Dari Sidang Promosi Doktor Hingga Puisi Cinta ke Rasulullah

Minggu lalu teman saya mengadakan sidang promosi doktor di ITB. Saya hadir memenuhi undangan sidang terbukanya itu sebagai akhir dari proses pendidikan S3-nya di ITB. Teman saya ini adalah pengagum budayawan Emha Ainun Nadjib, gaya dan mimiknya mirip, sehingga terkadang saya memanggilnya Emha. Dia rupanya berjiwa seperti seorang penyair juga, maka halaman buku ringkasan disertasinya (yang dibagikan kepada pengunjung sebelum sidang) diisi dengan kalimat-kalimat dalam bahasa cinta sebagai ekspresi ucapan terima kasihnya kepada berbagai pihak, mulai kepada dosen pembimbing hingga tak lupa kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi junjungan dan kecintaan ummat Islam.

Pada sesi pembacaan hasil sidang, dosen promotornya (pembimbing) memberikan sambutan. Namun, sebelum memberi sambutan, dosen promotor meminta promovendus membacakan sebuah puisi improvisasi yang bertema “graf cinta” (kebetulan topik risetnya tentang teori graf). Sejenak dia terdiam berkonsentrasi, lalu mulailah dia membaca kalimat pertama puisi tanpa teks itu:

………Rasulullah cinta kepada saya

Baru satu kalimat puisi yang dia bacakan, dia terhenti kembali. Suaranya tercekat, matanya mulai menangis. Hadirin di dalam ruangan sidang tiba-tiba menjadi hening, sama-sama terdiam. Ada perasaan haru ketika nama Nabi junjungan ummat Islam itu disebut-sebut di dalam ruang sidang yang “sakral”. Tiba-tiba saja bulu roma saya pun ikut merinding.

Dia mengusap matanya yang basah, lalu meneruskan kalimat-kalimat cintanya itu:

Karena paduka memintaku berguru,
maka aku terus berguru
Keringat dalam berguru adalah kegembiraan
karena cinta paduka menebar tak berkesudahan

Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud “paduka” itu adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Hanya sampai satu bait itu dia berhasil membacakan puisi, sebab mata dan suaranya tidak kuat lagi meneruskan ekspresi kecintaannya kepada Rasulullah. Cukup, kata dosen promotor sambil mengucapkan terima kasih lalu meneruskan sambutan penutupnya.

Saya yang juga duduk di dalam ruangan sidang itu melayang-layang pikiran, terhanyut oleh puisi tadi. Tiba-tiba ada keharuan yang mendalam bila mengingat bagaimana umat Islam sedunia sangat mencintai nabinya itu. Bagi umat islam, kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan dengan banyak cara, mulai dari sekadar pembacaan shalawat yang berisi pujian kepada Nabi, sampai dengan mengamalkan segala sunnah yang pernah dilakukan olehnya. Ada dasarnya mengapa orang Islam melakukan perbuatan itu. Nabi saw menegaskan dalam sabdanya “Barang siapa menghidupkan sunahku maka sungguh dia telah mencintai aku. Barang siapa mencintai aku maka dia mesti bersamaku di sorga.”

Saya jadi teringat sebuah kisah yang dikutip dari buku “Rindu Rosul”. Kisah itu tentang seorang nenek di Madura yang selalu mengumpulkan daun-daun di halaman masjid sambil bershalawat. Kisahnya begini (seperti dikutip dari buku tersebut):

Kisah Nenek Pengumpul Daun

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur.

Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?

Demikianlah kecintaan umat Islam kepada nabi Muhammad SAW. Dia adalah kekasih Allah SWT. Dia bukanlah Tuhan maka dia tidak patut disembah maupun dipuja, kecintaan kepadanya adalah nomor dua setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Meskipun pada zaman sekarang Rasulullah sering dihina, dilecehkan, dan direndahkan oleh orang-orang yang memang membencinya dalam bentuk hujatan, umpatan, cacian, gambar kartun, dan sebagainya, tetapi semua itu tidaklah mengurangi sedikitpun rasa cinta umat Islam kepada Rasulullah.

Dengarlah shalawat Tarhim yang indah di bawah ini (beserta terjemahannya) betapa umat Islam sangat mencintai beliau, Nabi Muhammad SAW, pemberi syafaat bagi seluruh umat manusia pada Hari Akhir nanti. Shalawat Tarhim selalu diperdengarkan di mesjid-mesjid menjelang adzan Sholat Subuh:

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh
Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari Dialah Yang Maha Melindungi
Engkau memperoleh apa yang kau peroleh sementara semua manusia tidur
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu
dan engkau menjadi imam
Engkau diberangkatkan ke Sitratul Muntaha karena kemulianmu
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu
Duhai yang paling mulia akhlaknya, ya Rasulullah
Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu, pada keluargamu dan sahabatmu.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

13 Balasan ke Dari Sidang Promosi Doktor Hingga Puisi Cinta ke Rasulullah

  1. Yustian Shofiandi berkata:

    jazakumullah.. izin share di social network boleh pak.. tak terasa air mata turun setelah membaca psotingan ini..

  2. yessi berkata:

    jazakumullah tulisannya sangat mengugah pak, tulisan-tulisannya bagus utk dibukukan pak dan di terbitkan bisa ke proumedia pak utk tulisan2 yg menginspirasi dan menggugah🙂

  3. uzzybotak berkata:

    Subhanallah, makasih pak udah di-share. boleh dibagikan di situs jejaring sosial?

  4. jannahtees berkata:

    Subhanallah, saya haru membacanya Pak.

  5. Abdul Rachman berkata:

    Jazakumullahu khair. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang sangat mencintai umatnya dan cara terbaik membuktikan cinta kita kepada Beliau adalah dengan meneladaninya. Terima kasih atas tulisan2 Bapak (saya baru membaca beberapa) dan salam kenal juga.

  6. zaenal abidin berkata:

    Subhanallah, Astagfirulloh ….

  7. subhanallah
    izin copas pas cerita nene maduranya pa .

  8. hj.lilis berkata:

    Segala puji bagi Alloh swt sepenuh langit dan bumi didunia dan akherat.
    Ceritanya sangat mengharukan

  9. Muhammad Bakri berkata:

    Subhanallah, Walhamdulillah, Wa La Ilaha Illallah. Menitik air mata saya membaca tulisan pak Rinaldi. Sekalipun bapak belum pernah menjadi dosen di kuliah saya, saya banyak belajar dari kerendahan hati bapak untuk berbagi lewat tulisan di blog ini. Semoga Allah SWT selalu menjaga bapak dan keluarga. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin.

  10. Jarot berkata:

    Subhanallah pak..betul pak..shalawat, istighfar semakin sering kita lantunkan sambil apapun semakin baik.

  11. alrisblog berkata:

    Mengharukan. Video sholawat tarhim saya download.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s