Bom dan Rasa Jengah

Entah kenapa ya, setiap kali ada kasus bom bunuh diri yang terjadi di negara kita, saya selalu merasa jengah. Mungkin perasaan yang sama juga dialami oleh sebagian orang Islan yag lain. Lho, kok? Lha iya, saya merasa jengah sebab setiap kali ada kasus ledakan bom maka pastilah opini diarahkan bahwa pelakunya adalah kelompok atau orang-orang yang membawa-bawa agama, dalam hal ini Islam.

Pengaitan dengan agama semakin mendapat “pembenaran” ketika simbol-simbol agama terbawa-bawa bersama kasus bom tersebut. Pada setiap aksi penggeledahan di rumah pelaku bom, polisi menemukan buku-buku bertema jihad, CD yang berisi ceramah agama, tulisan yang berisi ayat-ayat Al-Quran, dan sebagainya. Terlepas penemuan simbol-simbol berbau agama itu suatu kebetulan atau rekayasa, wallahu alam, yang jelas opini publik digiring ke arah bahwa pelakunya adalah orang atau kelompok orang yang membawa agama, dalam hal ini Islam.

Satu jam sesudah ledakan bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, di sebuah TV berita muncul ulasan bahwa pelakunya adalah jaringan teroris dari kelompok Islam radikal, jamaah islamiyah, atau yang tidak jauh-jauh dari itulah. Ulasan ini diperkuat dengan penemuan polisi di sebuah wanet, dimana pelaku meninggalkan tas berisi Al-Quran, sajadah, dan jejak situs internet yang dibuka pelaku adalah sebuah situs yang namanya dalam bahasa Arab. Bertambah jengah saja rasanya, sesak dada dibuatnya.

Dengan cepat peristiwa bom bunuh diri ini memasuki ranah dunia maya. Jika anda membaca komentar-komentar atau forum daring (online) yang membahas tentang kasus ledakan bom atau aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama, komentar-komentarnya sungguh mengerikan. Berbagai cacian dan hujatan yang arah-arahnya menghina agama Islam dan Nabi Muhammad SAW tergambar pada berbagai komentar yang muncul di sana. Penuh kebencian dan sangat kasar. Bagi orang yang memang sudah membenci Islam atau phobia dengan Islam, kasus pembunuhan atau kekerasan yang mengatasnamakan agama ini menjadi “pintu masuk” untuk meluapkan kebenciannya kepada Islam. Islam dianggap sebagai agama teror, Nabi Muhammad dianggap sebagai pembawa ajaran kekerasan. Duh! Jika tidak dibaca dengan kepala dingin, hati bisa panas dibuatnya. Tapi, ya itulah dunia maya yang anonim, semua orang bebas bicara seenak perutnya dan menghamburkan semua kebencian yang mengisi perutnya selama ini. Saya anggap semua komentar-komentar itu sampah saja. Bagi saya teror fisik sama jahatnya dengan teror verbal melalui kata-kata.

Sedih rasanya jika agama saya dikait-kaitkan dengan aksi kekerasan. Islam menjadi tercemar karena ulah pelaku aksi bom bunuh diri dan radikalisme itu. Kebetulan saja pelakunya beragama Islam dan parahnya lagi membawa simbol-simbol agama dan ayat suci. Ulah pelaku sama sekali sangat bertentangan dengan ajaran agama yang saya atau kami anut selama ini. Siapa yang mengajarkan anak-anak muda itu membunuh atau melukai orang yang tidak bersalah, apalagi jika para korban itu dari kalangan non-muslim? Siapa yang telah meracuni pikiran dan jiwa mereka dengan ajaran yang menyesatkan itu? Mereka — anak-anak muda itu — boleh saja mengatakan aksinya adalah sebuah perjuangan jihad dan matinya mati syahid, tetapi sebenarnya yang mereka lakukan itu adalah perbuatan sesat dan matinya adalah mati konyol. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang takut hidup sehingga memilih mati dengan cara yang sia-sia.

Jangankan membunuh orang, menganiaya hewan saja bisa diancam masuk neraka. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seorang wanita menyiksa seekor anjing ampai mati. Kata Nabi, wanita itu tempatnya nanti di neraka. Itu baru kepada binatang, apalagi membunuh manusia. Jangankan membunuh manusia, apalagi yang non muslim, menzalimi mereka saja nanti akan berhadapan dengan Nabi di akhirat. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menzalimi seorang mu’ahid (non muslim yg damai), atau mengurangi haknya, atau membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil darinya sesuatu di luar haknya, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR Abu Daud).

Membunuh orang tanpa haq adalah dosa besar. Membunuh atau mengambil nyawa orang lain hanya dibenarkan pada kasus-kasus yang dibenarkan agama. Misalnya, menurut hukum Islam hukuman bagi orang yang membunuh adalah hukuman mati, kecuali jika keluarga terbunuh memberi maaf, maka lepaslah hukuman pembunuh itu dan hukuman mati diganti dengan denda (diyat). Membunuh musuh dalam peperangan juga dibenarkan, sebab bila anda berhadapan dengan musuh maka pilihannya hanya ada dua: anda terbunuh atau anda membunuhnya. Pilih mana?

Saya teringat khutbah Idul Fitri yang disampaikan Rektor UIN Malang di Aula Barat ITB beberapa waktu yang lalu. Beliau memaparkan bahwa semua surat di dalam Al-Quran selalu dimulai dengan basmalah, yaitu bismillaahirrahmaanirrahim, kecuali satu surat yaitu surat Al-‘Adziyat At-Taubah yang dimulai dengan pernyataan perang total Allah kepada kaum musyrikin. Bacaan basmallah itu artinya adalah “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Allah itu Pengasih kepada semua makhluknya, dan Kasih-Nya itulah disirami kepada setiap hati manusia. Kenapa pada surat Al-Adziat At-Taubah tidak dimulai dengan basmallah? Salah satu rahasianya adalah dalam perang tidak berlaku kasih sayang itu. Jika orang yang berperang saling berkasih sayang tentu bukan perang lagi namanya.

Kalau Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kasih sayang, lalu darimana datangnya ideologi kekerasan yang mengatasnamakan agama itu? Entahlah, saya juga tidak tahu. Yang jelas sejak peristiwa 11 September 2001 di New York, aksi bom di muka bumi ini begitu marak, termasuk di Indonesia. Ideologi kekerasan tumbuh karena ajaran agama ditafsirkan secara sepihak, sempit, bercampur dengan rasa sakit hati, benci, dan perlakuan tidak adil oleh pihak lain. Entah kapan berakhirnya, saya juga tidak tahu.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Bom dan Rasa Jengah

  1. reiSHA berkata:

    Saya jadi penasaran pak soal surat Al-‘Adiyat itu. Barusan saya cek Al-Qur’an, ada kalimat basmalah nya kok di awal surat Al-‘Adiyat. Seingat saya yang tidak ada basmalah nya itu malah surat At-Taubah.

  2. Bismillah.
    Hal itu disebabkan kedangkalan ilmu para pelaku teror bom tersebut. yang ada hanya semangat tanpa landasan ilmu syar’i. mereka tidak pernah mendengar dan membaca sabda Rasulullah : “barangsiapa yg membunuh kafir mu’ahad maka dia tidk akan mencium baunya sorga.”. bagi mereka semua orang kafir itu sama saja, padahal para ulama telah menjelaskan perincian kepada kita. leih jelas permasalahan dalam masalah ini silahkan baca buku berjudul MERAIH KEMULIAAN MELALUI JIHAD, BUKAN KENISTAAN, karya AL Ustadz Dzulqarnain atau kunjungi beliau di sini : http://jihadbukankenistaan.com/ , download PDFx di sini : http://www.4shared.com/file/118748899/b7e71668/Meraih_Kemuliaan_Melalui_Jihad_Bukan_Kenistaan.html.

    Kemudian Saran buat pak Rinaldi : Penulisan SWT, RA atau SAW sebaiknya jangan disingkat tapi ditulis saja -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ALLAH Subhanah WaTa’ala. lebih baik ALLAH Ta’ala saja daripada pakai SWT.

    Fahruddin Abu Shafiyyah
    http://aboeshafiyyah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s