Cerita Liburan Dibuang Sayang (1): Bali dari Sisi yang Lain

Liburan sekolah bulan Juli yang lalu saya membawa keluarga liburan ke Pulau Bali. Tiket promo Air Asia yang saya beli setahun sebelumnya benar-benar murah untuk harga musim liburan. Bayangkan, saya hanya membeli tiket pesawat dengan harga 290 ribu dari Bandung ke Denpasar, padahal harga normal sudah 600 ribuan, apalagi kalau musim liburan (peak season), tentu lebih mahal lagi.

Sedikit catatan tentang Air Asia ini, meskipun digaungkan sebagai pesawat low cost, ternyata tidak benar-benar murah juga. Mendapatkan nomor kursi saja harus bayar. Barang bagasi juga tidak gratis, 15 kg pertama bayar 75 ribu, di atas 15 kg lebih mahal lagi. Kalau mau lebih murah, beli vucer bagasi ini di kantor penjualan tiket, sebab kalau bayar bagasi di bandara harganya jauh lebih mahal. Jadi, kalau dihitung-hitung harga tiket Air Asia ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan maskapai lain yang menggratiskan bagasi sampai 20 kg dan memilih kursi tidak dikenakan biaya.

Pulau Bali, semua orang sudah tahu hal itu. Pantai Kuta, Legian, Sanur, Tanah Lot, Kintamani, dan sebagainya adalah ikon Bali. Tidak ada yang baru di pulau ini. Saya sudah beberapa kali ke Bali, tetapi anak-anak belum. Hotel di kawasan Kuta ratusan jumlahnya, mulai dari yang super murah hingga yang mahal minta ampun. Berada di kawasan Kuta seakan-akan kita tidak berada di Indonesia saja, karena orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, yang duduk-duduk di pinggir jalan, di rumah makan, dan sebagainya adalah orang bule dan orang asing lainnya. Suasana di Kuta sangat internasional.

Kami menginap di kawasan Tuban, Kuta. Pantai Kuta sekarang tidak sebagus dulu. Kotor dan ancaman abrasi yang mengikis pantai. Sore hari saya membawa anak berenang di Pantai Kuta. Menjelang Maghrib ketika selesai berenang — masih di pantai Kuta — saya merasakan pengalaman yang mengharukan. Dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara shalawat tarhim dari masjid yang entah dimana letaknya. Suaranya hilang timbul ditiup angin. Tidak lama kemudian terdengar kumandang adzan Maghrib. Tentu saja saya merasa ada keharuan mendengar shalawat tarhim dan suara adzan di sini. Ini di Pulau Bali, pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Di daerah Kuta lagi, daerah tujuan turis internasional. Ternyata Islam hadir di sini. Ada sebuah masjid di kawasan Kuta yang selalu setia melantunkan adzan dan shalawat itu.

Tentu saja saya merasa surprise mendengar suara adzan di Kuta. Saya bertambah surprise lagi ketika pada Hari Minggu pagi suara lonceng gereja berdentang keras dari sebuah gereja Katolik untuk mengingatkan jemaatnya untuk siap-siap ke gereja. Dentang lonceng itu berbunyi cukup lama, ada kira-kira lima menit lamanya. Suaranya terdengar sampai ke hotel tempat saya menginap. Sore hari lonceng itu berdentang kembali. Di Manado sendiri, kota yang mayoritas beragama Kristen, tidak pernah saya mendengar suara lonceng gereja sekeras itu. Tetapi di Kuta, semuanya bisa hidup berdampingan dengan damai. Suara adzan, lonceng gereja, gamelan Bali, adalah warna-warni lain kehidupan di Kuta yang tidak pernah sepi siang dan malam.

Berkunjung ke Kuta tentu hal yang biasa. Kuta sudah menjadi tujuan utama wisatawan ke Bali. Selama dua hari di Bali saya menyewa mobil travel yang bisa mengantarkan kami kemana-mana seperti ke Pura Tanah Lot atau belanja o
leh-oleh di toko Krisna,

Satu lagi tempat yang sangat menarik yang belum pernah saya kunjungi adalah pantai Benoa. Pantai Benoa lebih bagus dari pantai Kuta. Pasirnya putih bersih, tapi ombaknya tidak sebesar di Kuta. Di sini anginnya kencang sehingga ada fasilitas paralayang yang ditarik perahu spead boat selain banana boat tentunya. Di dekat pantai ini ada Pulau Penyu. Untuk mencapai pulau Penyu ada perahu spead boat yang dapat disewa dengan tarif Rp100 ribu per orang (mahal ya). Perahu ini membawa kami berkeliling-keliling laut di sekitar pantai sebelum akhirnya mendarat di Pulau Penyu.

Pulau Penyu, begitu namanya, adalah tempat penangkaran penyu langka. Penyu-penyu itu ditangkar di dalam sebuah pondok yang di tengahnya diisi air laut. Wuah, penyunya besar-besar lho, sepertinya sudah berusia puluhan tahun. Selain penyu di pulau ini ada penangkaran ular phyton dan burung kakatua. Anak saya tidak takut dilingkar ular phyton ini, tentu saja mulut ular sudah diikat supaya tidak mematuk.

Bagaimanapun Bali tetap tujuan wisata favorit, namun Bali tidak hanya Kuta. Ada sisi lain Pulau Bali yang belum banyak diketahui. Suatu saat saya ingin melihat sisi-sisi Pulau Bali yang menarik untuk ditulis.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Cerita Liburan Dibuang Sayang (1): Bali dari Sisi yang Lain

  1. otidh berkata:

    Setuju pak, banyak wisata menarik di Bali selain pantai Kuta. Banyak tempat yang ingin kami kunjungi sebenarnya waktu ke Bali tahun lalu. Tapi apa daya, uang tidak mencukupi untuk menjelajahi semuanya, hehehe. Sayang juga waktu itu saya dan teman-teman tidak mampir ke pulau penyu.

  2. siska berkata:

    baguss bange
    tttt

  3. Ilham Zainul berkata:

    Amazing …….. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s