Wiyata Guna ada dua tempat pijat, pertama pijat tradisonil (massage) yang sudah umum, kedua pijat shiatsu. Untuk pijat shiatsu (pijat Jepang), kita tidak perlu membuka pakaian. Pijatannya menggunakan kain semacam handuk yang dijadikan media untuk memberi tekanan ke badan kita. Saya kurang suka pijat shiatsu sebab rasanya kurang nikmat, nggak terasa benar-benar dipijat. Saya lebih suka pijat tradisionil saja.

Pemijat di Wiyata Guna sebagian besar adalah siswa magang dari sekolah pijat di dalam panti. Di Wiyata Guna terdapat sekolah pijat berijazah bagi para tunaetra. Siswanya tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi datang dari seluruh Indonesia. Yang pernah saya temui ada yang dari Jambi, Aceh, Jakarta, bahkan dari NTT. Untuk sekolah pijat di sini biayanya gratis (ditanggung Depsos). Siswa tinggal di asrama di dalam panti, mendapat makan dan uang saku. Lama sekolah di sini adalah 2 tahun dan sudah termasuk magang di panti. Setelah magang dan lulus maka mereka diberi ijazah dan dapat membuka praktek pijat sendiri setelah keluar dari panti. Jadi, bagi anda yang punya teman atau saudara tuna netra, anda dapat merekomendasikan tempat ini kepada mereka untuk mendapat pendidikan pijat sebagai bekal ketrampilan agar para tuna netra bisa hidup mandiri.

Pemijat yang memijat saya bercerita, di sekolah pijat siswa tidak hanya mendapatkan ilmu teknik memijat, tetapi juga belajar anatomi manusia dan ilmu kesehatan lainnya. Karena belajar anatomi tubuh manusia, maka kita tidak perlu khawatir salah urat atau salah pijat, karena mereka sudah paham apa saja yang boleh dipijat, tekanannya berapa, dan cara pijatannya juga ada seni dan tekniknya. Jadi bukan asal pijat.

Sembari dipijat saya suka bertanya tentang kehidupan mereka. Ternyata mereka tidak semuanya buta sejak lahir, ada juga yang pernah bisa melihat selama belasan tahun lalu mendapat musibah kecelakaan yang mengekibatkan kebutaan. Sebagian mereka ada yang tidak buta total sama sekali tetapi masih bisa melihat bayangan samar dari dekat.

Meskipun mereka tidak bisa melihat, mereka tidak ketinggalan teknologi. Para tuna netra saat ini mahir menggunakan ponsel, baik mengetik SMS, membuka phonebook, maupun membaca SMS. Untuk membaca SMS para tuna netra saat ini tidak mengalami kesulitan sebab produsen ponsel sudah menyediakan aplikasi pembaca SMS maupun alat bantu untuk mengetahui tombol keypad yang ditekan. Program aplikasi bagi tuna netra sudah banyak dikembangkan oleh pengembang perangkat lunak, tidak hanya untuk ponsel. Pemijat di Wiyata Guna juga menggunakan ponsel untuk mengetahui sudah berapa menit waktu berlalu sehingga mereka tahu kapan harus selesai memijat.

Bagi saya, para pemijat di Wiyata Guna itu telah memberi inspirasi tentang kegigihan hidup. Meski mereka hidup dengan keterbatasan indra, tetapi mereka tidak mudah menyerah dan tidak mau menjadi beban orang lain. Mereka pun bisa mengerjakan sendiri pekerjaan mereka dan bisa membiayai hidup sendiri dan menafkahi keluarganya dari usaha memijat. Para pemijat yang sudah berkeluarga mempunyai anak dan istri yang harus dinafkahi. Hitung-hitung saya dipijat di Wiyata Guna ini tidak hanya agar sehat, tetapi juga secara tidak langsung membantu kehidupan mereka mendapatkan nafkah yang halal dari upah memijat.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

10 Balasan ke Pijat Badan Dulu Ah… di Wiyata Guna

  1. Alris berkata:

    Salut dengan depsos jabar yang memberikan pelatihan ini untuk mendayagunakan kemampuan yang dipelajari. Semoga jadi contoh bagi daerah lain dan mengikutinya dengan benar.

  2. setyo berkata:

    pijit ah besok sabtu insya Allah

  3. satria berkata:

    saya biasa pijat di tuna netra depsos malang tarifnya 25 rb biasanya 2 jam sampe ketiduran .. saya senang sekali pijat biasanya 2-3 mg sekali. skrg saya pindah ke jakarta dan belum ketemu depsos yg melayani pijat tuna netra ..(mohon info) … saya agak ragu dg yg diluaran karena sering esek esek. mohon info yg bandung di jln apa?

  4. mochbudiarto berkata:

    assalammu alaikum

  5. Taufiq berkata:

    jalur angkot kalau dari ITB gimana ya Pak?

  6. Dani berkata:

    Biasanya buka dari hari apa, jam berapa dan sampai jam berapa ya?

  7. Lala berkata:

    Slesai info, buka setiap hari dari jam 8-5 utk tradisional, jam 11-5 utk shiatsu. Tarif nya Rp. 37.500′-/jam utk tradisional, yg shiatsu blm nyoba he he he…

  8. dani berkata:

    Dari ITB naik angkot sadang serang – caringin aja. Nanti bilang aja turun di perempatan jl pajajaran. Trus jalan dikit ke arah istana plaza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s