Pensiun

Tahun ini dan tahun depan beberapa orang rekan senior saya akan memasuki masa purbabakti. Usai sudah tugas mereka di ITB, dan itu berarti siap-siap memasuki kehidupan lain yang tidak biasanya. Bagi sebagian orang, pensiun bisa positif bisa pula negatif. Positif bila siap menerimanya, negatif jika malah menimbulkan beban stres.

Pensiun itu hukum alam sebagaimana dunia yang fana ini. Orang tidak selamanya di atas, dia harus turun suatu saat, digantikan oleh orang lain. Manusia datang dan pergi silih berganti, ada kalanya datang dan suatu saat harus pergi, begitulah hukum alam.

Orang-orang yang tidak siap menerima pensiun mengalami apa yang dinamakan post power syndrome. Biasanya ada kesibukan di kantor, maka kalau sudah pensiun menjadi orang bingung. Biasanya menjadi lakon, sekarang menjadi penonton. Biasanya dihormati oleh bawahan, sekarang menjadi orang biasa. Biasanya dilayani, sekarang menjadi orang terlupakan. Itulah sebabnya bagi orang-orang yang tidak siap menerima kenyataan dia harus purnabakti, maka dia mengalami post power syndrome tersebut.

Atasan – bawahan, pejabat – rakyat, tuan – hamba, dan sebagainya adalah hirarkhi ciptaan manusia saja. Di hadapan Tuhan semua manusia sama saja, yang membedakan adalah amal pahala yang telah diperbuatnya dalam hidup ini. Mau sehebat apapun seseorang di dunia tapi jika amal pahalanya sedikit, siap-siaplah menjadi orang merugi di hari Akhir nanti.

Post power syndrome biasanya dialami oleh orang yang menjadi pejabat publik. Di Indonesia menjadi pejabat adalah sebuah idaman. Fasilitas komplit siap menunggu, mulai dari rumah, mobil, dan sejumlah pelayan. Ada supir yang selalu membukakan pintu dan membawakan tas kerja. Sambil berjalan para bawahan siap menyapa dan memberikan hormat. Enak betul menjadi pejabat itu, segala apa dilayani. Kalau tidak dilayani, mereka akan marah-marah. Ini paradigma yang terbalik di sini. Menjadi pejabat publik artinya menjadi pelayan masyarakat, bukan harus dilayani dan bertindak seperti majikan. Karena menjadi pelayan masyarakat itulah dia digaji tinggi oleh negara.

Menjadi dosen atau guru tidak ada kata pensiun, oleh karena itu tidak ada istilah post power syndrome segala. Purnabakti bukanlah akhir dari kehidupan. Setidaknya kalau sudah memasuki masa pensiun itu maka kegiatan menulis tetap terus berjalan. Menulis buku, paper, esay, atau apa saja, selagi tulisan-tulisan itu masih bisa memberikan manfaat dan pencerahan kepada siapa saja atau memberikan kontribusi positif bagi ilmu pengetahuan.

Seperti mentari yang terus menyinari dunia, begitulah peran orang yang suka menulis. Seingat saya Almarhum Andi Hakim Nasutian, mantan Rektor IPB, setelah memasuki purnabakti masih tetap terus produktif menulis di media massa. Seperti itu pulalah keinginan saya nanti jika kelak memasuki masa purnabakti.

Jika kelak saya pensiun dari ITB nanti, saya akan pulang kampung ke Ranah Minang. Saya akan membeli rumah dan sedikit tanah di tepi danau di daerah yang tenang, sejuk, dan damai. Danau apa sajalah, entah itu danau Singkarak, danau Maninjau, danau Diatas dan danau Dibawah. Di sana saya akan mengisi hari tua dengan berkebun dan menulis, lalu malam harinya melarutkan diri dengan beribadah dan menulis lagi. Sepertinya sangat inspiratif hidup di desa yang jauh dari keramaian kota. Insya Allah.

Tulisan ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Pensiun

  1. Ipam berkata:

    Dosen IF kah yg akan pensiun pak ? smoga tetap ilmunya bermanfaat ya pak, setuju meski purnabakti bukan berarti berhenti berkarya.

  2. rosa berkata:

    Wah, IF akan kehilangan orang orang keren……….

  3. rosa berkata:

    Saya di masa tua juga pengen tenang Pak, ternak atau bertani :). Kayaknya enak sambil minum minuman hangat memandang pemandangan yang sejuk di sore hari sambil makan pisang goreng :D.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s